
Seminggu sejak aku mengabdi kepada keluarga itu, Keluarga tersebut merupakan salah satu Milyarder di kota ini. Mereka mempunyai 3 orang anak, Yang kemarin menabrak ayahku adalah anak kedua mereka. Ia memang anak yang keras kepala, susah diatur.
Berbeda dengan ayahnya yang bijaksana dan berduit. Sebenarnya orang - orang kaya tidak akan sombong, jika kekayaannya hasil sendiri. Berbeda jika kekayaannya hasil orangtuanya sendiri atau suaminya.
Biar ku perkenalkan mereka, Ayahnya bernama Edbert Drake, sungguh nama yang gagah baginya saat ini dan sepertinya ia berusia 46 tahunan.
Istrinya bernama Sarah Drake ia terlihat lebih muda daeipada suaminya, ia yang mendukung anak kedua bernama Edric Drake untuk menuntutku.
Ada juga Kakak sulungnya yang mirip seperti sang Ayah, ia bernama John Fane Drake, ia kerap dipanggil Fane karena keramahannya. Ia baru saja lulus dari jenjang kuliah.
Satu lagi yang paling bungsu, ia bernama Jackie Drike. Ia merupakan anak yang tenang, dan pengurung diri. Jackie baru duduk di kelas 2 smp, ia tidak begitu peduli dengan harta. Semua anaknya lelaki dan, yang benar saja mereka hidup sendiri sendiri.
Ternyata mereka tidak seburuk itu, aku sudah dianggap seperti keluarga. Terkecuali bagi kak edric dan ibunya, yang terlihat sangat amat membenciku.
Aku sudah mulai terbiasa disini kasur empuk dan kamar yang nyaman padahal, ini hanya fasilitas untuk sekelas pembantu. Tapi Rumahnya yang begitu luas dan megah ini aku bahkan salah mengira saat pertama kali masuk.
Rumah ini mempunyai lift si setiap lantainya, dan memiliki banyak sekali maid yang canti - cantik. Sepertinya para maid itu berasal dari Benua Timur.
Rumah ini juga mempunyai halaman di dalam rumah dan kolam renang yang begitu luas, entah berapa pajak bumi rumah seluas ini.
__ADS_1
Disini aku sedikit dekat dengan Jackie karena dia tidak peduli denganku yang seperti ini, dia hanya suka membaca komik sama sepertiku. Kami bertukar pikiran seputar komik yang sama sama kami gemari.
Akupun sering diajak ke kamarnya melihat koleski komik yang pernah dia baca, ia selalu menghabiskan waktunya seharian di kamar.
Ibunya pernah melarang Jackie untuk dekat denganku, tetapi Jackie cuek dan yang benar saja mereka benar hidup dengan caranya masing masing.
Pekerjaanku disini hanya untuk membersihkan halaman dalam rumah saja. Aku merasa malah jadi numpang disini, pekerjaannya terlalu ringan untuk sekelas mengabdi. Ditambah halaman tersebut selalu bersih setiap harinya, terkadang Edric membawa temannya berkumpul disini dan mengotorinya si.
Terkadang aku disuruh - suruh mereka, tepatnya oleh dua orang tadi. Terkadang juga aku menghidangkan makanan.
Paman Edbert (aku biasa memanggilnya paman)juga tidak peduli dengan tuntutan anaknya, Ia malah membiayai keluargaku tanpa sepengetahuan istri dan anaknya. Ia juga meminta maaf atas kelakuan anaknya dan juga istrinya.
Ah sebulan sejak aku tinggal disini, aku dalam persiapan ujian kenaikan kelas. Tahun depan aku akan menginjak kelas 2 sma, hari ini aku lebih semangat dari biasanya.
Pagi harinya aku banyak disuruh - suruh, seperti ke supermarket, kesana dan kesini sehingga aku terlambat masuk sekolah. Tetapi semangatku tidak turun karena itu hanya saja, tetapi sayangnya gerbangnya ditutup rapat.
Aku berusaha untuk berbicara dengan penjaga, tetapi ja tidak mau mendengarkanku. Aku memutuskan untuk memanjat dinding apapun caranya aku harus bisa masuk. Akhirnya aku bisa masuk melewati dinding di belakang sekolah, sedikit sulit karena banyak orang mondar mandir terjaga dimana mana.
Tetapi tidak semulus itu, aku tidak diizinkan mengikuti ulangan untuk hari ini. Aku disuruh pulang dan mata pelajaran hari ini menjadi ujian susulan di minggu depan.
__ADS_1
Akupun pulang tanpa membuahkan hasil apapun, aku memutuskan untuk pergi ke rumah ibuku mumpung waktu masih luang.
Jalanan hari ini padat seperti biasa, orang orang terlihat buru buru entah mau kemana dan mau apa. Setiap harinya ada aja terjadi kecelakaan lalu lintas, polisi disini benar benar preman bagi orang pinggiran.
Sesampainya dirumah aku disambut hangat oleh ibuku, memang tidak sopan si jika aku masih tidak memberi tahunya. Yang benar saja aku belum memperkenalkan keluargaku.
Mumpung semuanya ada dirumah, biar kuperkenalkan mereka. Tapi itu terlalu banyak biar ku mulai dari Ayahku dulu.. Heehh Ayah kan sudah.. Entah kenapa aku malah menangis, aku baru menyadari telah kehilangan sesuatu yang berharga.
Padahal dihari kematiannya saja aku tidak menangis, lah ini kenapa.. Ibuku bertanya - tanya padaku apa yang terjadi, ia mengira aku gagal ujian dan dikeluarkan sebelum ujian berakhir.
Aku tidak menjawab dengan "Aku hanya rindu sosoknya sebab itu aku mampir" ibuku memelukku dan ia berusaha untuk tegar tapi tetap saja menangis. Bagaimana tidak, Ayah dan kakaku dimakamkan jauh di sebelah barat Leone, artinya itu jau di luar Ambridge sedang kota ini berada di ujung timur.
Hari telah kunjung senja, akupun memutuskan untuk pulang ke rumah paman Edbert. Awalnya ibu menahanku untuk kesana tetapi setelah ku yakinyan, ibu melepasku dengan doanya.
Di jalan pulang aku kembali merasa diikuti, bukannya takut aku malah masuk ke gang sepi agar orang itu keluar. Kali ini aku benar benar penasaran dengan sosok pemguntit itu, kali ini aku mendengar suara langkahkakinya yang lembut bagaikan langkai wanita.
Akupun bersembunyi di balik tong sampah besar berniat memergokinya, tapi lagi lagi orang itu tidak muncul. Aku merasa bosan Setelah sekian lama aku menunggu, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku.
Ketika aku terbangun dari jongkokku dan menoleh kebelakang, sesosok wanita mengagetkabku. Ia tak lain gadis yang pernah minta makan dirumahku. Baju yang dipakainya masih sama ketika aku menemukannya.
__ADS_1
Kali ini dia bicara, suaranya begitu kecil dan dia berkata bahwa dia telah menjagaku. Aku tidak mengerti ucapannya tapi aku heran siapa sosok yang menguntiku. Dan aku... Ehh.. Apa lagi yang ku cari? Sosok itu sudah didepanku. Ehh..