~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )

~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )
episode 7


__ADS_3

Pizza Hut.


Pelayan datang dan memberikan beberapa menu untuk di pesan. “ Aku pesan cheesybites personal cheese dan drinks. “ Kata Dina ketika pelayan menanyakan apa yang akan di pesan.


“ Tante mau apa?” tanya Hiro.


Ibuku tidak menjawab. Ia menunjuk satu pesanan yang paling ia suka, Popping cheese.


“ Kamu ingin pesan apa?”


Kali ini pertanyaan Hiro tertuju padaku. Aku hanya menjawab dengan gelengan.


“ Baiklah. “ kata Hiro sembari menutup buku menu dan memberikannya kembali kepada pelayan pizza. “ Aku pesan Rice omelette-nya dua.” Jelas Hiro.


Setelah pelayan pergi. Hiro menceritakan kejadian yang dianggap Hiro hanya sebuah kesalah pahaman. Cerita yang mulai dari perebutan ojek online, dan berakhir dengan sebuah pukulan yang masih terasa sakit diwajahnya. Tentu saja, ibuku menatapku dengan menghela nafas. Ia tidak mengira jika putrinya akan bersikap kurang sopan.


“ Atas nama putriku. Aku minta maaf. Mungkin meymey masih terlalu kekanakan. Dia baru saja lulus sekolah. Dan kurang paham dunia luar. Jadi, di kemudian hari. Mungkin meymey lebih bisa menahan emosinya dan juga bersikap baik kepada semua orang. “ tutur ibu dengan rasa bersalah.


“ Tidak usah seperti itu Tante. Saya sudah tidak mempermasalahkannya lagi. “ ujar Hiro.


Ini diluar dugaan ku. Hiro memang pintar sekali berkata manis. Jelas terlihat dari sikapnya yang bisa melunakan hati ibuku. Selama 18 tahun aku di besarkan dan di rawat oleh ibu. Ibu tidak pernah mau mendengar penjelasan apapun tentang kesalahan anaknya. Wataknya yang keras, membuatnya tidak mudah untuk memberikan izin mengenai apapun yang menjadi keputusanku dan juga keputusan kakakku dafha. Berbeda dengan ayah. Ayah lebih penyabar dan selalu mempertimbangkan keputusanku dan juga keputusan kakak .


Mungkin aku merasa, ibu sedikit aneh. Dari sikapnya, ibu lebih banyak mempertimbangkan cerita dari Hiro. Ibu lebih santai untuk menanggapi kesalah pahaman yang aku perbuat. Aku berpikir jika kali ini seorang Hiro, menaklukkan sikap keras ibuku dengan kelembutan sikapnya. Ini sungguh menyakitkan dan pukulan berat bagiku sebagai seorang putrinya.



****



Ketika memasuki mobil, Hiro mengungkapkan keinginannya. Dina tak mampu berbicara, mulutnya seolah tersumbat sesuatu. Ia tidak menyangka. Kebaikan, keramahan dan sikap sopan Hiro ternyata semua itu palsu.


“ Kau orang yang paling jahat. Bisa-bisanya kau memintaku untuk menjual harga diri sahabatku. Apa kau sudah gila? “

__ADS_1


“ Itu hanya sekedar negosiasi. So...! Pikirkanlah. Kau tidak perlu terburu-buru untuk memutuskannya. Tapi, ini adalah kesepakatan yang cukup adil. Jika kau bisa membuat Mysha menjadi istri kontrakku. Maka kebebasanmu akan ku beli dari syara. Dan bukan itu saja. Kau akan mendapatkan uang kompensasi untuk kebutuhan hidupmu, plus pekerjaan di perusahaan pamanku.”


“ Tidak,,,! Aku tidak bisa melakukannya.”


“ Tidak perlu menjawabnya sekarang. “


Hiro mengambil map coklat di belakang kursi mobilnya. Dan kemudian memberikannya kepada Dina.


“ Apa ini?” tanya Dina bingung.


“ Surat kontrak.”


“ Bagaimana aku bisa mendapatkan persetujuannya. Ia enggak akan pernah mau untuk menandatanganinya.”


“ Pikirkan dulu caranya. Aku akan menunggu. Tidak perlu buru-buru.”


