
Sepulang sekolah ditengah hujan sedang mengguyur, aku mencari tempat untuk menepi. Aku tidak mengira cuaca panas akan tiba tiba turun hujan, itu sebabnya aku tidak membawa payung.
Ah menjengkelkan.
Setelah hujang sedikit reda, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Aku berjalan melalui gang sembari menepi. Tiba tiba aku melihat seseorang dengan jubah hitam, dia sedang duduk menundukkan kepalanya. Akupun menghampirinya, lalu dia menaikkan kepalanya dan berkata "Ingin Makan" Seorang gadis ah tidak tidak, usianya sekitar 15 tahunan sendirian ditengah hujan seperti ini, ditambah dia bilang "Ingin Makan" apakah dia tidak mempunyai keluarga.
Tidak tidak, itu tidak penting, lebih baik aku meninggalkannya daripada terlibat masalah.
Inginnya si gitu.
Ah dengan terpaksa aku membawanya kerumah, aku tidak tega jika seseorang mengalami kelaparan, udah gitu gadis imut.
Ah tidak tidak tidak. Aku tidak mau ditangkap FBI hanya karena itu, ibuku tidak akan bangga untuk itu. Pokoknya setelah dia makan aku akan menyuruhnya pulang.
Aku menghidangkan makanan untuknya, dia makan begitu lahap. Sepertinya dia sudah beberapa hari tidak makan. Tetapi dia tidak bicara sedikitpun dari tadi, bahkan ketika kutanya 'apa yang ingin kau makan' .
...Hehhh... ...
Aku tidak menyadarinya, jubah yang dipakainya kini terlihat kering. Ehhh, jelas - jelas tadi dia begitu basah kuyup, rambutnyapun sekarang begitu rapih menawan.
Ah.. Aku tidak peduli, dengan begitu aku bisa menyuruhnya pulang tanpa memikirkan baju ganti untuknya.
Selepas makan aku pun menyuruhnya pulang, entah apa yang dipikirkannya tetapi dia langsung keluar begitu saja. Hari sudah malam dan aku??
Ah tidak, aku lupa pekerjaanku.
__ADS_1
Aku terbangun kembali diesok harinya dengan suara alarm yang menggelegar. Aku pun memulai hari membosankanku seperti biasa, aku berangkat kesekolah.
Seketika aku membuka pintu, aku melihat gadis semalam tidur di depan pintu kosan ku. Aku tidak menduga dia tidak pulang sama sekali, aku seperti telah berbuat dosa padanya.
Ah tidak tidak, itu bukan salahku sama sekali.
Akupun membangunkannya. Ia terbangun dan aku bertanya, 'kenapa kau tidak pulang?. Ia tidak berkata apa apa. Lalu aku memutuskan untuk berangkat, dan meninggalkannya. Aku tidak begitu memikirkannya.
Sewaktu istirahat, seperti biasa aku makan di atap sendirian dengan melihat semua yang ada, terlihat banyak orang sedang bermain kasti.
Sungguh hidup yang menyenangkan, berteman bermain bersama dan melakukan banyak hal bersama - sama.
Sebenarnya itu yang aku inginkan untuk saat ini, tetapi aku mensyukuri hidupku yang sekarang juga.
Sepulang sekolah, aku sadar sedang diawasi seseorang, akupun mempercepat langkahku. Sehinggga sampai di rumah.
Omong omong, aku bekerja sambilan disebuah pabrik yang hanya menghiasi tutup botol. Memang bukan pekerjaan dengan upah yang besar, tetapi cukup untukku melanjutkan hidup. Kebetulan gambarku diberi nilai sempurna bagi mereka.
Tapi itu tidak berjalan mulus, aku dipecat hanya karena kemaren aku tidak datang tanpa memberi kabar apa - apa.
Akupun pulang ke rumah, dan lagi - lagi aku merasa diawasi. Aku masuk ke gang sempit berniat menunggunya, tapi orang itu ternyata tak kunjung muncul. Aku memutuskan untuk masuk ke kafe, dengan harapan, orang itu pergi karena bosan menungguku.
Niatnya si gitu.
Aku malah diliatin orang karena duduk sendiri. Akupun keluar, dan berjalan dengan santai. Pikiranku sedikit lebih tenang karena sepertinya orang itu sudah pergi.
Aku tidak tau siapa orang yang terus menguntitku hampir setiap hari. Padahal Aku tidak punya apa - apa, tapi apa yang mereka incar ya?, ah terserah lah.
__ADS_1
Aku bermaksud untuk mencari pekerjaan lain, dan membeli sepeda, untuk mencegahku telat dilain hari. Tapi tidak terasa hari sudah kunjung senja, akupun memutuskan untuk pulang.
Sesampainya dirumah, ibuku datang untuk menjemputku. Akupun pergi ke rumah ibuku bersamanya. Tentu saja ia datang bukan hanya untuk itu. Ia memberi kabar duka, yang seakan - akan aku ingin menghajar pemerintah Ambridge.
Ayahku kehilangan nyawanya ketika sedang menyebarangi jalan dengan sepedanya.
Aku tidak mengerti lagi dengan kota ini, kali ini keluargaku malah berada diposisi bersalah. Keluargaku disuruh ganti rugi mobil yang penyok, dan ayahku dimakamkan jauh diluar kota ini.
Waktu itu keluarga kami menangis karena kehilangan ayah, dan tidak tau harus ganti rugi dengan apa. Entah hukum apa yang ditanamkan di Ambridge.
Aku bermaksud untuk menenangkan orang tuaku dan kubilang bahwa aku akan menjadi pemimpin kota ini dan membuat kedudukan sama rata.
Saudara - saudaraku malah menganggap aku bercanda, beberapa dari mereka marah, tetapi tidak dengan ibuku. Ia mendukungku begitu tulus.
Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu. Mereka adalah preman (Disini Polisi dipanggil demikian). Mereka datang berenam dan meminta kami untuk secepatnya membayar hutang tersebut.
Kakakku yang sulung maju dan menghajarnya. Ia bilang bahwa waktunya tidak tepat. Lantas polisi itu malah melawannya balik. Terjadi sedikit keributan disini. Pada akhirnya kakakku yang paling sulung. Terkena tembak mati.
Masalah datang bertubi - tubi, begitu berat untuk kami. Mereka tetap menagih ganti runginya senilai 2jt dolar.
Ibuku pingsan, dan aku memutuskan untuk mengabdikan diri, pada mereka demi membayar utang tersebut. Untuk pertama kalinya aku menangisi nasibku. Ambridge sudah benar - benar hancur, disini nyawa sudah tidak ada harganya.
Jalanku seperti buntu, tetapi aku tetap melanjutkan sekolahku.
Aku berjanji akan menjadi pemimpin kota ini, aku tidak akan membiarkan kejadian sepertiku tertimpa orang lain. Aku akan cabut hak istimewa kota ini yang tidak berguna.
Aku akan membuat dimana semua orang bebas berpendapat. Dipandang sama derajat. Ku yakin semuanya berharap demikian, tapi apakah seperti ini, sesuatu yang diinginkan para milyarder itu.
__ADS_1
Kurasa tidak harus demikian.