Yang Lain

Yang Lain
Penyelesaian


__ADS_3

Situasi ibu kota saat ini begitu mencekam dan membuatku mual, sampai sampai aku mau muntah melihat darah yang mengalir dimana - mana.


Sungguh tidak dapat dimaafkan..


Di Dunia manapun Rakyat selalu jadi korban..


Apa sebenarnya yang raja bodoh itu inginkan..


Dia terlalu semena - mena dengan nyawa dan hak - hak manusia.


Terlihat beberapa warga yang menghampiri kami. Kukira mereka akan marah pada kami tetapi Terima kasih yang mereka ucapkan karena telah membunuh ninja itu.


Beranggapan warga di Eiji berkepala sama dengan Loid, tetapi ternyata mereka juga menginginkan Loid mati.


Ninja itu adalah saudara kembar Loid yang begitu kuat dan selalu menuruti perintah aneh yang Raja itu ucapkan.


Ada sesuatu yang mengganjal disini..


Mayat prajurit yang begitu banyak tetapi anehnya tidak ada darah diantara mereka.


Apa - apaan ini??!!


Sedangkan warga dan mereka yang masih hidup bisa terluka dan berdarah.


Apa ada semacam sihir pengecualian?!!


"Aerel" panggil Zeni.


"Ah ya, aku hanya memikirkan kejanggalan disini"


"Sebaiknya kita bergegas" ujar Zeni.


"Berhati - hatilah, semoga negeri ini segera pulih" ujar warga.


Aku berlari bersama Zeni ditengah api yang berkobar ini, tetapi aku tidak merasakan panas sama sekali.


Zeni sendiri merasa heran, untungnya dia bisa melompat tinggi dan kurasa itu bisa disebut terbang.


Ah sudah terlihat istana nya..


Dan..


Kyaa...


Pergerakannya terlalu cepat...


Aku dan zeni baru sampai di atap..


Loid..


Dengan membawa Aina ke atas menara setinggi monas itu, apa yang akan dia lakukan..


Mati bersamanya??..


"Woy keparat, jadilah lelaki dan bertarung satu lawan satu bersamaku" teriak Zeni.


Woy yang benar saja..


"Tidak berguna bagimu bocah, jika aku dan kerajaanku berakhir maka Anak ini juga tamat" ujar Loid.


Tidak akan sempat..


Aku telah lalai menjaganya..


"SSEEERRRGAARR"


Apa itu?..


Terlalu cepat..


"AINA" teriak Zeni.


Menara itu hancur bersama dengannya..


Seseorang terlihat dibalik reruntuhan tersebut..


Hey.. Ini Mimpi?


Om Yasha membawa Aina di balik reruntuhan tersebut dan mereka terlihat baik - baik saja.


Harusnya aku bersyukur karena mereka selamat, tapi bahkan Zeni pun sepertinya kebingungan.


Yang jelas bukannya Om Yasha sudah meninggal..


"Syukurlah Kau selamat Aina dan,"


"Kau terlihat seperti pendekar Aerel" ujar Aina.


"Paman, Aina Apa yang terjadi?" tanya Zeni.


"Ceritanya nanti saja, kastil itu akan meledak" ujar Om Yasha.


"Biar ku lari sendiri" ujar Aina.


Kami pun berlari meninggalkan kastil itu segera beberapa detik kemudian kastil itu benar - benar meledak.

__ADS_1


Dan akhirnya selesai dengan tanpa memakan korban orang dari klan Elf. Tetapi tidak sedikit dari klan Elf yang terluka.


Para mayat prajurit itu terbakar bersama rumah warga dengan api yang meluap - luap tinggi.


Aku merasa tidak enak dengan warga, begitupun semuanya.


"Kami Mohon Maaf telah merampas tempat tinggal dan keluarga yang tidak bersalah" ujar Om Yasha.


"Tidak, saya menampaikan suara dari semua warga dan berterima kasih telah membebaskan kami. Kami lebih memilih seperti ini daripada harus hidup di dalam sangkar dengan aturan dan tindasan" ujar salah satu warga.


"Kami akan membantu membangun kembali Negeri ini" ujar Om Yasha.


"Dengan Senang hati" ujar warga.


"Sebaiknya kita dirikan Tenda disini Ayah" ujar Aina.


"Untuk Malam ini, kita Istirahat disini" ujar Om Yasha.


