
Bandara!
Masih jam 10. Ketika kami tiba di bandara. Sambil menunggu waktu keberangkatan, aku menghubungi kak dafha. Semalam aku sudah menelphonnya, katanya ia mau menemui kami di bandara. Memang setengah jam lagi, tapi aku khawatir jika kak dafha akan telat datang.
“ Mey!”
Teriakan dafha cukup keras. Aku sontak terkejut dan malu Karena suara kak dafha menjadi pusat perhatian orang.
“Stt, berisik.” Ujarku. “ Aku pikir kakak enggak jadi datang. “
“ Sebenarnya aku sibuk banget. Tapi, aku dengar dari ibu. Katanya adikku yang bodoh ini, dilamar. Bener enggak?”
“ Enggak sampai segitunya. Aku belum dilamar, masih masa percobaan “
“ Kamu pikir ini tes untuk kerja. Pakai otakmu yang bodoh ini. Mereka jauh-jauh kesini untuk apa. “
Aku cemberut karena kesal dengan ucapan kak dafha yang keterlaluan.
“ Sudah, jangan ribut aja. “ timpal ibu melerai keributan kami.
“ Ohya, Mey. Ini daftar oleh-oleh yang harus kau beli di Jepang. Jangan ketinggalan satu pun.” Kak dafha menunjukkan rentetan tulisan pesannya yang harus ku beli.
“ Kakak pikir aku banyak uang. Mana bisa aku membeli semua ini.”
“ Denger ya, calon suamimu tuh orang berada. Jadi, mintalah sama suamimu itu.” Bisiknya.
“ Kakak pikir, aku cewek matre. Minta ini, minta itu, dengan seenaknya.” Balasku berbisik. Aki yang kebetulan mendengar percakapanku, tertawa.
“ Sudah mau berangkat. Lebih baik, kita mulai bersiap-siap.” Kata Aki ketika suara pemberitahuan terdengar.
“ Selamat jalan gadis bodoh.” Kata kak dafha. Aku hanya mencibirnya dan kemudian kami semua bersiap untuk pergi.
Di dalam pesawat, aku meminta Aki bertukar tempat. Aku ingin duduk dengan Yumi. Ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan.
“ hai, Yumi. “ sapaku ketika pesawat lepas landas.
“ Akhirnya bisa berbicara denganmu juga. Padahal pertama kali bertemu. Aku masih menggunakan bahasa Jepang.” Ujar Yumi.
“ Boleh aku bertanya?”
__ADS_1
Yumi mengangguk.
“ Mengapa kau dan Hiro memutuskan pertunangan?”
“ karna kamu.” Jawabnya.
Aku diam dan menyadari jika aku seperti seorang pelakor (perebut laki orang). Yumi tertawa melihat wajahku yang kaget.
“ Kamu memang polos, Mey. “ Ia menutup mulutnya seolah menekan tawanya. “ Aku memutuskan pertunangan, karena ia tak membalas perasaanku. Lalu, Aki menyatakan perasaanya. Aku pun mulai mencoba untuk bisa menerima aki.”
“ Sekarang, apa kau bisa mencintai Aki.” Tanyaku.
“ Tentu saja aku mencintainya. Aku sadar ketika ia meninggalkanku. Katanya, ia ingin mundur untuk bisa membuatku jatuh cinta. Satu Minggu ia menghilang dari pandanganku. Di situ aku baru sadar, aku membutuhkannya. Bukan sebagai teman, tapi sebagai kekasih.” Cerita Yumi singkat.
“ Aki, bagaimana Khabar Tante syara dan Dina?” tanyaku sambil menoleh kebelakang kursi. Kebetulan ia duduk di belakang kami.
“ Kau ini, benar kata Hiro , selalu terburu-buru dan ceroboh. Jika ingin tanya, lihat situasi ku dong.” Ujar aki seraya melirik Yumi yang duduk di depannya.
“ Syara, menikah kontrak lagi dengan teman Aki.” Jawab Yumi.” Awalnya sih syara enggak mau memutuskan kontrak sama Aki. Akhirnya kami harus mengancamnya dulu. Memang sih ini keterlaluan. Tapi, aku tidak mempunyai pilihan lain.”
