
Dua minggu sejak aku bersama dengan para elf hiribia disini. Banyak hal yang telah terjadi disini, semuanya masih bersiap - siap untuk melakukan penyerangan balik seperti yang Om Keisha katakan..
..Aa..
Keisha atau Yasha? Kurasa Keisha terlalu muda jika dijadikan namanya untuk saat ini.
Om Yasha juga bilang kalau aku mempunyai bakat yang harus ku kembangkan, tapi setelah seminggu aku sama sekali tidak bisa menggunakan sihir apapun.
Meskipun aku bisa membaca biografi Rie, kurasa itu tidak berguna..
Hush..
Disini tetap terlihat indah berapa kalipun kupandang..
Terdengar suara langkah kaki..
"AEREL.. ah ternyata kau tidak terkejut" ujar Aina.
Ia berniat mengagetkanku..
"Apa yang kau lihat?" tanya Aina.
"Ah tidak.. Hanya saja aku sedikit kagum dengan Ayahmu"
"Kagum? Ayahku memang sosok yang bijaksana, namun bagiku terkadang sosok kekanak - kanakannya muncul saat ia mengingat Amerin" Ujar Aina.
"Sepertinya Amerin telah kalah telak dari Ibumu"
"Tidak, bukan begitu. Amerin adalah sosok yang Ayah temui sewaktu kecil, Ibuku sudah bersamanya sebelum itu" ujar Aina.
"Maksudmu, Ayahmu menikahi Ibumu dibawah umur?"
"Tidak begitu juga. Mereka sudah berteman sedari kecil, bahkan ketika Amerin datang mereka tetap berteman. Namun entah kenapa ceritanya Amerin hilang begitu saja, waktu itu Ayahku masih muda sekitar 45tahunan" Ujar Aina.
"45 tahun kau bilang muda. Ayahku bahkan mulai muncul Uban di usianya itu"
"Heh, memang benar begitu kan" Ujar Aina.
"Kalau begitu berapa usiamu?"
"Aku baru menginjak 52 tahun, hei tunggu itu tidak sopan" Ambek Aina.
"hehe, kenapa harus malu. Tapi kau tua banget ternyata"
"Aku tidak peduli jika ucapan itu keluar dari mulut mu" Ujar Aina.
"Maaf, tapi memang benar ternyata Ras Elf berumur panjang"
"Ya begitulah, tapi itu tidak semuanya berisi kebahagiaan" Ujar Aina.
"Hei, lalu bagaimana dengan Ayahmu di duniamu?" tanya Aina.
"Ayah?"
Masih terasa sesak tapi aku mencoba untuk tegar, itu luka keluarga kami..
"Aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi"
"aaa,, Maaf aku tidak bermaksud demikian, Hei bagaimana kalau kita coba ke bawah sana?" ujar Aina.
"Boleh, sebenarnya sudah lama sekali aku penasaran dengan itu".
"Ya, sekalian mencoba ilmu sihir yang kuajarkan padamu" ujar Aina.
"Eh, bukankah kau tahu kalau ajaranmu sama sekali tidak membekas"
"Kau salahkan aku? Tapi hei, siapa tahu saja kau mendapat mukjijat di bawah sana" ujar Aina.
"Kenapa tidak"
Akupun pergi menuju hutan tersebut..
Jalannya begitu curam..
Dan ternyata dibawah pohonnya tidak terlalu tinggi seperti di Sanji.
Uwaa...
Air terjun itu terlihat luar biasa dari sini..
"Aku tidak sia - sia pergi kesini" ujar Aina.
Kurasa dia begitu menikmati pemandangannya juga..
__ADS_1
"Kau tau, ini pertama kalinya aku melihat ini, di duniaku aku terlalu sibuk dengan masalah yang selalu menimpaku setiap hari"
"Lupakan masalahmu dan lihatlah sekelilingmu, kapanlagi kau bisa menikmati ini" ujar Aina.
"Ya, kau benar"
"Ah apa itu?" tanya Aina.
Terlihat cahaya berkilauan di balik Air terjun tersebut..
Um, sepertinya ada sebuah terowongan di baliknya.
"Yuk, kita lihat" ajak Aina.
"Mungkin itu monster"
"Aku ada didekatmu" ujar Aina.
Kami pun bemenyisirinya dan sedikit berenang untuk sampai disana.
Aku tidak begitu yakin dengan ini tapi, itu terlihat menyeramkan meski berapa kali pun dilihat..
Itu terlihat seperti tanaman yang bisa melahap apa saja..
"Berhati - hatilah" ujar Aina.
"Aku belum pernah melihat yang seperti ini seumur hidupku, tapi sepertinya ia lebih kuat daripada kelihatannya" imbuhnya.
"Kita harus bagaimana?"
