
+
Cafetaria
Tante syara melambaikan tangannya ketika ia mengetahui kedatangan kami. Aku dan Dina buru-buru menghampiri Tante syara yang memang sengaja menunggu kami di meja no. 7 bersama seorang pria.
“ Lama banget. Apa WhatsApp ku belum di baca?” kata Tante syara sembari mempersilahkan kami duduk. “ Kenapa kamu bawa temanmu sih. Dia cantik lagi. Bisa-bisa ada yang salah paham. Aku udah bilang di WhatsApp, jangan ajak siapa pun termasuk temanmu itu?” bisik Tante syara yang kebetulan sedikit terdengar olehku.
“ Maaf Tante.” Timpalku dalam pembicaraan mereka. “ Aku pamit pulang dulu. “ kataku sembari berdiri dan memohon pamit. Tapi, entah mengapa ketika Dina ingin menahanku. Aku menolaknya dan menepis tangannya. Namun, di saat aku membalikkan tubuhku, melangkahkan kakiku. Tiba-tiba seseorang menabrakku.
Bruk...
Tubuhku Langsung sempoyongan. Aku tidak bisa mengontrol pertahanan tubuhku. Aku merasa hampir ingin melayang. Dan ketika tubuhku terasa benar-benar jatuh. Aku merasakan ada sesuatu yang lembut menahan tubuhku. Sesuatu itu adalah tubuh seorang pria. Pria yang memiliki Wajah cukup tampan, menarik, dan aroma tubuhnya sangat wangi. Aku tersadar sesaat. Rasanya aku mengenali wajah ini. Wajah seorang pria yang mirip sekali dengan tokoh percintaan di dalam komik webstoon.
“ Kau pria sombong yang mencuri ojekku.” teriakan ku membuat pria itu mendorong kasar tubuhku.
“ Seharusnya kau mengucapkan terima kasih. Bukan berkata tidak sopan seperti itu.” Ketusnya sembari berdiri dan membenahi pakaiannya.
“ Jadi benar dugaan ku. Sedari tadi, aku merasa pernah melihat gadis ini. Ternyata dia gadis yang kita interview kemarin. Apa ini Suatu kebetulan atau memang takdir.” Ujar pria yang duduk bersama Tante syara tadi.
Memang sedari awal aku bertemu Tante syara, aku tidak terlalu memperhatikan pria yang duduk bersamanya. Aku malah asyik dengan permainan ponselku.
__ADS_1
“ Jangan kau hiraukan gadis bodoh ini. Aku kesini Cuma sekedar memenuhi undanganmu.” Kata pria yang menabrak ku tadi.
“ Apa kau bilang? gadis bodoh. Kau yang bodoh.” Teriakan ku kali ini membuat pengunjung cafetaria kembali menatap ke arah kami, berbisik dan seolah mencari tahu apa yang telah terjadi.
“ Namaku Aki.” Kata pria yang sejak tadi duduk di sebelah Tante syara, sambil berdiri ia memperkenalkan dirinya. “ Aku suaminya sara. Lebih tepatnya suami kontrak syara.” Sambungnya lagi tanpa basa basi.
Pria ini benar-benar tidak tahu malu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai suami kontrak. Seolah ia tidak peduli jika dari beberapa pengunjung cafetaria mendengar suaranya.
“ Dan ini Hiro Takayama. Ia adalah managerku dan juga sahabatku. Kami sama-sama berasal dari Tokyo.” Jelas Aki.
Entah ini takdir atau kebetulan. Mengapa beberapa hari ini aku harus di pertemukan dengan orang asing. Bukankah pria Indonesia lebih cakep dan menarik. Itu pikirku ketika Aki memperkenalkan dirinya dengan tutur bahasa yang sopan.
“ Maaf pak Aki. “ ucapku sopan. “Aku kemari hanya mengantarkan Dina. Ia memintaku untuk menemaninya. Tapi, sepertinya aku tidak ada berkepentingan di dalam hal ini. Jadi, aku pamit. Dan Terima kasih.” Sambungku dengan penuh sopan.
“ Kabur dan melarikan diri. Apa memang sudah menjadi ciri khasmu? Tidak bisakah kau menghormati temanmu yang mematung seperti itu.” Ketus Hiro.
Dina menundukkan kepalanya seolah malu. Wajahnya memerah ketika Hiro membalas tatapannya tadi. Aku memandang sahabatku. Menatapnya dengan wajah sendu. Bagaimana pun aku sudah berjanji jika aku tidak akan meninggalkannya. Mengapa malah, aku seperti seorang pengecut. Aku putuskan untuk kembali duduk.
“ Ini Dina. Dia Keponakannya syara. “ kata Aki di keheningan kami semua.
Dina mengangkat wajahnya sembari memperkenalkan dirinya kepada Hiro. Hiro sepertinya tidak menanggapi perkenalan itu, ia malah bersikap dingin dengan memandang kesal kearahku. Aku yang merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut, berpura-pura memainkan ponsel.
__ADS_1
“ Jika aku tertarik dengan gadis bodoh ini. Apa kau bisa menegosiasikanya? “ ujar Hiro sembari menunjuk satu jarinya ke arahku.
“ Kau benar-benar pria pencari masalah. “ Timpalku sedikit sinis.
“ Bukankah kamu datang kemari, hanya ingin mencari seorang pria untuk kau jadikan suami kontrakmu. “
“ Kau salah paham, Hiro. “ potong Tante syara. “ Dia bukan gadis yang ingin aku perkenalkan denganmu. “
“ Aku tahu itu. Tapi, maaf syara. Sepertinya aku lebih tertarik dengan gadis ini. Berapapun harganya akan aku bayar.”
Perkataan Hiro membuat aku berdiri dan langsung melayangkan tamparan ke wajahnya.
Plak...!
Kali ini pengunjung cafetaria, memandang kearah kami dengan ekspresi yang penuh ketegangan. Mereka berbisik, bertanya-tanya 'Ada apa?'.
“ Ini adalah pelajaran agar kau bisa menghormati seorang perempuan. Aku bukan perempuan seperti yang kau pikirkan. Keluargaku membesarkan ku dengan penuh cinta dan tanggung jawab. Jadi kau harus ingat batasanmu, orang asing. Kau Cuma numpang di negaraku. Seolah bilang jika kau ke negara kami hanya untuk menanam modal. Padahal kau menjajah kami.”
Perkataan ku kali ini membuat Hiro ikut berdiri dan membalas tatapan mataku dengan tajam. Mata sipitnya menunjukkan jika ia tidak terima dengan tamparan ku dan juga perkataanku.
__ADS_1