“ Dan Dina!” tanyaku lagi.
“ Dia masih bekerja di pabrik pamanku. Dan akhir-akhir ini, aku sempat dengar jika ia menjalin hubungan dengan pak Rosyad.” Jawab Aki dari belakang.
“ Dia pengawas di bagian logistik. Aku tidak begitu mengenalnya. Tapi, aku pernah beberapa kali bertemu dengannya.” Ujar Aki.
Syukurlah akhirnya Dina sudah menemukan kebahagiannya. Aku turut bahagia, ia bisa menjalani hidup ini dengan pikiran positif.
“ Yumi, bolehkah aku bertanya satu lagi. Tapi, ini agak pribadi.” Aku berbisik agar Aki dan lainnya tak mendengar.
“ Mau tanya apa?”
“ Terakhir aku melihatmu tidur bersama Hiro. Apakah kalian melakukannya? Maksudku kamu dan Hiro melakukan hubungan seperti suami istri.” Sebenarnya aku ragu bertanya hal itu, dan khawatir jika Yumi akan marah.
“ Kau mau jujur.”
Jujur! Aku takut sekali mendengar jawabannya.
“ Lebih baik tidak usah di jawab. “ kataku. Aku memalingkan wajahku, menatap ke luar jendela pesawat. Pemandangan diluar pesawat begitu luar biasa. Ini pertama kali aku bisa berada di dalam pesawat. Biasanya aku hanya bisa lihat pesawat yang terbang di langit, atau siaran berita yang membahas tentang pesawat terbang.
__ADS_1
***.
“ Yui, mengapa ayah tidak bisa dihubungi. Bukankah hari ini ada rapat penting.” Kata Hiro yang masuk keruangan Yui tanpa mengetuk.
“ Kurasa kamu bisa mewakili beliau. “
“ Aku tidak bisa. “ Hiro menolak untuk ikut rapat.
“ Ya sudah. Nanti aku saja yang memulai rapat. Tanpa ayah dan tuan muda Hiro.” Yui berbicara seolah menggoda adiknya.
“ Dua hari ini ayah ibu pergi kemana. Aku tidak melihat mereka ketika pulang dari kantor.”
“ Itu Cuma perasaanmu. Beliau berdua selalu ada di rumah. Kamunya aja, pulang dengan kondisi mabuk.”
“ Jangan bohongi aku. Sekretaris Riku bilang, jika ayah dan ibu berlibur ke Indonesia. “
“ Jika itu benar, memangnya salah. Ayahkan pernah bilang, jika ia ingin berlibur ke Bali. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mereka berdua berlibur.”
“ Seharusnya ayah dan ibu mengajakku.”
“ untuk apa mengajakmu. Toh, kamu pernah bilang, enggak akan balik lagi ke Indonesia. Apa kamu lupa.”
Hiro menatap Yui. Ia diam seolah tidak ada balasan untuk membalas perkataan kakaknya.
“ Kalau begitu, biar aku saja yang memimpin rapatnya. Permisi.” Ucap Hiro pamit.
“ Tunggu.” Cegah Yui. Hiro berhenti di tengah pintu. “ Besok malam ayah dan ibu mengundang salah satu kerabat lama. Aku dengar sih. Mereka memiliki anak gadis. Dan ayah bermaksud untuk memperkenalkanmu. “ lanjutnya lagi.
“ Sampai kapan Ayah melakukan perjodohan. Aku tidak tertarik.”
“ Benarkah jika kau tak tertarik?”
Hiro menjawab dengan anggukan.
“ Gadisnya cantik lho. “
“ Aku tidak peduli, dia cantik atau kaya. Yang terpenting aku tidak ingin mengikuti perjodohan ini.”
Selesai berbicara, Hiro pergi. Dan Menghilang dari balik pintu. Yui tersenyum dan berbicara pada dirinya sendiri, “ fufufu,,,, kau akan menyesal Hiro. Menolak perjodohan ini lebih awal. “
__ADS_1
( Note: untuk chafter 28 . Maaf terulang karena ada kesalahan teknis. terima kasih. )