Yang Lain

Yang Lain
Konflik


__ADS_3

Tentu saja karena episode kemarin berakhir dengan tidak jelas, maka hari ini kurasa aku harus berusaha sebisa mungkin.


Lagian kenapa sih aku malah berpikir untuk membangun kembali desa ini, haduh..


Tapi ya sudahlah..


Ini juga bukan salah siapa - siapa.


Semuanya juga terlihat semangat, meski aku capek banget ngaturnya.


Ujung - ujungnya mereka tidak memilih keahlian manapun, tetapi mereka kupikir akan menyesuaikan diri.


Untung saja disini ada Yori yang terkadang terlihat dewasa, dan disini juga ada Airo, Qori, dan juga Vina.


Mereka bertiga adalah anak muda seusiaku yang lumayan berwawasan luas juga. Hanya saja mereka memendam bakat mereka, sehingga tidak ada yang tahu bahwa bakatnya begitu berguna.


Apalagi Vina, walaupun ia merupakan seorang wanita yang terlihat lemah, namun sebenarnya ia kuat. Ia mempunyai wawasan yang luar biasa di semua bidang yang pernah ku sebutkan, ah kecuali untuk pekerjaan berat.


Ia begitu telaten dan berbeda sekali dengan Yori "yang hanya bisa menyuruh - nyuruh" Ups.. Keceplosan.


"Apa maksudmu berkata seperti itu dengan menatapku?" ujar Yori dengan congkak.


"Tidak, bukan apa - apa. Selain itu, aku sepertinya harus menebang beberapa pohon disini"


"Menebang pohon? Maksudmu kau akan menebang pohon? Hei jangan lakukan itu" bantah Yori.


"Kenapa? lagian kan pohon ini terlalu besar sehingga menghalangi sinar matahari. Hei sinar matahari itu penting loh buat tulang punggung kalian"


"Meski begitu, dengan cara apa kau akan menebang pohon setinggi 60 meter ini"


"Kau lihat!!"


"Ehmm.. Semuanya Menjauhlah sebentar!!" Teriak Yori.


Yosh terima kasih Yori, aku bisa leluasa dengan ini.


Mudah saja ini sih, aku akan memulai dari daunnya yang rimbun dulu.


"Wowww.. Kecepatan macam apa itu"


"Iya, hebat sekali ya"


"Apa yang dilakukannya?"


(daun berjatuhan)


"Woww, cahaya terlihat"


...****************...


Yosh, tinggal sekarang batang pohonnya.


"Semuanya, Menjauhlah lagi pohon - pohon ini akan ia tebang" Teriak Yori.


"Hey Serius"


"Itu bisa menimpa semuanya"


"Hey mana mungkin lah aku bisa meruntuhkannua sendiri, bantu aku sedikit kek"


"Ah, apa yang harus kubantu?" tanya Yori.


"Dih malah nanya"


"Ah, baiklah ambilkan tambang besar, dan kita akan tarik agar tidak mengenai rumah siapapun" ujar Yori.


"Tunggu - tunggu, sebenarnya aku sudah muak dengan pembangunan atau apalah ini, dan mungkin banyak diantara kalian ada yang tidak setuju dengan ambisi Manusia ini" ujar seorang pemuda.


(Berunding)

__ADS_1


"Manusia?"


"Dia bilang Manusia?"


"Hey, yang benar saja".


Ah sepertinya dimulai.


"Ya benar, ia selama ini berpura - pura sebagai penyihir namun lihatlah, mana ada penyihir yang bisa memakai pedang. Itu artinya dia seorang manusia, lagipula kulitnya tidak cukup putih untuk seorang ras penyihir yang biasanya memiliki kulit putih mengkilap" ujar seorang pemuda.


"Kau benar, aku memang seorang manusia!!"


Mana mungkinlah, bisa berjalalan dengan mulus lah ya. Padahal aku hanya ingin membuat rumah yang layak bagi mereka.


"Mana bisa kita percaya dengan manusia"


"Jadi selama ini kau hanya mencari perhatian, tapi maaf kami tidak akan tertipu lagi dengan kalian. Pada akhirnya semua manusia sama - sama egoisnya" ujar warga.


Yang egois itu siapa, siapa yang bilang siapa. Semus manusis dianggap rusak itu pemikiran yang lebih egois.


"Hey, tunggu - tunggu. Seperti inikah cara kalian berterima kasih? Dimana akal sehat kalian, dan kau Yudi berhentilah mengompori orang - orang" bentak Yori.


"Hey Bocah, bicara akal sehat dengan manusia? Sadarlah dia hanya akan membuatmu kecewa, atau jangan - jangan kau mau mengkhianati rasmu sendiri?" ujar Yudi.


