Yang Lain

Yang Lain
Sosok yang terbayang


__ADS_3

Seminggu aku dirawat dirumah sakit, kini aku sudah dibolehkan pulang namun aku tidak boleh beraktivitas terlebih dahulu.


Kemarin aku nyaris saja, senjata yang dipakainya itu bukan sembarangan. Di pelurunya telah tertanam racun yang berbahaya bagi otak dan sel - sel dalam tubuhku. Aku beruntung dapat bertahan hidup sampai di rumah sakit ini, Ibuku juga selalu datang setiap harinya bersama saudaraku.


Tak lupa dengan Tante sarah yang sepertinya sudah terbuka hatinya, Ibuku bilang ia sangat mencemaskanku dikala aku kritis.


Tante Sarah juga merasa bersalah kepada Om Edbert yang telah ia khianatinya. Dengan lapang dada Om Edbert pun memaafkan kekhilafannya.


Ketika sedang berkumpul di ruang rawatku tiba - tiba Tante Sarah dan Edric bersujud kepada Ibuku. Ia begitu menyesal telah menyepelekan nyawa Ayahku dan kakak sulungku. Ia meminta maaf dengan menangis tersedu - sedu, ia tidak tau harus membayarnya dengan apa.


Ibuku menangis pula bersamanya, ia sudah melupakan hal yang terjadi meskipun itu berat bagi kami. Sepertinya Tante Sarah telah belajar dari kejadian kemarin yang hampir meraut nyawanya sendiri.


Tante Sarah dan sekeluarganya telah sepakat untuk mencabut tuntutannya dan ia juga bersedia membiayai sekolahku beserta adik - adikku. Ternyata keluarga Milyarder itu tidak seburuk yang aku kira, Tante Sarah pun bisa luluh hatinya.


Aku juga bebas mau pulang ke rumahku atau kerumah Om Edbert, pintu rumahnya akan selalu terbuka untukku seperti yang ia bilang.


Akupun pulang kerumah ibuku, aku benar benar tidak mengikuti semua mata pelajaran ujian. Aku juga disuruh untuk tidak berpikir dan beraktivias selama satu bulan penuh.


Aku tidak mengira, hanya dengan tertembak ditangan saja obatnya bisa sebanyak ini. Yang benar saja, dalam sehari aku harus minum obat sebanyak 3 kali dengan 4 jenis obat setiap kalinya.


Padahal luka ditanganku saja sudah sembuh, hanya saja virus dari pelurunya mungkin masih ditubuhku.

__ADS_1


Sepertinya aku akan lebih banyak melamun, dan entah kenapa air mataku tiba - tiba keluar. Aku benar - benar tidak mengerti, kesedihan tiba tiba muncul dan aku mengingat Ariel.


Akupun keluar dari kamarku dan mencari keberadaan Ariel, betapa bodohnya aku meninggalkan gadis yang tidak punya Rumah.


Entah dimana sekarang keberadaannya, Andai saja aku lebih kuat untuk melindungi semuanya. Aku berpikir bahwa Ariel tertembak, ahh tapi itu tidak mungkin, Ariel tidak bisa dilihat oleh sembarang orang seperti yang ku ketahui.


Tapi mungkin saja Ariel memang tertembak, terlebih dia yang membuka talinya tante Sarah. Aku benar benar tidak tau harus mencari Ariel kemana, kuharap Ariel baik baik saja.


Setelah aku berjalan cukup jauh, tiba tiba saja aku terjatuh dan kakiku tidam bisa digerakan. Aku tidak mengira bahwa virusnya ternyata serius mengerogotiku. Kepalaku juga tiba - tiba merasa sakit dan aku mulai kehilangan kesadaranku.


Ketika terbangun, lagi - lagi aku sudah berada di rumah sakit dan dikerumuni banyak orang yang mencemaskanku. Tetapi Ariel tidak disini, mereka bertanya padaku siapa sosok Ariel yang terus kucari.


Aku ingat di dalam mimpiku tadi, Aku bertemu dua gadis cantik dan kecil. Mereka kembar dan terlihat seperti Ariel namun aku tidak mengerti kenapa salah satu dari mereka tubuhnya terlihat Transparan, dan mulai memudar.


Mungkin aku mengigau karena mimpi tadi, sehingga mereka menanyakan sosok Ariel. Aku menjawab mereka kalau Ariel yang aku maksud adalah Ariel yang sempat aku idolakan.


Untungnya mereka tidak banyak bertanya tapi ibuku benar - benar mengkhawatirkanku. Tante Sarah menyarankan aku tinggal dirumahnya, agar aku bisa tenang dan diurus dengan 23 maidnya.


Entah kenapa kala itu aku males banget bicara tetapi ibuku maen setuju - setuju aja.


Akupun tinggal dirumah besar mereka lagi, hingga aku sembub total. Mereka melayani ku dengan begitu baik, mereka bersyukur dan berterima kasih padaku karena pekerjaannya tidak hilang.

__ADS_1


Sementara siska yang terlihat berbeda, ia bilang agar aku berhati hati. Aku menanggapinya tidak terlalu serius, karena kata 'berhati - hatilah' sudah terlalu sering aku dengarkan.


Satu lagi yang kupikirkan hanyalah tentang keberadaan Ariel. Dia begitu rapuh dan aku tidak tau siapa yang akan memberinya makan. Jika diingat - ingat kemarin juga belum sempat ku kasih makan karena kasus tersebut.


Lagi - lagi aku terpapar pingsan dikamar, sepertinya aku terlalu banyak berpikir sehingga virus tersebut mempengaruhi otakku.


Aku terbangun dan kali ini sepertinya aku tidak berada dirumah sakit, Aku mendengar suara nyanyian yang begitu lembut, sama persis dengan suara Arieellll disini dia ternyata.


Lelah aku mencari kemana - mana ternyata dia disini, eh ini dimana emangnya. Ariel tidak menjawabku, dan tiba - tiba sinar putih membuat mataku silau.


Aku terbangun masih dikamarku, itu tadi terlihat seperti mimpi namun seperti kenyataan. Ariel sosoknya yang begitu jelas, ia hanya berkata kalau aku akan kembali bertemu dengannya. Aku merasa sedikit lega, dan yang benar saja aku sudah bisa berjalan dan berlari tanpa merasakan sakit apapun.


Semua orang di keluarga ini merasa heran dan aku dibawa lagi ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Faktanya aku telah benar-benar sembuh total, aku sudah bisa beraktivitas apapun sesuai keinginanku.


Aku tidak begitu bahagia, malah aku heran kenapa aku bisa sembuh secepat itu. Aku pun pulang dan dirumah om Edbert kami merayakannya dengan makan malam besar.


Sebenarnya pikiranku tentang pesta ini netral, aku tidak begitu suka dengan ini dan tidak membenci. Meskipun juga keluargaku ada disini, hanya saja Ariel mungkin belum makan sama sekali.


Akupun ke kamar meninggalkan semua yang ada, aku melihat sesosok Ariel di balik jendela namun ia terlihat pudar seperti di dalam mimpiku. Ia meminta tolong padaku dan memintaku ikut bersamanya.


Pikiranku yang masih kacau pun menarikku untuk pergi bersamanya. Kami loncat dari kamar dan semua terlihat buram, ahh sepertinya ini adalah alam kematian.

__ADS_1


Akupun terbangun di sebuah tempat yang tidak begitu asing, tempat itu adalah tempat Ariel kemarin meminta pertolongan juga.


Semua terlihat semu seolah - olah tempat tersebut belum pernah terjamah manusia.


__ADS_2