Yang Lain

Yang Lain
Cahaya Dalam Gelap


__ADS_3

Gelap gulita sekali, apa ini alam kematian?


Apa aku sedang menutup mata ya?


Tapi sepertinya mataku terbuka dengan lebar, namun tempat ini hanya berisi kegelapan sejauh mata memandang.


Oh benar aku baru ingat! Kemarin aku tertusuk di paru - paruku sehingga aku kesulitan untuk bernafas..


Mungkin ini alam kematian, tapi entah kenapa hanya sebuah golok saja bisa membuatku mati seperti ini dibandingkan dengan gigitan monster tanaman waktu itu yang seharusnya lebih menyakitkan.


Padahal aku belum kembali ke Ambridge, tetapi aku berakhir dengan konyol seperti ini.


Wsuh..


Ah cahaya? Mungkin para malaikat yang akan menginterogasi ku.


Eh wujudnya seperti manusia..


"Aerel? Harusnya kau masih mengenaliku?" tanya orang dibalik cahaya itu.


"Suara ini! Cih.. Pergilah. Aku sudah muak dengan drama ini, Ariel"


"Kau terlalu banyak bermain - main Aerel!!" ujarnya.


"Bermain - main katamu? Hey bodoh.. Kau pikir sudah berapa kali aku hampir kehilangan nyawaku, kau menuntutku untuk mencarimu, mengenali dunia ini, tanpa penjelasan sedikitpun darimu".


"Kau tahu? Kekuatanku tidak seterusnya mengalir ke dalam tubuhmu, maka dari itu kau harus banyak menguasai ilmu sihir. Aku tidak bisa memberitahumu karena itu mengancam keselamatanku dan juga keselamatanmu yang ku utamakan. Ini memang menjengkelkan, tetapi maaf kau harus berjuang dan aku hanya bisa mengawasimu walaupun itu membahayakabku" ujar Ariel.


"Kalau begitu, kenapa harus aku.. Sesungguhnya aku adalah lelaki lemah dan cengeng, aku tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri apalagi masalahmu lagipula aku sudah mati bukan?"


"Kau masih Hidup, tubuhmu memang masih terluka tetapi itu bukan luka yang cukup berat untuk cepat disembuhkan" ujar Ariel.


"Tebak, berapa kali kau ceroboh?"


"Entahlah.. Kau pikir itu salah siapa hah? Kau merenggut kehidupan lamaku ketika kehidupan lamaku mulai berarti. Ariel, kau pikir mudah jadi aku.. Berapa kalipun aku mencoba, hasilnya tetap sama itulah mengapa aku membenci kehidupanku di dunia manapun".


"Kau tahu, sesungguhnya banyak orang yang mengkhawatirkanmu. Kau dikelilingi orang - orang baik dan tentu saja itu hasil kerja kerasmu, maka berusahalah untuk bisa melindungi dirimu sendiri agar kau bisa melindungi mereka juga" ujar Ariel.


"Aku tidak bisa selalu melindungimu seperti waktu kamu berada di Eiji, aku bisa mati kapan saja jika aku melakukan itu lagi. Meski aku tahu tenagaku tidak ada habisnya, tapi kau harus belajar menggunakan tenagamu yang sesungguhnya masih misterius" ujar Ariel.


"Hei Percayalah pada dirimu, Aerel! Kau akan menjadi pendekar yang hebat tanpa kekuatanku, belajarlah untuk mandiri dan gunakan pedangmu untuk menebas apapun yang menjadi ancamanmu. Maaf telah memaksamu, tetapi sudah saatnya bagiku kembali. Selamat bertemu kembali, Aerel" sambungnya.


"Cihh.. Awas saja Ariel setelah aku menemukanmu, aku akan menamparmu sesuai dengan jumlah hari aku berada di dunia ini"


"Terima kasih telah memberiku nama yang cantik" ujar Ariel.


"Aku sangat ingin bertemu kembali denganmu secara langsung" sambungnya.


"Mari kita bertemu!!" ajaknya.


"Ya, tepat pada waktunya aku akan menghukumu Ariel"


"Ya, aku tidak sabar menantikannya" balas Ariel.


"Jadi, Bangunlah.." ujar???


"Bangunlah Aerel"

__ADS_1


"Hei"..


Berisik banget si!!


"Biarkan dia istirahat, anak kucing"


"Sesungguhnya dia adalah pria lemah yang selalu memaksakan diri dan ceroboh"


"Siapa yang kau sebut lemah?"


"Ah.. Kau sudah bangun?" ujar Yori.


"Syukurlah nak kau baik - baik saja" ujar ibu Yori.


