~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )

~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )
episode 21


__ADS_3

Ancol, tempat liburan yang banyak dikunjungi. Setiap hari libur, Ancol adalah tempat liburan berkualitas yang berunsur seni, budaya, dan pengetahuan. Tidak sedikit orang yang mendambakan liburan ke Ancol. Kali ini aku berlibur tidak hanya berdua. Hiro dan Wildan, ikut serta dalam liburan ini. Aku sih sebenarnya mencurigai jika liburan kali ini sudah direncanakan.


“ ke Dufan yuk, lebih asyik lho. Di sana banyak wahana seperti Ice Age Arctic Adventure, Hello Kitty Adventure, Halilintar, Niagara-Gara, Istana Boneka, Tornado, Hysteria, Arung Jeram, The Mysterious Land, Ubanga-Banga, Rumah Miring, Poci-Poci, Kicir-Kicir, Alap-Alap, Pontang-Pontang, Ontang-Anting, Burung Tempur, Gajah Beledug, Kora-Kora, dan masih banyak lagi.” Celoteh Anita. Ia memang sering sekali liburan bersama keluarganya ke Ancol. Wajar jika ia lebih dulu heboh ketimbang aku yang baru pertama kali ke Ancol.


“ Maksudmu, kau ingin naik semua itu.” Kata Wildan dengan bersikap menyolot.


“ Ya enggaklah. Aku pengen kita pilih salah satu. Tapi, jujur nih. Aku memang kepengen mencoba semuanya. Mumpung gratis.”


“ Memang siapa yang mau ngelaktir kamu. Huh, malu-maluin aja.”


Anita cemberut sambil menggandeng tanganku.


“ Pak Hiro, apa kita langsung masuk. Kurasa pak Aki akan lama.” Kata Wildan.


“ Aki. “ kataku terkejut.


“ Kau terkejut.” Ucap Hiro.


Sebenarnya aku bukan terkejut. Kehadiran Aki pasti akan mempertemukan aku dengan Tante syara. Aku tidak ingin bertemu dengannya.


“ Hoi, “


Belum juga semenit membahas Aki. Ia muncul dari balik kerumunan pengunjung.


“ Maaf telat, aku menunggu Bonia besar untuk dandan.” Ujarnya seraya menarik seorang perempuan yang baru terlihat ketika ia keluar dari beberapa orang yang menghalangi jalannya. Ekspresi Hiro tiba-tiba berubah. Ia seolah mengerutkan dahi dengan wajah yang tidak biasanya.


“ Hiro Kun, Go-kigen ikaga desu ka.( Bagaimana kabarmu)”


“ Yumi Chan.”


Aku tertegun, tak mengerti yang mereka bicarakan.

__ADS_1


“ hallo, O-hayoo gozaimasu. ( hallo, selamat pagi).” Sapa Yumi kepada kami semua. “ Watashi no namae wa Yumi Hayao desu.( Nama saya adalah Yumi Hayao).”


“ Dia bilang namanya Yumi hasao.” Tambah Aki seraya menjadi penerjemah kami. “ Dan Yumi adalah tunangan Hiro.” Sambung Aki.


Tunangan !


Telingaku terasa panas, dadaku terasa sakit, aku ingin marah. Namun, suasananya sepertinya tidak memungkinkan. Aku mengepal kedua tanganku. Menahan perasaan yang bingung, marah, dan bercampur aduk. Hiro sepertinya Cuma diam. Ia tidak tersenyum. Malah ketika Yumi menggandeng tangannya. Hatiku terasa tambah sakit. Aku berjalan di belakang Hiro, memandang tangan perempuan yang menyentuhnya.


“ Kau cemburu.” Ujar Wildan. Ia mengejekku.


“ Tidak.” Jawabku. Mataku seolah menahan sesuatu. Butiran air mata ini tidak boleh keluar. Tapi, entah mengapa aku enggak sanggup untuk menahannya. Air mataku jatuh, aku melepas tangan Anita yang sedari tadi menempel di lenganku. Tanpa sadar aku berlari kabur, melewati kerumunan orang-orang.


“ Mey! “


Hiro berteriak. Suaranya terdengar jelas. Aku menutup telingaku seolah tidak peduli.


