Yang Lain

Yang Lain
Pembangunan


__ADS_3

Keadaan tenang seperti ini yang membuatku lebih menyukai dunia ini, seperti biasa aku selalu mendekati dimana air mengalir.


Menariknya lagi, ternyata aku benar - benar bisa menggunakan sihir teleportasi. Sihir yang sangat berguna bagi kehidupan di dunia yang serba jauh ini.


Berarti sekarang aku bisa menemui Aina bukan? Akan ku coba, kenapa tidak ku coba dari dulu ya padahal sesimpel itu.


Dengan menagdalkan ingatanku yang samar - samar 'berpindahlah' ke Errevi.


Woww.. Lingkaran cahayanya muncul meskipun aku hanya merapal mantra aneh. Eh,, biasanya juga gak pake mantra bukan.


Wooww..


...SSSHHH...


Eh..


("KYAAA")


Ehhhhh...... MAAAFFFF.......


..JEPLAK..


Aku nyasar ke tempat angker, terlebih disana terdapat makhluk yang dapat membunuhku kapan saja.


...****************...


"Jadi, apa alasanmu mengintipku? dasar mesum" tanya Aina dengan judes.


"Sudah kukatakan bukan, aku belum melihat sama sekali"


"BELUM.." Teriak Aina.


"Bodoh.. (JEPLAK)" tampar Aina.


"Awww.."


"Bodoh.. (JEPLAK2X)" tamparnya lagi.


"Aww.."


"Bodoh.. (3X)" tamparnya lagi.


"Otak Mesum (4X)" tampar lagi.


(5X)


"Woy, seperti" (6X)


"inikah" (7X)


"Caramu menyambut" (8X)


"ku" (9X)


Wsuh.. Akhirnya berakhir juga.


JEPLAK (10X)


"Addhh.. Baiklah kalau begitu aku pergi"


"Lagian kau sendiri yang asal masuk dari mana" balas Aina.


"Sudah kubilang bukan, aku tidak bermaksud untuk mengintipmu. Lagian beluk ku lihat juga"


"Hey.. Mesum" omel Aina.


"Sudah kubilang Maaf.. Itu salahmu sendiri yang ngajarin teleportasi tanpa keakuratan titik yang dituju"


"Itu termasuk imajinasimu yang asal - asalan, oh.. Bener juga, kau memang berniat untuk mengintipku mesum"


"Harus berapa kali kubilang, tidak begitu yang sebenarnya"


"Tapi, Selamat datang Kembali Aerel. Terima Kasih telah kembali dengan baik - baik saja" ujar Aina.


Sikapnya berubah drastis..


"Um.. Itulah yang ingin ku dengar"


(11X)


"Aww"

__ADS_1


"tetapi kurasa kehidupan barumu telah merusak kewarasanmu " bentak Aina.


"Tetapi syukurlah kau baik - baik saja, hei bagaimana dengan semua penduduk Sanji dan Ibu Kota?"


"Semuanya telah melupakan kejadian itu, dan semua sedang membangun rumah mereka masing - masing kau mau melihat - lihat?" tanya Aina.


"Boleh, tapi kurasa tidak akan ada perubahan yang signifikan dalam 2 minggu terakhir" .


"Ayolah" ajak Aina.


"Baiklah".


"Ah.. dengan teleportasimu saja, aku tidak akan lama disini. Lagipula aku tidak mau melihat sungai Rin"


"Ohh, baiklah" balas Aina.


.....SSSHHH.....


Kami mendarat sekitar 200 meter dari gerbang masuk Errevi, dan


"Woo.. Apa itu, ohh kayu bekas terbakarnya rumah - rumah ya. Sebanyak itu? Sudah seperti gunung saja"


"Mau jalan - jalan ke dalam?" tanya Aina.


"Ayo"


(BERJALAN)


Oh. Pemukiman tenda juga sudah tidak ada ternyata, apa mereka sudah mempunyai rumah masing - masing ya.


Padahal baru 2 minggu ku tinggal, perubahannya sudah sedrastis ini. Kerja sama yang sangat luar biasa, terlebih para Elf juga ikut serta membantu mereka.


"Hey, sekarang kau tinggal dimana?" tanya Aina.


"Mm.. Di sebuah desa bernama Tobago, dan desa itu hanya didiami manusia kucing tanpa seorang kepala desa"


"Ah Tobago.. Jadi Nostalgia" ujar Yori.


"Nostalgia, kau pernah kesana?"


"Tentu saja, sewaktu kecil dulu ayahku pernah mengajakku ke sana" ungkap Aina.


"Ah.. Bicara tentang Ayahmu, beliau baik - baik saja?"


"Ah Putri Aina, dan.."


Penjaga pintu ini tidak mengenaliku, ia melupakan jasaku.


Ah biarlah.. Bukankah memang tujuanku tidak ingin menonjol dikalangan mereka.


"Mari masuk," ajak Aina.


"Um.. Oke" .


Gerbang terbuka dan terlihat semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing masing.