Aku sudah mengira ini akan terjadi, namun aku tidak mengira akan secepat ini jadinya.


"Itu tidak benar, Aerel tidak seperti yang kalian pikirkan!!" ujar Yori.


"Lebih baik kita bunuh saja manusia ini!!" seru warga.


Kalian pikir aku kecoak.


"Hei, jangan..." Teriak Yori.


"Kami akan pergi dari sini" imbuh Yori.


"Yori, ada apa nak?" tanya ibu Yori.


Maaf Yori..


"Bu, maaf. Yori dan Aerel tidak bisa tinggal lagi disini" tangis Yori.


"Loh, Hey sebenarnya ada apa ini?" tanya ibu Yori.


"Maaf bu Suri, ibi bisa saja untuk tetap tinggal disini tetapi Manusia itu harus pergi dari sini dan juga anak ibu Sendiri yang telah mengkhianati rasnya sendiri. Atau dia harus mati disini!!" ujar Yudi.


"Cih.. Dasar provokator" ujar Yori.


"Kalau begitu ibu ikut kalian" ujar ibu Yori.


"Tidak ibu, ini bukan masalah ibu. Ibu tidak harus mengalami ini, ibu tetap tinggal saja disini" ujar Yori.


"Tidak nak, ibu harus ikut dengan kalian pokoknya. Ibu tidak mau tinggal di tempatnya orang egois" ujar ibu Yori.


"Kalau begitu cepatlah pergi!!" seru warga.


"benar, Ayo pergilah!!" Seru warga.


"Selamat tinggal" ujar Yori dengan suara pelan dan hampa.


Ah sepertinya aku benar - benar menyeret Yori dalam masalahku.


"Jangan berani datang kesini lagi"


SSSSKKKK


"Aw.."


"Aerel? Dasar kalian, harusnya kalian yang aku bunuh" ujar Yori.

__ADS_1


Ia melempariku golok dan menusuk di tulang rusuk bagian bawahku.


"Yori sebaiknya kita segera pergi dari sini, jangan khawatirkan aku! Aku baik - baik saja"


(Berlari)


Mereka mengolok - ngoloku selagi kami pergi, apa - apaan niatku juga yang mau membangun desa yang layak huni. Itu terlalu cepat, padahal belum ku curi perhatian semua warga.


Menjengkelkan..


Akhirnya kami pergi dari Tobago dengan begitu menyediakan, sebegitu bencinya sama manusia sampai - sampai diperlakukan cara seperti ini. Aku tidak bisa bicara banyak, tetapi aku akan membersihkan nama baik manusia.


Yah kurasa.


"Hey Aerel, dengan luka seperti itu masih bisanya kau berlari dengan begitu cepat" ujar Yori.


GBRUKK.


Aku terjatuh ya. Dan Yori memberikan pahanya untuk aku tidur di atasnya.


"Aerel?, kau?" teriak Yori.


"Sepertinya golok tadi mengenai paru - paruku"


"Woy bertahanlah, ibu tunggulah Aerel disini biar Yori carikan obat untuknya" panik Yori.


"Berhati - hatilah nak" balas Ibu Yori.


Benar - benar menyedihkan bukan, lagi - lagi aku membuat seorang gadis harus menderita demi diriku yang tidak ada apa - apanya.


"Tu.. TTunggu Yori!! Kemarilah"


Aku bangun dari sandaran pahanya ibu Yori..


"Tidak, tidak banyak waktu lagi" ujar Yori.


"Karena itu, kemarilah sebentar!!"


"Kita harus pergi menjauh dulu dari sini"


"Hey kau jangan gunakan itu, tubuhmu tidak akan kuat untuk itu" ujar Yori.


"Ayolah kemari, Woy.. Ayolah."


"Aerel bener nak, ibu rasa kita harus mencari tempat yang aman terlebih dahulu" ujar ibu Yori.


"Baiklah.. Berjanjilah untuk baik baik saja" ujar Yori.


SSSHHH


"Eh. Diman ini?" tanya Yori.


"Kita di teleportasi?" tanya ibu Yori.


"Uhuk.. Uhuk.. Bwroo... Darah? Paru - paruku benar - benar terluka sepertinya"


"Aerel bertahanlah" panik Yori.


"Bertahanlah nak" ujar ibu Yori.


"Duhh.. Ini kamar siapa si?" sambungnya.


Ah.. Aku akan kehilangan kesadaranku, susah sekali untuk bernafas dengan keadaan seperti ini.


Rasanya sesak..


Terlebih aku menggunakan teleportasi yang memakan banyak energiku.


"Siapa kalian"

__ADS_1


"Hey apa yang kalian lakukan di rumahku?"


Suara itu, sepertinya tidak asing di telingaku.


__ADS_2