
(*Matahari Terbit*)
Segarnya menghisap udara pagi ditemani matahari yang baru otw. Semuanya sudah mulai produktif, Reruntuhan tersebut masih berasap bahkan setelah malam diguyur sedikit hujan.
Yah.. Wajar saja sih..
Itu pengalaman terburuk seumur hidupku, berlari diantara lautan api..
Aku seakan seperti di dalam dongeng Bandung Lautan Api... Ups..
Terkadang manusia harus rela berkorban untuk mendapatkan hak asasi mereka sendiri. Itu yang dirasakan warga ibu kota dan klan Elf saat ini, yang mereka inginkan hanya kebebasan dan ketentraman.
Ternyata dunia ini lebih parah daripada Ambrige..
Ah itu tergantung mereka menyikapinya sih..
Tapi bagaimana dengan mereka yang menjadi korban kebakaran kemarin, apa keluarganya menerimanya?
Aku hanya takut jika keluarganya balik dendam terhadap klan Elf dan mereka membentuk kembali kelompok untuk berperang di kemudian hari..
Ih amit - amit..
Pasti tidak demikian bukan!!
Pastinya, aku yakin akan baik - baik saja..
Benar?
"Aerel?"???
"(terkejut) Ah, Aina kau selalu saja berusaha membuatku terkejut"
"Lagian kau juga selalu sendiri melamun, barusan kau ngapain si? Apa yang kau gumamkan?" tanya Aina.
"Tidak, aku hanya memikirkan beberapa kejanggalan dan kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari"
"Kejanggalan apa maksudmu?" tanya Aina.
Ah si Zeni tuh, kurasa dia tahu sesuatu. Biar kupanggilakan.
"Oy.. Zeni, kemarilah"
"Hey tunggu! Kenapa kau memanggilnya!??" omel Aina.
"Eh, barangkali dia akan langsung melamarmu bukan!?"
"Eeh... A.. Apa yang kau bicarakan?!! Itu tidak ada hubungannya denganmu" Aina ngambek sepertinya.
"Ah iya, ada apa?" ujar Zeni.
"Aina sudah tidak sa..."
"Oyy.. Tungggu.." potong Aina.
"Apa sih.." ujar Zeni.
"Kau jaga bicaramu Aerel" ancam Aina.
"(tawa dingin) Ah.. Tidak tidak.. Begini zeni, Kau tahu sesuatu tentang mayat prajurit kemarin?"
Ah sebaiknya ku kecilkan nanda bicaraku..
"Maksudmu?" tanya Zeni.
"Tidakkah kau berpikir ada kejanggalan diantara mereka?"
"Kejanggalan lagi, dari tadi bicaramu.." ujar Aina.
"Aina diam dulu.. Sudah jelas bukan kalau mereka Aneh, contohnya mereka yang tiada habisnya itu ketika kita serang namun.. "
__ADS_1
"Namun ketika kau tebas Ninja itu, para prajurit semua mati serentak, begitu?" ujar Zeni.
"Benar begitu, dan satu lagi. Mereka tidak berdarah dan tidak memiliki luka disekujur tubuhnya. Tetapi para warga bahkan bisa terluka dan keluar darah secara normal, meskipun beberapa diantara warga mengalami hal yang sama seperti prajurit itu"
"Apa maksudnya itu?" tanya Aina.
"Kau malah balik nanya"
"Entahlah, tapi kurasa sepertinya prajurit itu dikendalikan oleh Ninja tersebut tetapi mana mungkin dia bisa mengendalikan ratusan ribu prajurit denga seorang diri" ujar Zeni.
"Itu juga yang aku bingungkan, Ninja itu sebenarnya sosok yang seperti apa? Kenapa dia harus menuruti Loid seolah Ninja itu adalah budak, sedang Ninja itu sendiri lebih kuat"
"Mereka adalah Saudara kembar seperti yang pernah Ayah Katakan"
Wsuh.. Bikin kaget saja.. Om Yasha datang secara tiba - tiba.
"Kekuatannya berasal dari mananya dan mana Loid yang menjadikannya kuat melebihi orang biasa, kau tahu? Bayi yang terlahir kembar selalu mendapati kelebihan dalam hal apapun. Tetapi itu hanya berlaku untuk Ras Manusia" ujar Om Yasha.
"Aku tidak bisa cerita banyak karena itu adalah Fenomena langka yang entah benar atau tidaknya" imbuhnya.
"Jadi kalau begitu.."
"Kau harus Cari Ariel segera" ujar Om Yasha.
Eh kenapa kesitu arah obrolannya..