"Seperti yang kau lihat, pembangunan sedang berjalan dengan lancar. Kuharap pemimpin kali ini bisa lebih bijaksana" ujar Yori.


"Memangnya siapa pemimpin Eiji kali ini?"


"Entahlah, belum ada pemilihan sama sekali meskipun awalnya semua orang menunjuk Ayahku, tetapi beliau menolaknya mentah - mentah" ungkap Aina.


"Omong - omong dimana Om Keisha?"


"Nama itu terlalu muda untuk seorang yang hampir menjadi kakek" ujar Yori.


"Beliau sedang membangun istana yang dulu dihancurkannya, itu menyusahkan tapi sepertinya beliau menyukainya" ujar Aina.


"Kalau begitu aku ingin menemuinya"


"Mmm.. Baiklah, terserah kau saja" ujar Aina.


"Eh kenapa?"


"Ah tidak, bukan Apa - apa" balas Aina.


"Kau tidak ingin berlama - lama bukan?" tanya Aina.


"Ya, masih banyak hal yang harus kulakukan. Terlebih aku tidak memberitahu siapapun seketika aku pergi"


"Jadi kau kesini hanya untuk bermain - main saja?" tanya Aina.

__ADS_1


"Tentu saja aku kemari bukan hanya untuk itu, sebenarnya aku ingin meminjam beberapa buku ilmu sihir. Tapi jangan buku Curhatan seperti waktu itu"


"Kau sendiri saja yang salah baca, kalau begitu aku kembali dulu kerumahku untuk membawa buku yang kau minta" ujar Yori.


"Baiklah"


Untuk saat ini, apa yang bisa kulakukan disini. Semua orang terlalu sibuk sampai mereka benar - benar tidak mengenalku.


Ah itu om Yasha.


"Aerel, aku tahu kedatanganmu. Maaf aku sedang sibuk jadi aku tidak bisa menyuguhkanmu apa - apa" ujar Om Yasha.


"Dih.. Terserah ente"


Melihat semua sibuk seperti ini, sepertinya ide bagus menerapkannya di desa Tobago. Mungkin semua orang juga menginginkan demikian


Baiklah, sepertinya harus kulakukan.


Aina mungkin mempunyai buku tentang itu semua.


Akan ku susul Aina.


...SSSHHH...


JEPLAK..


"Sudah kubilang jangan asal masuk kamar orang" bentak Aina.


"Sudahlah, lagian kau sedang pake baju juga kan. Aku ingin meminjam beberapa buku yang mungkin akan berguna"


"Buku seperti apa?" tanya Aina.


"Itu, buku semacam pembangunan. Atau arsitekur apalah.. Pokoknya buku untuk membangun rumah dan bangunan pokoknya"


"Kau terlalu semangat sampai bicaramu belepotan begitu... Kalau begitu kau bisa mencarinya di kamar Ayahku" ujar Aina.


"Bolehkah aku masuk, itu tidak sopan"


"Ayo" ajak Aina.


(MASUK KAMAR)


"Sepertinya kalian lebih suka menghabiskan sisa hidup dengan membaca buku - buku yang membosankan"


"Hei itu tidak sopan, kau sendiri juga butuh padahal" balas Aina.


"Ya ya"


"Ah sepertinya ini yang kau cari" ujar Aina.


"Judulnya.. 'Panduan Membangun Kota'. Itu pembangunan dalam sekala besar, apa tidak ada yang lain. Bukan berarti buku ini jelek, aku justru akan membawanya. Tetapi apakah ada yang lebih ringan seperti 'dasar dasar pembangunan'? "


"Mungkin ada sih, Ah ini.. 'Rumah Pohon'" balas Aina.


"Buku itu memang kalian banget"


Mm.. Jika buku membangun sebuah kota saja ada, mungkin ada beberapa buku yang...


Ah.. Ini sepertinya menarik 'Rumah'. Wow.. Buku ini juga lengap isinya.


"Aina ku ambil buku ini,"


"Oh.. Baiklah akan kuberitahu ayahku nanti" ujar Aina.


"Aku benar - benar berterima kasih Aina, dan maaf tidak bisa lama - lama disini"


"Pergilah jika kau memang ingin pergi, kembalilah kapan saja kau mau (JEPLAK), TENTU SAJA DENGAN CARA YANG WAJAR" geram Aina.


"Hehe. Baiklah aku pamit"


.....SSSHHH.....


Fyuhh.. Yosh.. Saatnya membangun..


"Eh Yori, sedang apa kau disini"


"Ah.. Aerel, (Air Mata) aku pikir kau pergi. Kupikir kau membenci kami" tangis kecil Yori.


"Eh.. Baru ku tinggal sebentar padahal. Mana mungkin lah aku meninggalkan kalian tanpa pamit, dimana rasa terima kasihku jika seperti itu. Sudahlah tangis itu"


"Aku tidak menangis, hanya saja aku mulai merasa bahwa kau sudah menjadi penduduk desa ini" ungkapnya.

__ADS_1


"Ya, ya."


__ADS_2