
Raut wajah yang begitu serius untuk seorang bu Reiko. Tapi raut wajah datar tetap om Yasha pasang di pembicaraan ini.
"Nak Aerel, berasal dari dunia lain seperti yang Aina ceritakan. Apa itu benar?" Tanya bu Reiko.
Dia bertanya..
Apa aku harus formal..
"Ya, kurang lebih begitu. Aerel juga tidak begitu yakin waktu pertama kali ke sini"
Kurasa belum cukup formal..
Tapi jika diingat - ingat, ini pertama kalinya kami bertatap muka sedari pertama kali bertemu.
"Kau juga bertemu sosok gadis kecil bernama Amerin?" tanya Om Yasha.
"Ya, dia begitu kecil dan rapuh. Dia menuntunku keluar dari hutan sanji"
"Amerin, nama yang bagus. Tapi siapa yang memberinya nama? Lalu apa kata terakhir yang di ucapnya Aerel" tanya Om Yasha.
"Dia bilang, jika aku kembali masuk ke hutan maka aku tidak akan pernah bisa keluar dari hutan tersebut"
"Emang sebenarnya ada apa?"
Om Yasha tiba - tiba menjatuhkan air matanya. Kukira dia adalah orang yang keras dan kuat, tapi ternyata wajah datarnya bisa mudah menangis dengan itu. Mungkin mereka mempunyai hubungan spesial.
"Itu sepertinya benar kau.. Kenapa aku bisa lupa dengan nama yang kuberikan padanya. Kau menghilang begitu saja ketika aku sibuk mengurus pekerjaanku" tangis Om Yasha.
Jujur saja..
Om Yasha terlihat menyeramkan jika menangis seperti itu, tapi mungkin itu adalah hal yang berharga baginya dan Bu Reiko juga tidak cemburu.
"Sudahlah, apa yang harus ditangisi dari itu. Justru kita harus senang karena dia masih ada" ujar bu Reiko.
"Kau tidak mengerti, (Om Yasha berlari) aku akan menyusulnya" teriaknya.
Dia cukup cepat berlari untuk seusianya...
"Sebaiknya kita ikuti, dan ibu sebaiknya istirahat saja di tenda" ujar Aina.
"Jaga Ayahmu nak, kabari ibu jika terjadi apa - apa" ujar bu Reiko.
Kami pun berlari mengejar om Yasha..
Om Yasha lari dengan begitu cepat tapi Aina tahu dimana ia akan berhenti..
Tepatnya di sebuah pohon kecil yang terdapat ayunan, mungkin itu tempat mereka bermain.
Om Yasha berhenti..
Sosok tua keladinya, seperti luntur disini..
"Amerin maaf telah mengabaikanmu waktu itu, kini aku datang untuk menjemputmu" Tangis Om Yasha..
Kulihat ia sepertinya menyesali pribadinya, mungkin kesalahan yang dilakukannya lebih besar dari harga dirinya saat ini.
Aku tidak tahu apakah hari sudah malam, tapi sepertinya Om Yasha sudah berjam - jam menangis tanpa henti.
Sementara Aina menenangkananya..
Aku hanya diam melihatnya..
"Sudahlah Ayah, hari sepertinya sudah gelap sebaiknya kita pergi ke tenda saja" ujar Aina.
"Kau tidak mengerti, Ayah tidak akan bisa bertemu dengannya jika ayah keluar dari hutan ini" ujar Om Yasha.
"Ayah jangan egois, bukankah Ayah menyesal karena mengabaikannya. Sekarang Ayah justru mengabaikan Ibu, Ibu pasti sedang cemas" Tegas Aina.
Entah kenapa Aina tiba - tiba bijaksana..
__ADS_1
Jadi ngeri..
Tapi dia benar juga..
"Sebentar Aina biarkan Ayah duduk sebentat di sini" ujar Om Yasha.
Ia menduduki Ayunan tadi.
"Kau melihatnya Amerin" ujar Om Yasha.
"Ayah, kau terlihat mengerikan" tawa Aina.
Tiba tiba Ayunan itu berayun seperti ada yang menariknya. Dan yang benar saja, sosoknya kembali muncul di sini.
"WAa.. APA ITU?" Aina terkejut.
"Keisha, maaf telah membuatmu menangis" ujar Amerin.
Ternyata Amerin yang mengayunkannya..
"Amerin, itu benar kau?" tanya Om Yasha.
"Ya, kau terlihat sehat Keisha" ujar Amerin.
Keisha?.. Sepertinya itu adalah namanya ketika dia masih muda.
"Inikah sosok misterius itu?" Aina terheran.
"Terima kasih telah mengantarnya padaku Anak Muda, ternyata kau mengerti apa maksudku" Amerin berkata demikian dengan melihatku. Dia menyebutku Anak muda sedang tubuhnya yang lebih kecil dariku.
"Amerin, biarkan Aku turun terlebih dahulu" ujar Om Yasha.
"Tidak, Aku tidak punya banyak waktu. Aku hanya memastikan apa kau benar - benar akan terus bersamaku, tapi kau sepertinya telah memenuhinya maka akan kulakukan" ujar Amerin.
Terlihat Amerin meneteskan air matanya, mungkin itu air mata bahagianya.