"Kau menjauhlah, aku akan melawannya" ujar Aina.
"Kau bercanda? Kakimu belum lama ini sembuh dan kau akan bertarung lagi. Sebaiknya kita lari dari sini"
"Kau lihatlah sekelilingmu, kita tidak akan bisa pulang jika kita tidak membunuhnya" ujar Aina.
Terlihat duri - duri tajam bermunculan disekitar..
Tidak ada cara lain lagi..
Monster itu mulai menyerang..
Aina bertarung sementara aku melihatnya, inginnya aku membantunya. Tapi ia hanya akan terbebani jika aku didekatnya.
Terlebih ia begitu kuat..
Berbagai macam jurus Aina keluarkan..
Ah tidak, kaki Aina Terjerat akar tanaman tersebut..
Sepertinya ia begitu kesulitan..
Aku berniat membantunya..
"JANGAN KESINI, tetaplah di posisimu" teriak Aina.
Mana bisa aku diam saja melihatnya, bisa - bisa Aina dilahap tanaman itu.
Dan..
Ah apa itu..
Aina menangis..
Siapa yang tega membuatnya menangis..
Entah kenapa tubuhku terasa lemas..
Inginnya aku bertanya apa yang terjadi, tetapi aku tidak punya tenaga untuk itu.
Aku akan tidur sejenak..
Zzzz
Apa itu?
Ah itu Aina..
Ia masih menangis?
Dia juga berlumuran darah, apa yang telah terjadi padanya?
"Syukurlah kau sadar" ujar Aina.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
"Bodoh, sudah ku bilang untuk tidak mendekatiku" bentak Aina.
Sepertinya aku yang memvuatnya menangis..
"Kau marah? Padahal aku baru saja bangun"
Aku bangun dan duduk disebelah Aina.
"Tapi syukurlah kau baik - baik saja" ujar Aina.
"Sudahlah aku baik - baik saja, jadi berhentilah menangis. Lagipula aku masih mempunyai keinginan besar yang harus ku lakukan, jadi aku tidak akan mati hanya karena itu"
"Siapa bilang aku menangisimu, itu sama sekali tidak berguna" Aina ngambek.
"Benarkah begitu? Tapi aku benar - benar berterima kasih. Ini pertama kalinya ada seseorang yang menangisiku"
"Heh, apaan coba. Sudah kubilang menangisimu tidak berguna sama sekali" Aina merajuk.
"eh.. Hei apa itu? Ah sebuah pedang ternyata, ini begitu ringan ditanganku"
"ah itu tiba - tiba muncul ketika monster itu hsncur, kurasa itu sangat cocok denganmu" ujar Aina.
"Benarkah?"
Aku berdiri dan mencobanya..
"Lagian kaulah yang membunuhnya" ujar Aina.
"Kau bercanda, bagaimana mungkin aku yang membunuhnya"
"Uwaa"
Aku tidak sengaja mengenai batu di depanku dan batu tersebut dengan mudahnya terbelah..
Aina menghampiriku..
"Luar biasa, Aerel bagaimana bisa?" tanya Aina.
"Entahlah, kurasa bakatku mulai keluar"
"Sihir apa yang kau gunakan? Tidak, tapi kau tidak bisa memakai sihir. Itu berarti pedang tersebut yang begitu kuat, biar kucoba" tanya Aina.
"Boleh"
"Urgh.. Berat sekali, kau sebut ini ringan? Padahal pedangnya begitu tipis dan ramping kenapa bobotnya seberat ini." ujar Aina.
"Aku serius, pedang itu bahkan lebih ringan dari sebuah golok"
"Ah biar kucoba membelah sesuatu" ujar Aina.
"(Shhh) heh.. Kenapa? Kayu saja tidak terbelah" ujar Aina.
"Mungkin cara pegangmu salah"
"Tidak ada cara pegang khusus untuk sebuah pedang, tapi ini? Kurasa pedang ini memang terbuat untukmu" ungkap Aina.
"Padahal pedang seringan ini kau sebut berat"
Aina berjalan dan kembali duduk di bawah pohon yang menghadap Air terjun tersebut.
"Dunia ternyata masih banyak misteri" ujar Aina.
Aku menghampirinya.
"Hei, itu kata - kataku"
"kau juga penuh misteri" ujar Aina.
"Maksudmu"
"Sebaiknya kita keluar dulu dari hutan ini sebelum ada monster lain menghampiri kita" Aina tergesa - gesa.
"Itu kesempatan yang bagus untuk aku mencoba senjata ini"
"Sebaiknya kita menemui ayahku" ujar Aina.
"Oy tunggu, aku baru saja sembuh"
Aku berlari mengejar Aina.
Akhirnya kami keluar dari hutan tersebut.
__ADS_1