Yang Lain

Yang Lain
Rie


__ADS_3

Sudah dua hari sejak aku membaca tamat buku "Panduan Sihir", aku masih belum bisa menggunakan sihir apapun.


Lebih jelasnya buku ini seperti sebuah novel yang menceritakan orang bernama Rie, yang bisa menggunakan semua jenis sihir.


Tapi buku ini lumayan seru..


Aku penasaran sekali sehingga buku setebal ini bisa tamat dalam satu setengah hari.


Terdengar suara memanggilku..


Ah sepertinya itu Aina..


"Aerel, kau sudah mempelajari buku itu?!! " seru Aina.


"Bahkan sudah ku baca tamat"


"Benarkah? , itu berarti kau sudah mahir dalam ilmu sihir. Coba perlihatkan padaku" ujar Aina.


"Kau bercanda, kau sepertinya salah memberiku buku"


"Eh.. Maksudmu, ah tidak - tidak.. Sudah jelas jelas sampul bukunya bertuliskan 'Panduan Sihir oleh Rie'" ujar Aina.


"Iya maksudku buku ini hanya berisi biografi hidupnya Rie dan mantan pacarnya Rei. Dimana letak pembelajaran Ilmu sihir dalam buku ini?"


"Tunggu, apa kau bisa membaca hurufnya? Kau bilang duniamu berbeda" tanya Aina.


... Heh..


Aku tidak menyadarinya, padahal jelas - jelas hurufnya berbeda dengan tulisan latin di Leone. Kenapa aku bisa membacanya.


"Tidak salah lagi" ujar Aina.


"Itu pemberian Ariel" imbuhnya.


"Dia benar - benar menyiapkan segalanya"


"Dia sepertinya gadis yang menarik" ujar Aina.


"Ah, sebaiknya kita diluar saja, tidak enak bicara di tenda laki - laki" ujar Aina.


"Eh, kenapa tiba - tiba formal sekali"


"Heh.. Maksudmu" tanya Aina.


"Hanya saja kau berbeda dengan sikapmu yang blak - blakan seperti biasanya"


"Heh.. Gini ya Aerel, sebenarnya kamarmu terlalu bau untuk seorang diriku disini. Lagian kau tidak melihat matahari dari kemarin, bukankah kau pernah berkata rindu matahari, waktu nyasar di Sanji" ujar Aina.


Aku berjalan keluar tenda..


"apapun itu, tidak penting bagimu".


"Oy tunggu" Teriak Aina.


Aku meneduh di sebuah pohon kecil di pesisir pegunungan, terlihat sekali hutan yang begitu lebat di bawah sana.


Ah ternyata air sungai di tenda tadi mengalir dan terjun ke sini.


Terlihat indah bukan, duduk di atas dekat Air terjun..


Aina duduk disebelahku..


"Hey, itu hutan Apa?"


"Ah itu, entahlah tapi ibuku bilang itu tidak pernah terjamah oleh siapapun. Disana tempatnya makhluk - makhluk misterius seperti monster yang siap memangsamu" ujar Aina.


"Tapi ini benar - benar menakjubkan, aku tidak pernah melihat pemandangan seindah ini".

__ADS_1


"Ah iya, kau bilang duniamu tanpa sihir. Jadi sebenarnya tempat asalmu itu dunia yang seperti apa?" tanya Aina.


"Aku bingung harus memulai dari mana"


"Tempat asalku sangat berbeda sekali dengan disini"


"hmm" balas Aina.


"Kau tau! Alat transportasi di tempatku bisa tembus sampai 774km/jam. Yang artinya hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit saja untuk pergi ke Istana Eiji"


"Kau bercanda! Tidak mungkin ada alat kuda secepat itu tanpa sihir, kuda suci saja tidak secepat itu" ujar Aina.


"Untuk apa aku bercanda. Dan asal kau tau juga, alat transportasi di kampung halamanku bukan seekor kuda tapi terbuat dari besi baja yang bisa menarik 2300 penumpang"


"Kau serius, itu bisa membawa semua penduduk Sanji" ujar Aina.


"Dan asal kau tau juga, aku bisa menciptakan sihir teleport yang lebih cepat dari kuda di kampung halamanmu" (Aina berbalik) "ya meskipun itu tidak bisa terlalu jauh si" imbuhnya.


"kuda di kampung halamanku bernama kereta"


"Dan sihir teleportasimu hanya bisa digunakan seperemat dari perjalanan kita kemarin. Tidak terlalu berguna ujung - ujungnya lari juga"


"Dih jahat.. Kalau tidak begitu, kau pasti sudah mati ditangan mereka" ambek Aina.


"Kurasa harusnya aku berterima kasih.. Ups.."


"Apaan coba.. Tapi yang benar saja jika secepat itu" ujar Aina.


