Yang Lain

Yang Lain
Obat Untuk Sang Ibu


__ADS_3

Segarnya udara pagi ditemani seorang gadis kucing yang membuatku lebih semangat lagi untuk memulai hari.


Bagaimana tidak, melihat telinga kucingnya yang bergerak - gerak saja kurasa sudah cukup.


Gadis kucing ini sedang mencarikan obat untuk ibunya yang sedang sakit, tetapi ia nyaris mati diserang monster aneh kemarin.


Usianya belum kuketahui, tetapi ia terlihat jauh lebih muda dariku. Artinya ia mungkin saja berusia kurang lebih 12 tahun, ya.. ia cukup pandai bicara di usianya.


"Aerel!" panggil Yori.


Itu salah satu kelebihannya, tetapi bukan hanya itu..


"Aerel!!" panggil Yori kembali.


Ia lebih dari yang terlihat, sikapnya yang mirip..


"Woy Aerel!!!" teriak Yori.


"(Terkejut) LOLI TSUNDERE!!"


Gawat keceplosan.


"loli sundere?! Apa yang kau maksud?" tanya Aina.


Ah, mana mungkin kan Yori paham, kurasa aku harus lebih hati - hati dalam berkata yang mungkin membuatnya berpikir aneh - aneh..


"Oyy, Aerel. Bengong lagi!! Apa sih yang kau pikirkan?" tanya Yori.


"Apa jangan - jangan kau tidak tidur gara - gara menjagaku semalam" imbuh Yori.


"Jangan geer lah. Aku hanya sedang menyusun ulang rencana perjalananku"


"Ah benar juga, kau harus mencari kerabatmu bukan!!" ujar Yori.


"Kau sendiri bukankah kau sedang mencari obat untuk ibumu?"


"Ya, aku akan menelusuri kembali meskipun ibuku pasti mencemaskanku" ujar Yori.


"Kalau begitu, boleh kubantu"


"Serius, ya baiklah.." ujar Yori.


"(Tersenyum)Mari cari sama - sama"


"(gugup)Ee.. Tentu saja aku belum mempercayaimu" ujar Yori.


"Ya ya.."


Aku menggendong Yori dan mencari bahan obat untuk kesembuhan ibunya, sementara Yori menggendong tasku.


"Bahan seperti apa yang harus ku cari?"

__ADS_1


"Biar Aku tunjukan, kau berjalanlah" ujar Yori.


"Kau sudah seperti tuan putri"


"Aa.. Ya, terserah lah.. Begini Aerel, Mengenai kerajaan Eiji, apakah telah terjadi sesuatu sehingga pergerakan monster semakin merajalela" tanya Yori.


"Eiji telah runtuh, dan Errevi telah menyatu dengan tanah seminggu yang lalu"


"Eeh.. Kau serius itu terlalu mustahil dilakukan" ujar Yori.


"Menurutmu begitu? Tidak ada yang mustahil untuk dilakukan bahkan melawan dewa pun bukan suatu hal yang mustahil"


"Habisnya Eiji yang itu loh!!" ujar Yori.


"Ya, sekarang tidak akan ada perbudakan di Eiji, semua penderitaan di Eiji telah berakhir"


"Siapa yang melakukannya?" tanya Yori.


"Para Elf dari hutan sanji, mereka marah karena hutan Sanji dibakar oleh sang Raja"


"Benarkah? Para elf telah bangkit akhirnya, kuharap Negeri ini juga segera pulih" ujar Yori.


"Bukankah lebih baik jika tidak ada manusia".


"Tidak, itu tidak benar. Kau sendiri bahkan manusia mana pembelaanmu, semua makhluk diciptakan untuk saling berdampingan" ujar Yori.


"Bicaramu, kau sepertinya sudah menerimaku"


"Ya, ya.."


"Hei Aerel, habis dari sini kau akan kemana?" tanya Yori.


"Entahlah, Mungkin akan sulit bagiku untuk berbaur dengan kalian"


"Benar juga, kau harus menyamar agar kau bisa bebas berbaur di ibu kota. Bukankah kau harus mencari kerabatmu?" tanya Yori.


"Ya, ia benar - benar orang yang merepotkan"


"(menunjuk) Ah, itu tanaman obatnya" ujar Yori.


"Umm.. Aku tidak pernah melihat tanaman seperti ini sebelumnya, ia seperti dipenuhi cahaya di dalam batangnya yang tipis tersebut"


"(turun dari pundak)Kami menyebutnya 'Restenya', tanaman yang banyak dicari untuk dijadikan obat atau bahkan ramuan kecantikan" ujar Yori.


"Begitukah?(memetik)Apa ini sudah cukup?"


"Ya, tapi tanaman ini akan mati" ujar Yori.


"Kenapa tidak kau Tanam saja di depan Rumahmu?


"Inginnya sih gitu, tapi tetap saja tanaman ini tidak akan bertahan lama" ujar Yori.

__ADS_1


"Bunganya tidak kau petik?"


"Tidak, bunganya beracun jika kau sentuh. Tapi itulah bahan yang harus kau ambil jika kau ingin menanamnya di tempat lain" ujar Yori.


"kalau begitu..(petik)"


"(terkejut) Oy Tunggu, Tanganmu akan bengkak jadi lepaskan itu" ujar Yori.


"Ini? Kurasa ini tidak terlalu bahaya, biar ku simpan di penyimpanan dimensi ku"


"Apa itu? Sepertinya luar biasa!!" ujar Yori.


"Ini salah satu yang temanku ajarkan kepadaku"


"(canggung) Umm.. E.. Hei, jika kau berkenan, kau bisa mampir ke rumahku saja. Kau bisa berpura - pura sebagai ras penyihir, jika kau menguasai ilmu sihir" ujar Yori.


"Bolehkah?"


"Tentu saja aku akan tetap mengawasimu.. Ya daripada kau sendirian tanpa arah, lebih baik kau ke kampung halamanku. Mungkin kau dapat petunjuk tentang kerabatmu itu" ujar Yori.


"Ya, aku akan sedikit merepotkanmu"


"Tidak, ibuku akan senang jika kau menanggapku teman" ujar Yori.


"Teman ya, kurasa tidak buruk"


"(gugup) T.. Te.. Tentu saja aku tidak berharap banyak darimu" ujar Yori.


"Ya, untuk bahan obatnya apa hanya tanaman ini saja?"


"Ah.. Ya.. Karena ini adalah bahan yang paling penting, sementara yang lainnya bisa ku dapatkan di mana saja. Sebaiknya kita segera kembali" ujar Yori.


"Um.. Baiklah. Mau ku gendong lagi?"


"Aku akan berjalan kaki saja" ujarnya.


"Sudahlah Ayo"


"Uwwwa.. Kau terlalu semangat" ujar Yori.


"Masih banyak hal yang harus kulakukan, mm.. Kau mengingat jalan pulang?"


"Kau meragukanku? Tentu saja aku ingat, lurus terus ke arah barat daya" ujar Yori.


Pedesaan tempat manusia kucing, kurasa ini akan semakin menarik.


"Oy larimu terlalu cepat" ujar Yori.


"Pegangan yang erat, ini tidak akan lama"


"Wooo... Dasar pria sadis" ujarnya.

__ADS_1


Entah kenapa perjalanan ini semakin terasa mendebarkan.


__ADS_2