"ho.. Ho.. Kurasa aku sedikit lebih muda" ujar tabib.


"Kakek, kau terlihat segar bahkan setelah perang"


"Kau harus belajar Aerel, teruslah berpegang teguh dengan sesuatu yang kau inginkan" ujarnya.


"Hehh, benar begitu?" tanya Aina.


Kuharap Negeri ini kembali damai seperti yang diinginkan semua orang.


Hari menjelang petang..


Waktu terasa begitu lama disini..


....WOSHH"....


Angin sepoi - sepoi di malam hari memang tidak ada duanya. Ups.. Api di ibu kota itu sudah padam, asap hitam yang mengerikan tadi siang.


....KREKHS....


"Aina? Keahlianmu belum cukup untuk mengejukanku"


"Lagian aku tidak bermaksud juga" ujar Aina.


"(Duduk) Hei Aerel.. Setelah ini kau akan pergi bukan?" tanya Aina.


"Ah, Ya.. Bukankah semuanya sudah selesai disini. Kau keberatan?"


"Tidak, Bukan begitu!! Hanya saja kau.. Kau akan Kembali?" tanya Aina.


"Apa yang bicarakan? Aku belum pergi sama sekali loh, Kau Kesepian?"


"Bicara tentang petunjuk, tadi sewaktu aku pingsan di tengah peperangan itu. Aku bermimpi Ariel, ia membimbingku menebaskan pedangku ketika aku sadar. Dan.."


"Dan pedangmu tepat di leher Ninja itu, begitu?" lanjut Aina.


"Ya, dan kau tau, ada banyak sekali kejanggalan di peperangan tadi. Prajurit yang tidak ada matinya, tiba - tiba serentak mati ketika Ninja itu mati. Ditambah prajurit itu tidak memiliki luka ataupun darah yang keluar. Dan kau tahu? Om yasha tadi sebenarnya.. "


"Ayahku mati, lalu ia tiba - tiba muncul dan menyelamatkanku. Begitu? Aku melihat semuanya Aerel dan sebenarnya ada sesosok yang mendekatimu ketika kau pingsang" ujar Aina.


"Benarkah Begitu? Seperti apa rupanya"


"Dia memakai jubah hitam sampai lutut dan sepertinya tidak memakai celana" ujar Aina.


"Tidak salah lagi Itu pasti Ariel, lalu dia pergi ke arah mana?"


"Kau terlalu dekat!! Aku tidak terlalu memperhatikannya, tapi dia datang dari arah barat" ujar Aina.


Itu tepat seperti arah pedang ku menebas..


Aku dituntut mengerti semuanya..


.... GAWWRR...


"KHiHH.. Om Yasha!!"


"Ayah, Kukira makhluk aneh yang menginginkan daging segar" ujar Aina.


"Daging apa yang kau maksud?" tanya Om Yasha.


"Heh!! Pikiran kotor menjauhlah"


"Tidak, bukan itu yang ingin ku bicarakan. Ini mengenai tujuan Aerel selanjutnya" ujar Om Yasha.


"Kebetulan kita sedang membicarakannya"


"Kau sudah memutuskan?" tanya Om Yasha.


"Belum!! Saya masih tidak tahu harus kemana dan harus bagaimana. Iya, saya paham harus menyelamatkan Ariel, tapi dimana itu dan kenapa Ariel bisa muncul begitu saja. Dan apalah gadis yang mirip Ariel di dalam mimpi itu"


"Bukankah kau akan pergi ke arah Barat, seperti petunjuknya?" tanya Aina.


"Oh satu lagi ada di barat ternyata" gumam Om Yasha.


"Hmm.. Maksud Om"


"Tidak, bukan apa - apa" ujarnya.

__ADS_1


"Dengar!! Sekecil apapun petunjuk jika terus digali maka akan semakin besar pula kemungkinannya. Namun jika kau biarkan maka akan lenyaplah kemungkinannya" ujar om Yasha.


"Lagi pula sekarang kau sudah jauh lebih kuat" ujar Aina.


"Tetapi ke tempat apa yang kiranya di sebelah barat tersebut?"


"Setahuku disana terdapat Negara dengan bermacam - macam ras tetapi tidak ada manusia disana. Disanalah kemungkinan Ariel, disana manusia diperjual belikan. Mungkin itu kebalikan dari Eiji, kau kuat?" tanya om Yasha.


"Kau bisa diserang kapan saja jika kau tidak berhati - hati" imbuhnya.