"Ehh, hei tunggu apa maksudmu?" tanya Om Yasha.
"Hei apa yang kau lakukan?" tanya lagi Om Yasha.
"A-- Apa itu" ujar Aina.
Amerin terlihat mamudar, ia menjadi kilauan cahaya aneh dan berpusat di tangan Om Yahsa.
Dan apa itu..
Terlihat seperti gelang, namun terlihat mahal dan berkilauan..
"Sekali lagi aku meminta maaf Amerin" tangis Om Yasha.
Kini Amerin sepertinya telah bersatu dengannya.
mengerti dunia yang penuh misteri ini..
"Maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama" ujar Om Yasha.
Mendengarnya berkata demikian, aku mendadak ingat Ariel.
Dan, Kami memutuskan untuk kembali ke tenda..
Begitu banyak misteri di dunia ini..
Apa kau melihatnya, Ariel..
Sesampainya di tenda, om Yasha meminta maaf kepada istrinya. Ia menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya, berikut gelang di tanganya.
"Menceritakan wanita lain didepan istrimu sendiri adalah kebiasaanmu" ujar bu Reiko.
Ah masalah keluarga..
__ADS_1
"Bukan itu maksudku" ujar Om Yasha.
"Tapi aku sedikit lega" ujar Bu Reiko.
Pemandangan macam apa ini..
"Kalian melupakan kami" ujar Aina.
"Ah maaf Aina, nak Aerel kalian harusnya tidak melihat ini" ujar Om Yasha.
"Ah Nak Aerel ibu lupa, duduklah dulu nak kita lanjutkan obrolan tadi" ujar bu Reiko.
"Aa,, baiklah"
"Apa lagi yang harus dibicarakan?" tanya Aina.
"Ini mengenai asal usulmu Nak Aerel. Jika kau berasal dari dunia lain, jangan sampai orang - orang disini atau dimanapun itu mengetahuinya, kecuali jika kau sudah bisa melindungi diri" ujar Om Yasha.
"Sebelum itu, aku harus memanggilmu apa?"
"Panggil saja Om Yasha" ujar Om yasha.
Ah, tepat seperti yang selalu ku gumamkan.
"Bukankah nak Aerel kesini dipanggil oleh gadis yang bernama Ariel" ujar Bu Reiko.
Dari mana dia tau..
"<~>" senyum Aina.
Ah tentu saja sudah jelas..
"Kau harus segera mencarinya Nak Aerel atau kau akan menyesalinya. Apa kau punya petunjuk keberadaannya" tanya Om Yasha.
"Tidak, tapi Saya pernah bermimpi dua sosok gadis kembar yang nampak seperti Ariel, tapi salah satu dari mereka terlihat transparan"
"Mimpi yang Aneh" ujar Aina.
"Kau harus benar - benar segera menemukannya sebelum kau menyesalinya, tapi kau harus menguasai setidaknya teknik bela diri" ujar Om Yasha.
"Untuk itu kemarin kuberikan buku panduan sihir Rie, tapi dia... Sama sekali tidak belajar apapun" Aina terlihat sinis dari tatapannya.
"Maksudmu aku harus belajar sihir dalam sebuah novel"
"Novel? Nak Aerel kau bisa membacanya? Buku yang berisi biografi Rie" tanya Bu Reiko.
"Ya benar, mungkin Aina sedang sedikit tidak waras ketika menyarankannya"
"Maksudmu aku menyesatkanmu? Jelas - jelas buku ini berisi panduan ilmu sihir. Kau sendiri yang mengarang sebuah novel" bentak Aina.
"(tertawa) biar ibu jelaskan. Rie adalah seorang pertapa sihir yang begitu harum bahkan setelah kematiannya. Ia menuliskan sebuah buku yang kau pegang itu, buku itu berisi panduan ilmu sihir semua tingkatan. Tapi banyak orang mengatakan jika kalian bisa membaca isi buku yang sebenarnya, ia akan diwarisi kekuatan Rie itu sendiri" ungkap bu Reiko.
"Itu terdengar seperti dongeng" ujar Aina.
Aku juga tidak begitu percaya dengan Argumen aneh itu. Tapi..
"Itu semua memang belum tentu benar. Tapi memang itulah cara Rie membayar orang yang siap mendengarkan curhatannya" ujar Om Yasha.
"Ibu bersungguh - sungguh Aerel, sesuatu bisa saja terjadi secara tiba - tiba disini. Tepat pada waktunya, kau harus siap dan janjilah temui Ariel" ujar Bu Reiko.
"Sebelum itu aku ingin bertanya kenapa orang - orang disini terlihat hormat ketika Om Yasha sedang bicara?"
"Om hanya seorang pewaris dari pemimpin Hutan Sanji, yaitu Ayahku Sendiri" ujar Om Yasha.
Ah ternyata memang, itulah kenapa Zeni memanggil Aina dengam sebutan nona.
"Lalu hubunganmu dengan Amerin?"
"Kau tidak perlu tau itu, yang pasti kau harus selamatkan Ariel sebelum kau menyesal nantinya" ujar om Yasha.
__ADS_1
"sudah kuduga.. Ah satu lagi, Aina bilang semua penduduk disini sudah sepakat untuk melakukan pemberontakan. Apa itu benar?"
Situasi tiba - tiba hening..