
Jika tidak ku lakukan. Aku akan mendapat kesulitan. Bukan itu aja. Keluargaku akan mendapat masalah karena perbuatanku. Seharusnya dari awal, aku tak menghiraukannya. Nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin lagi bubur bisa menjadi nasi. Itulah kata yang pantas aku katakan. Semakin dipikirkan, aku semakin ketakutan. Aku tak memiliki pilihan. Maju atau mundur. Hanya itu pilihannya. Dan sekarang, pernikahan ini baru saja dimulai. Aku sudah menandatangani surat pernikahan. Sekarang aku dan Hiro Syah sebagai suami istri. Dalam keheningan ku, aku merasa tak sanggup menghadapi yang terjadi saat ini. Air mataku tiba-tiba saja menetes.
“ Selamat ya nona manis.” Ujar Aki.
Aku tidak menanggapi kata-katanya, malah aku menatap Tante syara yang terlihat menghindari tatapanku.
“ Kalau begitu aku pulang dulu.” Kata Aki ketika Hiro baru kembali setelah mengantarkan pak damar pulang.
Hiro mengangguk dan mengantarkan Aki keluar. Sementara itu, Syara bergegas membereskan tasnya, buru-buru memasukkan ponsel dan powerbank. Lalu, melangkah pergi.
“ Tante pasti tahu, keberadaan Dina. Dimana Dina sekarang, Tante ?“ kataku dengan menahan Tante syara di pintu keluar.Tante syara cuma diam. Ia menatapku dengan perasaan tidak enak.
“ Aku tahu.” Kata Hiro yang tanpa aku ketahui sudah berada di belakangku. “ Syara tidak tahu apa pun tentang hal ini. Aku akan mempertemukan mu dengan Dina. Tapi, tidak sekarang. Aku ingin kau menenangkan dirimu dulu. Setelah itu, aku berjanji akan mempertemukan mu.” Jelas Hiro.
“ Aku tidak perlu janjimu. Tidak perlu juga simpatimu. Hanya saja, setelah semalaman aku berpikir. Kau menikahiku karena merasa sakit hati ketika aku mengatakan, kau hanya numpang dan menjajah negeri kami kan. Jika memang Cuma hal itu. Aku minta maaf. Jika masih kurang, aku akan bersujud di kakimu pak Hiro Takayama.”
Hiro hanya tersenyum. Ia melangkah, mendekat kearahku. Aku berlahan mundur. Tapi, entah mengapa. Semakin aku menolaknya. Ia semakin melangkah maju. Dan akhirnya, tubuhku tersudut di dinding. Hiro semakin mendekat . Aku sudah tak bisa kabur dan tak bisa mengelak untuk menghindarinya. Ia menaruh satu tangannya di dinding, dekat dengan kepalaku, dan satunya lagi menyentuh lembut ujung rambutku.
“ Jangan takut. Aku tidak akan menyentuhmu lebih dari pada ini. Kita akan mulai dari awal. Jadi, persiapkanlah dirimu mulai dari sekarang.”
Suaranya lembut sekali. Ia seolah memperlakukanku seperti seorang adik. Belaiannya, matanya yang sipit menatapku lembut, senyumnya yang manis membuat debaran jantungku berdetak makin kencang. Aku benar-benar terpesona.
Aki yang terlihat muncul dari balik pintu. Memanggil syara dengan isyarat. Mereka pun pergi tanpa mempedulikan kami.
__ADS_1
Ini terlalu dekat. Badanku mulai panas dan gemetaran. Tanpa sadar Aku mendorongnya. Wajahnya yang semula serius, tertawa kecil. Entah apa yang lucu. Tapi, ia tertawa sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa.
“ Kau benar-benar bodoh dan polos.”
“ Apa kau bilang. Aku bodoh. Kau yang bodoh.” Teriakku.
“ Kemarilah.”
Hiro mengulurkan tangannya. Memintaku untuk membalas uluran tangan tersebut. Aku ragu, jika aku menggapai tangan itu. Apakah yang akan terjadi?. Dengan berlahan aku memberanikan diri melangkah, mendekat kearahnya. Dan kugapai uluran tangan tersebut dengan tangan yang masih gemetaran.
“ Kau tertangkap.”
Hiro menarikku hingga tubuhku jatuh dalam pelukannya.
“ Mengapa? Enggak boleh?”
“ Bukan begitu. Aku hanya masih belum terbiasa.”
Jelas saja aku belum terbiasa. Ini untuk pertama kalinya, aku berduaan di dalam rumah dengan seorang pria. Meski sekarang ia sudah menjadi suamiku. Tetap saja, aku belum terbiasa.
“ Aku harus pulang. Jika kelamaan. Ibu akan menelpon ku dan memarahiku. Aku Cuma bilang kepada ibu, kalau aku kerumah Dina. Jadi aku mohon, biarkan aku pulang sekarang.” Jelasku.
“ Boleh pulang, tapi ada syaratnya.”
__ADS_1
“ Apa syaratnya ?” tanyaku tegas.
“ kiss me.” Bisik Hiro di telingaku.
“ Tadi, pak Hiro kan bilang. Tidak akan berbuat apapun kepadaku.”
“ Jangan panggil aku dengan sebutan pak. Panggil Hiro saja. “
“ Baiklah.” Kataku menuruti maunya. “ Sekarang aku boleh pulangkan.” Sambungku. Kali ini suaraku, ku buat lebih lembut agar ia menuruti kemauanku.
“ kiss me.” Kata Hiro lagi seraya menggerakkan satu jarinya dan memukul pelan pipinya. “ Bukan di bibir. Tapi, di pipi.” Katanya lagi.
Hiro memintaku menciumnya di pipi. Aku belum pernah sekali pun mencium seorang pria. Mau gimana lagi, jam telah menunjukkan pukul 2. Pasti sebentar lagi, ibu akan menelpon. Meski tanganku gemetaran, aku menggerakkan tubuhku sedikit. Memandang wajahnya dengan wajah merona. Hanya ciuman di pipi, aku harus bisa melakukannya. Tanganku berlahan menyentuh pipinya. Lembut sekali kulitnya. Aku baru tahu, jika kulit seorang pria seperti ini. Wajahnya yang tampan, semakin membuatku gugup.
“ Aku tak bisa melakukannya “ kataku.
“ Pejamkan matamu. Dan jangan membukanya.”
Aku menuruti perintahnya. Memejamkan kedua mataku. Di kegelapan, kurasakan hembusan nafasnya yang semakin mendekat. Jantungku berdetak semakin berirama. Aku mengepal kedua tanganku, menahan perasaan takut. Berlahan tapi lembut, ku rasakan sentuhan di bibirku. Hangat rasanya. Aku terdiam kaku, tak mengerti harus bagaimana. Ciumannya mulai bermain, bergerak dan terasa sesuatu mulai masuk kedalam mulutku. Ia melumat bibirku. Menenggelamkanku ke dasar laut yang paling dalam. Aku mengikuti arus, seolah aku mengerti yang dilakukannya. Ketika ia menarik bibirnya. Ia berkata lembut dengan satu jari yang tiba-tiba menempel di bibirku.” Jika tidak suka, kau boleh mendorongku.”
Aku mengangguk. Mataku masih tertutup. Ia kembali mempermainkan bibirku dengan satu jarinya, berlahan ia menarik daguku dan meraih bibirku. Aku tenggelam dalam permainan baru. Ciuman pertamaku ini terasa begitu menggairahkan.
__ADS_1