"Tapi kau sepertinya tertarik" ujar Aina.


"Cukup Menarik!! Akan ku cari kemungkinan itu!!"


"Berjanjilah untuk tidak kenapa - kenapa" ujar Aina.


"Pulanglah kesini jika kau ingin pulang. Hutan Sanji akan selalu terbuka untukmu" ujar om Yasha.


"Heh.. Ayah.. Izinkan aku ikut bersamanya" ujar Aina.


"Eh serius"


"Kau yakin?" tanya om Yasha.


"Tapi umurku sudah tidak lama lagi. Kelak kamu akan menggantikanku Aina" ujar Om Yasha.


"Apa yang Ayah bicarakan. Berjanjilah untuk hidup lebih lama" ujar Aina.


"Bukan aku yang akan menunggumu, tapi Zeni" ujar om Yasha.


"Sudah kubilang, dia hanya seorang teman!!" bentak Aina.


"Sikapmu, memang itulah Aina"


"Tapi om, kenapa bisa tetap bugar. Padahal maaf ya om, Tadi om sudah tidak bernafas"


"Iya Ayah. Aina sendiri juga heran" ujar Aina.


"Bukankah seharusnya kau bersyukur Ayah masih hidup" ujar Om Yasha.


"Tapi itulah kekuatan Amerin. Saat ini dia bisa membelokan takdir bagi Ayah" ujar om Yasha.


"Maksud Om?"


"Gelang ini sudah sepenuhnya menyatu dengan Ayah, Gelang ini juga yang menolong Ayah. Tetapi gelang ini bisa saja membawa Ayah ke tempatnya, itulah sebabnya usia Ayah sudah tidak lama lagi" ujar Om Yasha.


"Itu tidak mungkin, itu benar-benar melawan fakta logika"


"Memang itulah faktanya. Energi Ayah akan terkuras dan terganti energi Amerin itu sendiri. Harusnya tidak demikian, tapi Ayah yang salah memilih" ujar Om Yasha.


"Baiklah kalau begitu biar ku cabut" ujar Aina.


"Tidak Aina, ini tidak akan bisa lepas" ujar om Yasha.


"Tapi itu hal bodoh jika Ayah harus mati secepat itu. Aku tidak mau itu terjadi" Aina marah dan juga tangis.


"Hey Aina.. Tu.. Tunggu.. Usahamu sia sia, Ayahmu akan langsung kehilangan nyawanya begitu gelang itu terlepas"


"Apa maksudmu? Kau menginginkannya mati?" tanya Aina.


"Hey, jangan salah paham dulu, tenanglah"


"Kau selalu menyuruhku tenang. HANYA ITU YANG KAU BISA??" bentak Aina.


"Tenanglah Aina, Aerel benar.. Jika gelang ini terlepas maka berakhir juga nyawa Ayah disini" ujar om Yasha.


"Itu juga salah ayah sendiri yang Memilih demikian, kau tidak bisa menyalahkan siapa - siapa. Hanya Ayah yang bersalah disini" ujar Om Yasha.


"Tapi itu terlalu.. (menangis)" tangis Aina.


"Sebelum tiba pada waktunya. Menikahlah dengan Zeni dan Jaga Ibumu, maka ayah akan Tenang" ujar om Yasha.


"Tapi kau juga bebas memilih.. Apa kau akan tetap ikut bersama Aerel?" tanya om Yasha.


"Maaf Aerel.. " ujar Aina.


"Aku mengerti, jika kau memilih pergi bersamaku juga, aku akan lebih menyarankan untuk tetap bersama keluargamu. Aku paham rasanya kehilangan anggota keluarga"


"Aku bisa menjaga diri, dan menikahlah dengan ZENI.. Ups..."


"Hey berhenti tertawa" ujar Aina.


"Ayah akan mengajarkanmu Beberapa sihir sebelum kau pergi Aerel, untuk hari ini Ayah sudahi saja. Ayah ke tenda dulu" ujar om Yasha.


"Ah baiklah"


Yah berdua lagi..


"Hey Aerel.. Bisa kau ceritakan kembali kampung halamanmu sebelum kau pergi" ujar Aina.


"Kau sepertinya begitu tertarik pada kampung halamanku"


"Ya, kuharap aku bisa pergi kesana, jadi ceritakanlah!!" ujar Aina.


"Ah baiklah.."

__ADS_1


__ADS_2