“ Tunggu Hiro.” Cegah Aki.


“ Kau tidak boleh mengejarnya.” Kata Aki lagi.” Kau tidak lihat, Yumi jauh-jauh kemari hanya ingin bertemu denganmu. Tidakkah kau tetap di sini.”


“ Oh, ini rupanya rencanamu Aki. Membawa Yumi ke sini hanya untuk menghancurkan hubunganku dengan istriku.”


“ Aku sudah bilang. Akhiri hubunganmu dan menikahlah dengan Yumi. Gadis itu tidak pantas untukmu.”


Plak buk.


Hiro memukul Aki, ia pun terjatuh. “ Aku juga sudah bilang, jangan ikut campur urusanku. Jika kau mau, kau saja yang menikah dengan Yumi. “


“ Sutoppu, on'nanoko no tame ni tatakau? ( Hentikan, apakah kalian akan bertengkar demi seorang gadis.).”


__ADS_1


“ Yokatta. ( Baik)” Hiro mindur selangkah. Lalu, ia pergi meninggalkan Aki yang seolah menertawakan dirinya sendiri.


Sementara, disisi lain. Aku berlari, aku tidak sadar. Jika aku berlari keluar Ancol. Tapi, itu lebih baik. Dengan begitu, aku bisa langsung pulang. Aku berhenti sejenak. Lelah sekali setelah berlari. Keringatku membasahi bajuku. Aku merogoh saku. Mengambil uang untuk membeli minuman. Di saat aku ingin membayar. Sebuah tangan lebih dulu membayar minumanku. Aku melihatnya, memandang wajah yang penuh senyum.


“ Terima kasih.” Ujarku.


“ Kau ingin pulang atau kita cari tempat untuk ngobrol.”


Aku memilih untuk ngobrol sebentar. Karena, lelah. Aku tidak sanggup lagi berjalan ke arah parkiran.


“ Wil, makasih kau sudah bersamaku hari ini.” Kataku mengawali percakapan ketika kami duduk di taman.


“ Enggak perlu sungkan begitu. Tapi, aku minta maaf jika perkataanku tadi membuat kamu marah. Seharusnya aku tak melakukannya. “ sesalnya.


“ Tidak Wildan. Kau benar. Aku memang cemburu. Melihatnya bersama wanita lain, hatiku terasa sakit. Aku pikir, semua hanya sebatas kewajibanku untuk menemaninya. Namun, sekarang sepertinya berbeda. Aku menyukainya. Sangat menyukainya.”


Sakit memang mendengar jika wanita yang disukai, menyukai orang lain. Tapi, apa boleh buat. Cinta memang sulit untuk di paksakan. Seberapa keras Wildan berusaha, di mataku hanya ada Hiro.


“ Apa yang kau suka darinya. Menurut cerita yang kudengar. Kau hanya di jebak oleh sahabatmu.”


“ Dia bukan sahabatku lagi. Aku tidak mengenalnya.”


“ Aku paham. Kau marah, dan merasa sakit hati. Tapi, setidaknya kau bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.”


Perkataan Wildan ada benarnya. Bagaimana pun, semua pasti ada hikmahnya. Awalnya aku tidak menyukai pernikahan ini. Pernikahan yang ku pikir tidak berguna. Tapi, pernikahan ini malah membuat semuanya berubah. Biaya kuliah, krisis keuangan keluargaku, dan keperluanku lainya. Semua itu tercukupi oleh bantuan Hiro. Jika saja aku tidak menikah dengannya, mungkin aku tidak akan melanjutkan kuliahku. Jika aku harus membayangkan semua itu, rasanya hidup ini begitu berat.


“ Akhirnya ketemu.”


Hiro memegang tanganku, ia jatuh duduk di depanku. Nafasnya yang ngos-ngosan membuatnya berkata dengan berat. “ Kita pulang. Pulang kerumah.”


Aku tersenyum, memeluknya erat sekali. Perasaan ini terasa hangat. Aku tidak ingin meninggalkannya lagi, jika boleh egois. Biarkanlah aku sementara seperti ini. Bersamanya begitu membuat aku bahagia. Semua sudah lama dimulai. Jika harus mengakhiri. Maka akan sangat menyakitkan.

__ADS_1



__ADS_2