"Aku mengerti situasinya Aerel, tapi kau lagi - lagi memakai kamarku untuk tujuan teleportasi mu. Dasar pria cabul" ujar Aina.


"Sepertinya memang sudah keenakan"


"Ah maaf nak Aina, kami telah sembarangan memasuki ruanganmu" ujar Ibu Yori.


"Ah tidak, tidak apa - apa ibu," ujar Aina


"Kau!! Tapi syukurlah kau masih tertolong, Ayah dan ibu akan segera kemari katanya" imbuhnya.


"Ah, mereka masih hidup"


"Hei.. Umm.. Maaf ibu, dan dik Yori. Bisa tinggalkan kami berdua sebentar, orang bodoh ini harus diberi pelajaran" ujar Aina.


"Umm, Ya baiklah.. Permisi" ujar Ibu Yori.


"Hei kau jangan apa - apakan dia" ujar Yori.


"Dan kau (Memeluk)" sambungnya.


"Hey aku s-sesak"


"Bodoh kau, Aerel bodoh.. Lagi - lagi kau hampir kehilangan nyawamu dan kali ini untuk hal sepele. Kau berjanji untuk kembali kepadaku hidup - hidup dan mengajakku ke Ambridge. Tapi jika keadaanmu yang selalu seperti ini... Bodoh.. Kau pikir sudah berapa kali kamu Ceroboh?" tangis Aina.


"Kau menangis? A-aina pelukanmu m-mmbuatku ss-sesak"


Hush..


"Maaf, sudah kubilang berapa kali bukan, untuk tidak ceroboh. Dan aku yakin bukan hanya aku yang berkata demikian" ujar Aina.


"Ya, kau benar"


"Kukira sikapmu sudah berubah, kau menyuruh mereka keluar.. Ups.."


"Habisnya mereka mengganggu" ujar Aina.


(BUKA PINTU)


"Yo, anak muda.. Kau terkapar?" ujar Om Yasha.


"Ayah!! Lain kali ketuk dulu kek" ujar Aina.


"Hehheh.. Kalian pacaran?" tanya om Yasha.

__ADS_1


("MANA MUNGKIN LAH")


"Dih. Kompak banget" ujar om Yasha.


"Omong - omong, ibu dimana?" tanya Aina.


"Ibumu sedang menggantikan pakaian kucing - kucing itu" ujar Om Yasha.


"Ayah itu tidak sopan" ujar Aina.


"Kenapa? Memang benar bukan, mereka kucing" balas Om Yasha.


"Yah, lukamu sepertinya cukup lama untuk bisa sembuh total" ujar Om Yasha.


"Aku tidak tahu apakah itu ekspresi sedih atau senang"


"Tidak sebegitu lama juga" ujar Aina.


"Jadi, bagaimana dengan mereka kedepannya?" ujar om Yasha.


"Ah, entahlah. Mungkin mereka akan tinggal disini untuk sementara waktu"


"Paman si tidak masalah, tapi bagaimana dengan mereka sendiri. Kau sepertinya sudah merenggut kebahagiaannya" ujar Om Yasha.


"Ya, Aerel tahu itu. Tetapi menilik kehidupan lamanya, Aerel rasa mereka akan lebib betah untuk tinggal disini"


"Ya sudah.. Tidak masalah jika begitu" ujar Om Yasha.


"Mereka telah menceritakan semuanya, jadi kurang lebih aku paham situasinya" ujar Aina.


"Jadi bagaimana dengan pembangunan di kota?"


"Sempat - sempatnya kau bertanya itu" ujar Aina.


"Untuk sampai saat ini, pembangunan selalu berjalan lancar dan sangat sibuk sekali sampai - sampai paman tidak menyadari bahwa buku - buku tentang itu menghilang dari kamar paman" ujar Om Yasha.


"Maaf tidak memberitahu om, tapi Aerel rasa Aina telah.."


(Mesem mesem)


"Aina???"


"Dia kabur?"


"Jadi, om datang kesini hanya untuk itu"


"Tentu saja paman datang dengan maksud yang sangat jelas" ujarnya.


"Maksud yang seperti?"


"Kau masih ingat dengan berkah Amerin ?" tanya om Yasha.


"Tentu saja, akulah yang pertama menemukannya dengan jerit payahku"


"Sombong sekali kau, kalau begitu kau harus merasakan kekuatannya juga yang menakjubkan ini" ujar om Yasha.


"Beri dia pelajaran" teriak Aina dari luar kamar.

__ADS_1


"Tunggu, hei.. Apa yang.. Aaaaa... Aaaaa. A..."


Aku tidak pernah merasakan pengobatan yang seperti ini sebelumnya, sampai - sampI kesadaranku dipaksa hilang.


__ADS_2