Senyum Hiro seolah menusuk perasaan Dina. Ada sosok yang begitu menakutkan di balik senyum itu. Bagaiman pun, Dina harus mendapatkan persetujuan sahabatnya. Hal ini tidaklah mudah. Jika harus jujur, itu mungkin saja tidak akan mendapatkan hasil. Lalu, apakah ia harus berbohong.


“ Sejak tadi, kau melamun Din. Apa ada sesuatu yang menjadi pikiranmu. Kalau boleh, ceritakan saja. Siapa tau aku bisa membantumu.” Ujarku.


“ Jika kau jadi aku. Apa kau mau menerima tawaran untuk menikah kontrak dengan orang yang baru saja kau kenal.”


“ Tidak akan mau.” Jawabku tegas. “ karena, aku hanya mau menikah dengan orang yang aku sukai. Yang bertanggung jawab, dan imam yang baik untukku dan anak-anakku.” jelasku.


“ Aku akan menikah dengan Hiro.”


“ Kapan?” potongku.


“ Tiga hari lagi. Tapi,...!” Dina terdiam sejenak. Ia Memandang wajahku yang kebetulan saat itu tidak memandang kearahnya. “ Bolehkah aku memintamu menjadi saksi pernikahanku.”


“ Tentu saja boleh. Mengapa formal begitu sih ngomongnya, Din? Nanti aku akan datang dan tidak akan membuat keributan dengan calon suamimu. Aku janji.”


Dina mendadak mengeluarkan map coklat dari dalam tasnya. Dan kemudian menunjukkannya kepadaku.

__ADS_1


“ Apa ini?” tanyaku.


“ Surat saksi. Di situ ada tanda tangan Tante syara, dan tinggal satu lagi. Jadi aku pikir kau bisa menandatanganinya.”


“ Ok sobatku yang cantik. Apapun akan aku lakukan. Cuma sebagai saksikan.”


Dina mengangguk. Ia memintaku menanda tangani beberapa surat. Pertama surat bertuliskan Saksi pernikahan. Aku sempat membacanya sedikit. Tapi, yang surat paling bawah. Aku tidak berniat membacanya. Aku langsung menandatanganinya. Aku pikir saat itu, isi dalam surat itu semuanya sama. Dan akhirnya, ada beberapa surat yang aku tanda tangani tanpa membacanya terlebih dahulu.


“ Terima kasih.” Ucap Dina. “ Kalau begitu aku pamit dulu.” Sambungnya lagi.


Sebelum pergi, Dina memelukku. Ada serpihan air mata berserakan di bawah pelipis matanya.


“ Maafkan aku, Mey. Kumohon maafkan aku.”


“ Hey, ada apa Din. Kenapa kau meminta maaf.”


Dina menggeleng dan pamit pergi meninggalkanku. Aku tidak mengerti maksud dari kata maafnya. Tidak sekalipun aku tahu apa yang akan bakal terjadi setelah ini. Aku kembali masuk kedalam rumah. Dan tanpa sengaja aku berhenti di depan kamar ibu. Aku tidak berniat ingin menguping pembicaraan ibu dan kak dafha. Tapi, setidaknya aku menjadi ingin tahu ketika ibu berkata, “ Aku menggadaikan sertifikat tanah untuk biaya pendaftaran kuliah meymey. Dan sisa uangnya untuk pembayaran kuliahmu.”


“ Apa sebaiknya aku berhenti kuliah saja. Biar meymey bisa kuliah. Dan aku mencoba mencari kerja yang lain. Yang lebih baik.” Kata dafha.


“ Kamu pikir kuliah kedokteran itu murah. Ibu dan ayah, sudah mengeluarkan banyak uang. Cuma tinggal setahun lagi. Bertahanlah.”


“ Besok aku akan mendaftar ojek online. Ya! lumayan hasilnya bisa untuk uang jajan dan kebutuhan lain. “


“ Apa tidak mengganggu kuliahmu. Belum lagi jam 12 malam kau harus bekerja di diskotik. Aku sebenarnya tak ingin membebanimu. Tapi, tidak ada pilihan lain. Kuliah kedokteran memakan biaya cukup banyak. Selain itu, kamu tidak memberitahu adikmu tentang pekerjaanmu kan. “


Dafha menggeleng.


Diskotik!


Ini mengejutkanku, aku tidak mengetahui jika kakakku bekerja di diskotik. Kuliah, kerja, apapun di geluti kak dafha. Aku yang terus bermain-main, selalu saja tak menyadari kesusahan keluargaku.


__ADS_1


__ADS_2