
Kali ini aku berada di sebuah desa yang berpenduduk ras Manusia kucing yang ku sebut kemarin.
Di desa ini aku akan pergi ke rumah Yori, rumah tempat kediaman ibunya juga.
Diceritakan bahwa ibunya Yori mengidap sebuah penyakit bernama Andes, yaitu penyakit yang disebabkan oleh Nyamuk Andes yang merupakan spesies nyamuk terganas di dunia ini.
Nyamuk Andes menghisap darah Manusia dan menyuntikan sebuah virus yang mematikan.
Gejala ringan seperti demam sudah menjadi pertanda akan terjangkitnya virus tersebut.
Seperti yang dikatakan Yori, gejala virus tersebut terus berkembang dan menyebabkan kelumpuhan, serta menyebabkan kematian. Mengerikan bukan..
Berat juga beban yang dipikul Yori..
Tapi Ia percaya virus tersebut bisa disembuhkan, dan ia terus berusaha keras menyembuhkan ibunya dengan cara apapun.
Bahkan membahayakan nyawanya sendiri..
Apa apaan ini..
Semua orang di desa Melihatku..
Sepertinya penduduk di disa ini tidak terbiasa dengan orang luar, karena itulah semua orang melihatku dengan tajam.
Bisa disebut desa ini termasuk kawasan kumuh, yang bangunannya seadanya. Kawasan terbengkalai pemerintah..
Atau mungkin hanya diizinkan sehari ya!!
"Penduduk di desa ini tidak terbiasa dengan orang baru, bisa saja dia mengusirmu jika kau beryindak gegabah" ujar Yori.
"Kurasa etika tidak berlaku di jaman primitif"
"Maksudmu?" tanya Yori"
"Tidak, lebih baik kau segera serahkan bahan ramuan itu"
"Ah ya.. Kesebelah sana, rumahku tepat berada si samping rumah itu" ujar Yori.
"Ke arah timur ya"
"Ah, akhirnya sampai" ucap Yori.
Anak kecil berlari? Ia menghampiri Yori dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"HOSH.. HOSH.. HOSHH.. Kak Yori HOSH" ujarnya.
Ia terlihat habis menangis.
"Yori, Tante Suri kembali kritis" ujarnya.
"(Terkejut) Haa.. Yang bener?!!" tanya Yori.
"Ya, Rena tidak tahu apa yang harus Rena lakukan. Maaf Rena telah lalai menjaganya kak Yori" ujarnya.
"Sebaiknya segera kita periksa"
"(Mengangguk) Umm" balas Yori.
Kami berlari masuk ke rumah Yori..
Yang benar saja ini..
"Ibu, bertahanlah akan ku siapkan obat" ujar Yori.
Wajahnya pucat dan kakinya berwarna ungu pekat..
Ini bukan penyakit terjangkit nyamuk, firasatku berkata bahwa bukan hanya penyakit Andes yang di idapnya.
Ini terlalu parah..
"Yori, izinkan aku mencium ibumu"
"Bodoh, bukan saatnya untuk bertanya demikian" bentak Yori.
"Sudahlah.. Biar ku lakukan Tidak ada waktu lagi"
Ini seperti ciuman biasa namun lebih dari itu, aku merasakan kehampaan dalam tubuhnya, kemudian
Aku mengalirkan manaku ke dalam tubuhnya melalui mukutnya, Aku juga menghisap virus Andes tersebut.
Seolah aku sedang mengisi air ke wadah yang kosong..
__ADS_1
Ya, tubuhnya begitu kosong tanpa energi yang mengalir..
(JEPLAKK...)
Ups.. Yori menamparku, aku melepaskan ciumannya karena sepertinya ia telah membaik.
"Kau, disaat seperti ini!! Akan kubunuh kau manusia" Marah Yori.
Ah tubuhku terasa lemas.. Aku sepertinya harus tidur sejenak..
"Tunggu Yori,.. Airbsmabd" ujar???
Apa yang mereka bicarakan, ah mengantuk sekali..
