
Pagi ini, badanku kurang sehat. Sepertinya aku demam. Aku ingin sekali terus tidur. Tapi sayangnya, aku mengingat satu hal. Jika hari ini aku akan menikah dengan penipu itu. Beberapa hari lalu, Aki sempat berbicara tentang pernikahan. Aku memang bingung, bagaimana cara membagi waktuku untuk si penipu itu. Aku harus pulang kerumahnya setiap hari. Dan tidak mungkin setiap hari aku harus tinggal seatap. Lalu keluargaku, bagaimana dengan kedua orang tuaku? Mereka pasti akan mencuriganya.
“ Sebaiknya kau tidak usah memberi tahu keluargamu. “ kata Aki. “ Jika keluargamu tahu tentang pernikahan ini, maka kau dan keluargamu akan menanggung konsekuensinya. Uang 1 milyar bukan jumlah sedikit kan.”
“ Mengapa teman mu itu menginginkanku. Bukankah Dina layak untuknya.”
“ Aku juga tidak mengerti. “ jawab Aki.
“Trus, apa yang bisa aku lakukan. Aku tidak mungkin bisa membagi waktu antara keluargaku, kuliah dan temanmu itu.”
“ Hiro bilang, ia tidak meminta waktumu lebih dari yang kau bayangkan. Kau cukup bilang kepada orang tuamu, jika kau sudah mendapatkan pekerjaan. Setelah selesai kuliah. Kau harus pulang kerumah Hiro. Jam 10 malam, Hiro akan mengantarmu pulang kerumah orang tuamu. Dan di hari Sabtu dan Minggu. Kau bilang saja jika pekerjaanmu di mulai dari pagi.”
Hmmm!
__ADS_1
Aku menghela nafas. Hari libur, aku pikir akan bebas bersantai di rumah. Kenyataanya, ia lebih pintar dari yang aku bayangkan. Ia mengambil hari liburku, mengambil segalanya dari kebebasanku.
Aku beranjak dari kasur. Trus mandi, berpakaian rapi dan pamit kepada ibu. Untungnya ibu tidak menanyakan banyak hal. Aku izin dengan alasan menemui Dina. Ibu tahu Dina tinggal dimana. Sewaktu di sekolah dulu. Aku sempat mengajak ibu kerumah Dina, lebih tepatnya kontrakan Dina. Awalnya aku pikir, itu adalah rumahnya. Ternyata hanya sebuah kontrakan yang sengaja di sewanya.
Tulalit tulalit.
Pesan masuk. Aku membuka ponsel. Melihat kearah layar, nomor baru tanpa nama. Aku membuka pesan dan kubaca isi pesan tersebut.
Sakit rasanya hatiku setelah membaca pesan ini. Pesan yang seolah akan menghukum kesalahanku. Ada perasaan takut. Namun, aku berusaha menenangkan diriku. Dengan berjalan kaki aku keluar dari blok D, menuju ke blok E. Di depan, sudah menunggu mobil berwarna silver. Aku mengenali mobil itu. Ketika aku mendekat kearah mobil, seorang pria keluar dan tersenyum kearahku. Aku tak membalas senyumannya. Dalam wajah cemberut aku masuk kedalam mobil.
“ Kau sudah sarapan?” tanya Hiro. Aku menjawab dengan gelengan.
“ Bagaimana kalau kita sarapan dulu.” Tawaran Hiro, ku tolak dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
“ Kalau begitu kita langsung ke rumahku. Syara dan Aki sudah menunggu. Aku tidak mengundang siapa pun. Kecuali pak damar, ia orang yang akan menikahkan kita hari ini.”
Aku masih diam. Malas rasanya membahas tentang pernikahan. Aku ingin semua ini cepat berakhir. Agar aku bebas darinya.
note....
thank's yg udah baca karyaku.
__ADS_1