"Apanya?"


"Ketora di kampung halamanmu. Aku jadi penasaran ingin mencobanya" ungkap Aina.


"Kereta maksudmu.. Ingin naik?"


"Ya, aku ingin mencobanya" ujar Aina.


Angin sepoi - sepoi berhembus..


"Sudah kubilang, aku tidak menemukan pembelajaran apapun dari buku ini. Ini hanya berisi curhatan Rie"


"Woi, kemana semangatmu kemarin waktu bilang 'mari kita berontak'. Seolah itu hanya bualanmu saja. Semua orang saja sudah mulai berlatih" ujar Aina.


"Kau serius? Maksudmu, kita akan benar - benar berontak?"


"Tentu saja, sudah ku umumkan kepada semua orang" ujar Aina.


.... Eh....


"Sini, berikan bukunya" ujar Aina.


Kuberikan bukunya..


"Kau sepertinya tidak tau cara membaca buku. Kita lewat saja bab pertama, kita mulai dari bab pengukuran Mana sihir" ujar Aina.


Hei, yang benar saja..


"Isi bukunya berubah, jelas - jelas kemarin buku ini berisi cerita atau curhatan si Rie. Kenapa sekarang berisi materi?"


"Kau bercanda! Daripada bicara gak jelas, mending kau coba ukur mana mu dengan bacakan mantra ini" ujar Aina.


Dia tidak percaya..


"Rapatkan kedua kakimu dan taruh tangan kananmu di dada" ujar Aina.


"Sasageo - sasageo"


"Apa yang kau bicarakan? Tolong lakukan dengan serius. Rasakan energi yang mengalir di seluruh tubuhmu dan bacakan mantra..." ujar Aina

__ADS_1


Angin tiba tiba berhembus kencang..


Semuanya berterbangan yang ku kira pohon di dekatku akan tercabut.


"Woi Aerel,, apa ini. Sepertinya akan ada badai" Teriak Aina.


"Oy, Aerel!!" teriak Aina.


"Ah ya".


Tiba - tiba anginnya berhenti..


"Mantra apa yang harus ku baca?"


"Syukurlah anginnya berhenti" ujar Aina.


"Angin? Tadi kau bilang kau akan membacakan mantra, dan aku akan mengulangnya. Kenapa kau malah teriak - teriak tidak jelas begitu"


"Maaf aku begitu terkejut, sepertinya akan terjadi badai" ujar Aina.


Aina terlihat begitu panik..


"Badai? Badai apa?"


"Tidakkah kau rasakan angin yang begitu besar barusan?" ujar Aina.


"Tidak, Angin Apa? Yang kulakukan dari tadi hanya menuturkan apa yang kau ajarkan"


"Sepertinya aku harus menemui ibu dan ayahku" ujar Aina.


Aina berlari ke arah tenda..


Ia terlihat begitu cemas..


Dan semua orang terlihat berkumpul di luar tenda mereka, tunggu.. Tendanya roboh semua seperti benar - benar telah terjadi angin yang besar.


Aina menghampiri orang tuanya..


"Syukurlah kalian baik - baik saja nak" ujar bu Reiko.


"Tadi itu apa bu?" tanya Aina.


"Tunggu sebenarnya ada Apa ini?"


"Bukankah sudah kubilang bahwa akan ada badai. Dan barusan Angin yang begjtu kencang telah berhembus" ujar Aina.


"Jadi benar apa yang kau bicarakan"


"Tapi cuaca secerah ini tidak ada kemungkinan badai terjadi" ujar om Yasha.


"Fenomena aneh yang baru pertama kali kulihat" imbuhnya.


Semuanya terlihat sibuk membicarakannya. Tapi anehnya tadi aku benar - benar tidak merasakan angin apapun.


"Tenang Semuanya, tidak akan terjadi apa - apa untuk saat ini. Kita perbaiki saja dulu tenda dan lanjutkan aktivitas seperti biasanya" ujar om Yahsa.


Semua orang mematuhinya dan mereka terlihat lebih tenang. Sepertinya Ayahnya Aina adalah orang terpercaya di pandangan semua warga.


"Ah Nak Aerel, maaf karena telah terjadi kekacauan yang tidak diinginkan" ujar bu Reiko.


"Ah tidak, itu bukan salah siapa - siapa?"


"Sebaiknya kita tidak bicara disini" ujar om Yasha.


Aku, Aina dan orang tuanya berpindah ke tempat yang lebih sepi untuk bicara. Spertinya mereka ingun bicara serius padaku.


Kami berhenti di dekat tempat tadi aku berlatih..

__ADS_1


"Ah disini saja" ujar om Yasha.


Mereka terlihat sepertinya ingin berbicara serius..


__ADS_2