(JEPLAK)
Ada yang menamparku lagi..
"Woy Aerel.." ujarnya.
"Suaranya!"
"Kau menciumnya, ciuman itu.. Kau melupakanku?" ujarnya.
"Ah.. Ariel."
"Kau masih mengingatku ternyata. Dengar, tubuhmu kehabisan energi karena kau menyalurkan banyak energi pada ibu kucing tadi.. Dengan cara ciuman itu.. Dasar kau" ujar Ariel.
"kok itunya yang kau permasalahkan"
"Tentu saja, perempuan mana yang tidak marah dengan hal itu" ujar Ariel.
"Ya, ya.. Aku melakukannya tidak lebih dari belas kasihan"
"Begitukah? Ya sudahlah.." ujarnya.
"Woy, jangan pergi dulu.. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan.. Woy.."
"Aku tahu ini menjengkelkan, tetapi belum saatnya kau mengetahui semuanya" ujarnya.
"Ah... Sialan kau Ariel.."
"Sial?? Kenapa kau ini!!" ujar Yori.
"Tidak, bukan apa - apa. Aku hanya bermimpi"
"Begitukah, Syukurlah kau tidak apa - apa" ujar Yori.
Entah kenapa setelah kejadian itu tubuhku terasa lemas sekali dan sepertinya aku tertidur untuk waktu yang lumayan lama.
"Kau tertidur seharian penuh, maaf telah menamparmu kala itu" ujar Yori.
Hm, ternyata benar. Lucid dream itu membuatku tertidur lama walaupun dalam tidurku terasa singkat.
"Yori, bagaimana keadaannya?" tanya seseorang yang sepertinya ibunya Yori itu sendiri.
"Ibumu baik - baik saja?"
"Ya, aku benar - benar berterima kasih dan (Kupingnya Bergerak) sekaligus meminta maaf atas perbuatanku kemarin" ujar Yori.
"Ah tidak.. Bukan apa - apa, aku sendiri yang seharusnya meminta maaf"
"Bukan berarti aku.. Ah sudahlah.. Baiklah, kali ini aku mempercayaimu Manusia" ujar Yori.
"Hentikan itu, aku bisa saja ditangkap jika kau menyebutnya terlalu keras. Lagipula sudah kuberitahu namaku, bukan!"
(Seseorang datang memasuki kamar)
"Kak Yori, Ayo makan sama - sama.. aanu.. Kak Aerel juga (berbalik pergi)" ujarnya.
"Baiklah" balas Yori.
Akupun keluar kamar dan makan bersama ibu Yori dan Rena. Dan seperti yang telah kuduga, makanan yang mereka sajikan tidak lebih dari ikan bakar yang ditaburi entah bumbu apa ini. Tekstur nya mirip bumbu sate yang terlihat enak sekali..
"Maaf hanya bisa menyajikanmu ini"
"Tidak, ini saja cukup. Dan maaf telah membuat kalian repot"
"Ah tidak. Bahkan untuk terima kasih saja ini belum cukup, jadi makanlah" ujar ibunya Yori.
"Um.. Baiklah,"
__ADS_1
Emm... Apa ini, aku tidak pernah memakan makanan seenak ini sejak aku masuk ke dunia ini. Ikan bakar yang matangnya pas sekali ditambah bumbu sate.
Ini bukan hanya sekedar ikan bakar asli, bahkan ikan yang kubakar tidak lebih dari ikan gosong.
"Bagaimana Rasanya?" ujar Ibunya Yori.
"Um.. Ini luar biasa, aku pertama kalinya memakan makanan ini sebelumnya"
"Itu karena ikan yang aku cari adalah ikan yang masih sangat segar" ujar Yori.
"Ibu hanya menaburi bumbu pelengkap biasa" ujar Ibu Yori.
"Yang lebih penting adalah cara Rena membakar ikan ini" ujar Yori.
"(Malu - malu) Ah tidak.. Aku hanya sedikit membantu, tetap saja ikan ini tidak akan enak tanpa bumbu" ujar Rena.
