Yang Lain

Yang Lain
Sosok Baru


__ADS_3

Ini sudah ke 6 harinya aku berjalan kaki dari Errevi dan belum menemukan perkampungan, terlebih sungai Rinn yang begitu luas mengganggu perjalananku.


Seingatku belum pernah ku sebrangi sungai ini, dan waktu kabur dari penjara Eiji pun kami teleportasi untuk melewatinya.


Aku tidak mengira sungainya selebar ini. Jika jarak sanji dan Eiji bisa ditempuh kurang dari 1 jam dengan kereta tercepat di Ambridge. Itu berarti lebar sungai ini sekitar kurang lebih 200 km.


Mengerikan..


Aina, kemampuan teleportasimu ku akui..


Satu - satunya jembatan juga terdapat di sebelah utara Errevi, itu merupakan lebar tersempit sungai Rinn.


Meskipun begitu tetap saja jembatannya terlalu panjang untuk dilewati dengan berjalan kaki, seingatku di Duniaku dulu juga tidak ada jembatan sepanjang 100 kilo meter. Gilanya Eiji, hampir seluruh sungai Rinn di caplok dalam kedaulatannya.


Yang lebih penting, bagaimana caranya agar aku sampai dengan cepat di perbatasan Zeinzi.


Negara dengan berbagai jenis ras terkecuali Manusia, benar - benar kebalikan dari Eiji. Aku yakin kedua negara ini saling bermusuhan.


[MATAHARI TERBENAM]


Kurasa tempat ini cocok untuk bermalam, terlebih ada sungai kecil yang sepertinya terhubung dengan sungai Rinn.


Wih.. Ikan...


Sungai ini juga diberkahi ikan yang layak untuk ku makan, namun cenderung ikan tersebut susah di tangkap.. Sial..


Aku hanya berhasil menangkap tiga ekor saja..


Meski begitu, ikan ini begitu enak dan segar..


(Tolong - Tolong)


Apa itu? Manusia?


Meminta pertolongan..


(TOLONG)


Ah aku ternyata tidak salah dengar..


Kupikir suaranya berasal dari barat daya, akupun bergegas menghampirinya. Terlihat dari kejauhan seorang gadis yang terbaring ditanah dengan luka yang membuatnya tidak bisa berdiri.


(SIAPA SAJA.. KUMOHON.)


Tidak banyak waktu lagi, diterkam monster apalah itu, bentuknya seperti ayam namun kepalanya lebih mirip harimau.


Aku segera bergegas menebasnya dengan senjataku, kepalanyapun terlepas dari lehernya memancurkan darah.


BURRSHH


(Kya..)

__ADS_1


"(Membuka Kupluk) Kau aman sekarang"


"(HOSH..) Terima kasih banyak Tuan... Eh.. Kyaa.. Manusia, Apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak punya apa apa. Bunuh saja aku daripada harus menjadi budakmu" ujarnya..


Ia sepertinya lebih takut padaku daripada monster itu, tubuhnya begitu kecil dan rapuh.


"Tenanglah.. Aku tidak seperti yang kau pikirkan, aku hanya seorang pengembara"


Ia begitu takut kepadaku seolah aku akan memakannya..


"Seorang manusia tetaplah manusia, bunuh saja aku daripada harus menjadi budamu, [Ibu maaf, aku belum membawakan obat untukmu]" ujarnya.


"Oy tenanglah.. Kau kira aku ini apa? Dan kupikir ada cara yang lebih indah untuk berterima kasih!!"


"Terima kasih? Untuk apa aku berterima kasih kepada orang yang akan membunuhku?" bentaknya.


Telinga kucing!!


"Woy bodoh.. Sebenarnya apa yang kau pikirkan dari tadi? Kau membual seolah aku akan membunuhmu, dan kau sendiri yang minta untuk kubunuh.. Sayangnya aku bukan tempat yang bagus untuk bunuh diri. Lagipula aku sendiri yang menyelamatkan nyawamu. aku tidak berharap terima kasihmu, aku juga tidak meminta bayaran apa - apa darimu"


"Maksudmu, kau tidak akan membunuhku? Kau melepaskanku?"


"HOSH.. (Duduk) Aku hanya butuh informasi. Tempat kita berdiri disini, dimana aku sebenarnya berada?"


"Kau belum menjawab pertanyaanku untuk melepaskanku.." ujarnya.


KRUUUWUKKK..


"Sebelum itu, sepertinya cacing diperutmu akan melahapmu. Akan kubuat makan malam untukmu"


"Kau bisa berjalan? Biar ku gendong"


"Eh.. Apa yang kau lakukan.. Aku tidak.." bentaknya.


Aku berjalan menggendong tubuh rapuh nan ringannya.


"Ada beberapa ikan yang enak di sungai sana"


"Kau tidak mendengarkanku" ujarnya.


"Aku mendapatkan beberapa ikan di sungai, ini tidak akan membuatmu kenyang, tapi ini akan mengurangi laparmu"


"Kau pikir akan ku terima.." ujarnya.


Tetapi ia terlihat menginginkannya..


"Sudahlah makan saja.."


Ia makan dengan lahap sekali..


"Dengar ya.. Aku tidak akan berterima kasih padamu" ujarnya.

__ADS_1


"Sudah habis.. Masih lapar? Biar ku tangkapkan lagi"


"Hei.. Bila kau tinggalkan aku kemungkinan aku akan kabur loh" ujarnya.


"Airnya begitu dingin sampai ke tulang loh, ku yakin kau juga ingin berenang"


Ah berhasil kutangkap.. Ku lempar saja ke darat..


Lagian bagaimana caramu kabur dengan luka di kakimu yang cukup berat.


Ternyata lebih mudah menangkap ikan di jam segini..


Aku naik dari sungai dan memakai pakaianku kembali. Kayu bakarnya sepertinya masih cukup untuk ku bakar semua.


"Sepertinya delapan ekor sudah cukup untuk menahan lapar selama setengah hari, atau mungkin lebih"


"Kau bisa menggunakan sihir juga!!" Ujarnya.


"Ya. Aku belajar sedikit dari temanku. Hei apa nama ikan ikan ini?"


"Ikan yang sedang kau pegang adalah ikan Kropus sementara yang lainnya adalah ikan Furi yang kebanyakan dijual dipasar" ujarnya.


"Sudah matang.."


"Kau tidak mendengarkanku, lain kali jangan bertanya" ujarnya.


"Kau mau?"


"Kau sendiri yang menangkapnya, jadi makanlah" ujarnya.


"Begitukah?.. Padahal masih hangat, ya sudahlah biar ku habiskan"


Padahal dari mukanya kelihatan banget, dia menginginkan ikan ini.


NYAM NYAM NYAM..


"Ujung - ujungnya kau yang banyak memakannya"


"Itu karena kau sendiri yang memaksaku" ujarnya


"Aku tidak ingat kapan aku memaksamu"


Tapi sepertinya ia telah nyaman bersamaku..


"Kalau kau Ngantuk tidurlah, aku akan menjaga sekelilingmu"


"Kaulah ancamanku" ujarnya.


"sudahlah tidur"


Ia akhirnya tertidur dengan kepala berada di atas tasku, karena sekarang sepertinya sudah hampir tengah malam.

__ADS_1


Ia begitu takut dengan manusia, seolah manusia lebih menyeramkan daripada monster kemarin. Lagipula anak ini juga manusia, hanya saja ia memiliki ekor dan telinga kucing.


Kami belum bertukar informasi sedikitpun.


__ADS_2