"Untuk sekarang kita bantu para warga terlebih dahulu, kita tidak bisa langsung pulang ke Sanji sebelum mereka mendapat rumah" ujar Om Yasha.
Ia pergi begitu saja, sepertinya banyak yang ia ketahui..
Tapi kenapa ia tidak mau cerita..
Ah sudahlah..
Biarkan skenario berjalan dengan semestinya..
"Dia memang suka seperti itu" ujar Aina.
"Eh, kau tidak langsung Melama..."
Aina menutup mulutku..
"Hah apa?" tanya Zeni.
"Tidak, bukan apa - apa" ujar Aina.
"Ah baiklah" balas Zeni..
Zeni menyusul Om Yasha..
Wajar saja jika Zeni dipercaya, ia begitu sopan dan... Default. Bagiku karakternya terlalu default. Tapi ia cukup menarik bagi seorang Aina.
"Oy.. Apa yang kau pikirkan, otak Mesum" ujar Aina.
"Apa kau tidak pernah berpikir baik tentangku?"
"Faktanya memang benar, kau tidak punya sisi baik dilihat dari manapun juga.. Ah sudahlah" ujar Aina.
"Serahlu"
"Dan bukankah kau ingin belajar sihir dengan ibuku?" tanya Aina.
"Aku enggan untuk mengatakannya, ibumu terlihat sibuk sekali"
"Biar aku saja kalau begitu" ujar Aina.
"Kau mau?"
"Yah, asal kau meminta maaf padaku" ujar Aina.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, sebenarnya aku tertarik dengan sihir teleportasimu dan sepertinya itu akan berguna untuk perjalanan jauhku"
"Hey, Minta Maaf dulu.." ujar Aina.
"Harus kumulai dari mana?"
"Ah.. Ya sudahlah" ujar Aina.
"Kita berpindah ke tempat yang lebih cocok terlebih dahulu" imbuhnya.
"Kurasa diasana cocok"
"Boleh" balas Aina
"Pertama kau harus stabilkan Energimu dan.."ujar Aina.
Seharian penuh aku habiskan belajar bersama Aina, ternyata tidak butuh waktu lama bagiku jika aku serius menekuninya.
Kenapa dulu aku kesulitan ya?!!
Kali ini Aina sepertinya mengkhawatirkan ku, itulah sebabnya ia membekaliku dengan semua yang ia ketahui.
.......HUSH......
"Capek juga ternyata" ujar Aina.
"Eh.. Bukankah aku yang seharusnya berkata begitu, aku padahal pemula"
"Kau mulai sombong, (HOSHH..) tapi Energimu itu loh yang benar saja(HOSHH..) " ujar Aina.
"Kau bahkan melebihi batas wajar. Membuat kau bisa berteleportasi jarak yang sangat jauh. Tapi kau tetap harus datang ketempat tujuan teleportasi mu terlebih dahulu sebelum kau bebas menggunakan sihir tersebut" ujar Aina.
"Beneran Udah semua?"
"Ya, hanya itulah yang ku bisa" ujar Aina.
"Itu tak lebih dari 27 pelajaran saja"
"Kau meremehkanku? Aku mempelajarinya selama 12 tahun" ujar Aina.
"Ibuku menguasai lebih dari 70 tekhik sihir, ia melakukan semua kegiatannya dengan sihir" ujar Aina.
"Benarkah?, bukankah itu luar biasa".
"Tidak, kau akan menemukan orang yang lebih hebat darimu di dalam perjalananmu" ujar Aina.
"Berjanjilah untuk mampir ke sini" imbuhnya.
"Ya. Aku sudah menganggap kalian keluargaku"
......................
"Hahhahhaa.. Kau kalah untuk pertama kali kau mencobanya Rully"
"Heehh. Kau berbuat curang"
Itu seperti suara anak kecil yang sedang bermain.
"Mereka sudah akrab seperti yang semua inginkan bukan?" ujar Aina.
"Ya. Berbeda ras bukan berarti harus saling menindas"
"Ras Manusia binatang sepertinya sudah mulai terbiasa, dulu mereka sangat tersiksa sekali oleh manusia" ujar Aina.
"Umm.. Negara Baru yang damai akan segera terbentuk"
"Aku jadi tidak sabar menyaksikannya" ujar Aina.
"Lembaran baru, cerita baru"
__ADS_1
Benar, jalan sudah semakin terbuka sejak aku mengenal Aina. Begitu banyak pengaruhnya bagiku, aku merasa beruntung bisa bertemu dengannya.
Jika tidak, maka aku akan melewatkan semuanya.