Sepertinya Rena mempunyai bakat yang akan berguna jika terus diasah.
"Aerel!! Kalau tidak salah itulah Namamu, bukan?" ujar Ibu Yori.
"Ya?"
"Kalau begitu biar ibu perkenalkan diri, Nama Ibu Adalah Suri Yuburi, dan ini putri ibu yang Rewel yakni Yori Anata. Sedangkan Rena Nareni adalah anak dari saudara ibu sendiri. Meskipun ibu seperti ini, tapi usia ibu sebenarnya sudah menginjak 92 tahun di tahun ini" ujarnya.
92 tahun?? Yang benar saja, ini bahkan terlihat 50 tahun lebih muda dari usianya. Meskipun aku tidak bertanya, tapi itu menjawab beberapa pertanyaan yang akan datang.
"Kalau begitu, bolehkah kupanggil tante?"
"Kurasa panggilan itu juga cocok. Kau? Sepertinya usiamu tidak jauh beda dengan Yori. Tahun ini ia menginjak 18 tahun" ujarnya.
Terlalu benar untuk kubantah, tetapi usia 18 tahun untuk anak yang tingginya sekitar 150 cm ini kurasa sedikit dipaksakan..
"Tunggu, apa - apaan pembicaraan yang tidak bermutu ini" rewel Yori.
(TERTAWA)
"Seperti yang diceritakan Yori tentangmu, ibu rasa bisa mempercayaimu. Tetapi kau harus berhati - hati terhadap penduduk desa yang masih memusuhi Manusia" ujar Bu Suri.
"Ya, itulah yang sedang Aerel pikirkan"
"Kau tahu? Ibu menderita penyakit ini dari 7 tahun yang lalu, kala itu ibu berpikir sudah putus harapan dan berakhir begitu saja. Tetapi kau menyembuhkan Ibu begitu saja, mana mungkin ibu memusuhi orang yang menyembuhkan ibu sendiri sekalipun itu Manusia" ungkapnya.
"Ah tidak.. Saya tidak melakukan apapun atas kesembuhan ibu, Yori lah yang berusaha untuk membuat ibu sembuh selama 7 tahun terakhir. Jika Yori putus asa sekali saja, mungkin saya tidak bisa berada disini"
"Ya, ibu juga mengerti.. Meskipun Rewel, Anak ini mempunyai tekad yang besar" ujar Bu Suri..
"Ehh.. Ya.. Aku hanya melakukannya atas kemauanku sendiri" ujar Yori.
"Tapi kau, sebenarnya bukan orang biasa bukan? Kau mengalahkan Gordo dengan sekali tebas. Itu bukan hal biasa, sebenarnya kau ini siapa?" tanya Yori.
"Gordo, ah.. maksudmu monster yang bentuknya gak jelas itu, kalau itu salah monsternya sendiri terlalu lemah"
"Kesampingkan masalah itu, jadi setelah ini kau akan kemana Aerel?" tanya Ibu Suri.
"Kau berencana untuk ke ibu kota?" tanya Yori.
"Ibu kota?" gumam Rena.
"Rencananya si gitu.."
"Kenapa tidak disini dulu?" ujar Rena.
"Eh.. Apa boleh, ah tidak saya hanya akan mengganggu semua orang"
"Kenapa tidak, kau bisa saja mencuri hati penduduk desa. Lagipula tenagamu belum sepenuhnya pulih bukan? " ujar Bu Suri.
Sebenarnya tenagaku sudah sepenuhnya pulih si, tetapi aku membutuhkan beberapa informasi.
"Baiklah jika itu tidak mengganggu, jika berkenan saya hanya akan berada disini selama seminggu saja"
"Satu bulan pun bukan masalah" Rena mengatakannya dengan semangat.
"Rena?"
"Ah tidak.. Bukan apa - apa" ujarnya.
"Kenapa kau yang bersemangat" ujar Yori.
"maaf, Rena harus ke toilet" ujarnya.
(TERTAWA BERSAMA)
__ADS_1
Menurutku, ini akan jadi semakin menarik..