~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )

~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )
episode 30


__ADS_3

Denenchofu.


Denenchofu merupakan perumahan elit yang bergaya Eropa kelas atas dengan taman yang indah dan jalan-jalan yang mewah. Disinilah keluarga Takayama tinggal.


Sepulang kantor, Hiro sempat mampir kemini market dan tempat lainnya. Ia membeli beberapa bir dan shochu. Setiba di rumah, ia langsung masuk kamar. Melempar jasnya sembarangan dan duduk di pojok kasur. Ia mengambil sekaleng bir, membukanya dan meminumnya.


“ Ini tidak boleh.” Kata Yui dengan merampas bir yang belum sempat adiknya minum.


“ Kembalikan birku.”


“ Tidak sekarang, Hiro. Hanya hari ini saja. Jika kamu mau minum, setelah selesai acara makan malam. Aku akan mengembalikannya nanti. “ Yui mengambil satu kresek bir dan shochu. Ia menyitanya. Sebelum Yui pergi, ia sempat berkata,” Mandi, dan berpakaian lah yang rapi. Karena, sebentar lagi. Tamu ayah akan berkunjung ke rumah. Aku harap kau bisa lebih sopan. “


“ Kakak, tamu ayah sudah datang. Mereka ada dibawah.” Kata Haruto. Haruto adik bungsu Hiro. Ia masih berusia 16 tahun.


“ Ingat Hiro. Berpakaian lah yang rapi. Jangan kau lakukan hal seperti sebelumnya. “


“ Iya.” Jawab Hiro. Ia kemudian mandi.


Sementara kondisi di ruang tamu. Ketika aku baru memasukinya, yang pertama Aku lihat adalah desain ruangan rumah mewah yang bergaya Eropa. Aku duduk di sebelah ibunya hiro. Kami semua pun mulai berbincang dengan bantuan Aki.


Yui yang baru turun dari lantai dua. Memberi salam kepada kedua orang tuaku. Ia wanita yang sopan. Wajahnya mirip sekali dengan hiro. Ia kemudian tersenyum menyapaku.


“ Aku Yui, kakak sulung Hiro. Dan ini Naoki, ia suamiku. Dan di sebelahku adalah adik bungsuku Haruto.”


“ Namaku Mysha, panggil saja dengan Sebutan Mey.”ujarku mencoba mengakrabkan diri.


“ Haruto, cepat panggil Hiro turun. Bilang jika ayah memanggilnya.”


Haruto langsung naik ke lantai atas, dan kemudian masuk ke kamar kakaknya.


“ kak Hiro, ayah meminta kakak untuk cepat turun. Ayah ingin memperkenalkan gadis manis untuk kakak nikahi.”


Hiro menghela napas. Ia hanya mengenakan kaos yang dilapisi baju hem berkerah yang sengaja di biarkan terbuka.


“ Ayo kebawah. “ ajak Hiro dengan mendorong haruto keluar dari kamarnya.


Ketika Hiro menuruni anak tangga, ia berbelok dan masuk ke kamar saburo. Saburo adalah anak Yui. Ia masih berusia 3 tahun.


“ Ayo kemari saburo. “ panggil Hiro. Saburo merjalan imut kearahnya. Hiro kemudian menggendongnya. “ Anak pintar.” Kata Hiro memuji ponakannya.

__ADS_1


“ Ya ampun, Hiro. Ayah menunggumu. Kamu malah bermain dengan saburo.” Yui mengambil anaknya dari gendongan adiknya. “. Cepat keruang tamu. Dan sapa tamu ayah, dan bersikap sopanlah. Baju ini kamu kancingi. Mengapa sih kamu enggak mau mendengar omongan kakakmu. Huh, seterah deh. Kamu pakai baju apa, aku enggak ngelarang. Sekarang cepat pergi temui ayah.” Omel Yui kesal.


Hiro kemudian pergi ke ruang tamu. Ia mengayunkan kakinya dengan santai dan berhenti seketika di tengah pintu. Matanya tertuju pada satu gadis yang duduk di sebelah ibunya. Mengejutkan, bahkan Hiro tak mempercayainya. Matanya tak berkedip, ia kaku seperti patung. Suasana menjadi hening. Tidak ada satu patah kata pun yang memulai untuk menghentikan keheningan tersebut.


Mata Hiro mulai berkaca-kaca. Air matanya tiba-tiba menetes. Ia tidak mampu bergerak ketika melihatku yang menatapnya dengan butiran air mata yang jatuh membasahi seluruh pipiku.


“ Ternyata seorang Hiro, bisa menangis juga. Ini suatu kemajuan.” Perkataan Aki, membuat ayah, ibu, dan kedua orang tua Hiro tertawa kecil.


“ Ohya Aki.” Kata Yui yang baru kembali dari kamar putranya. “ Kata Hiro, ia tidak mau dikenalkan dengan gadis dari kerabat ayah. “


“ Mungkin sebaiknya, haruto saja yang akan aku jodohkan dengan Mysha. Apa ibu setuju?” tambah ayahnya Hiro dengan bermaksud menggoda putranya.


“ Tentu saja ibu setuju.”


Hiro mengusap wajahnya dengan tangannya. Air matanya masih saja tak mampu di bendung. Ia menangis sambil tersenyum dan wajahnya nampak tersipu malu.


“ Tidak boleh. Aku tidak mengizinkannya.” ucap Hiro.


“ Memangnya kenapa tidak boleh? Bukankah gadis ini kau tolak sebelum kau melihatnya. Yui sudah mengatakannya tadi siang. Katanya kau tidak mau di jodohkan.”Ayah Hiro, benar-benar ingin menggoda putranya. Ia terus saja memojokkannya.


“ Bisakah kalian semua berhenti menggodaku. Aku butuh 1 menit saja dengan gadis ini.” Mohon Hiro. Ia memegang dadanya dengan sedikit terisak.


Aku mengangguk dan kemudian meminta izin kepada ayah dan ibuku.


“ Pergilah dan temuilah dia.” Kata ibu. Ia menyemangati aku dengan senyumnya.


Aku berjalan kearah Hiro. Ia masih berdiri di tengah pintu. Berat rasanya langkahku untuk mendekat. Aku berhenti di tengah ruangan. Memandangnya yang masih sedikit jauh dari depanku. Sebenarnya aku takut, jika aku mendekat. Aku khawatir ia tiba-tiba menolak ku, tak menghiraukanku, dan berpaling lagi dariku.


“ Mengapa kau berhenti? “ tanya Aki. “ Mendekatlah kearahnya. “ kata Aki lagi.


“ Aku takut jika ia menolak ku.” Jawabku.


“ Dasar pasangan bodoh.” Gerutu aki yang membuat lainya tertawa.


Hiro memandangku. Lalu, mengulurkan tangannya sambil berkata, “ Kemarilah.”


Aku berlari kecil, meraih tangannya dan memeluknya. Ia mendekapku erat sekali. “ Kau tertangkap.” Ujarnya dengan sedikit mencium kepalaku yang kebetulan bersender di pundaknya.


“ Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku. Tetaplah disisiku Hiro.” Kataku.

__ADS_1


“ Iya.” Jawaban Hiro terdengar parau. Ia tidak peduli dengan mata yang memandang kearah kami. Ia kemudian melepaskan pelukannya. Menatapku, mengusap air mataku, dan ia berkata lagi,” Maukah kau bersamaku, kita akan memulainya dari awal lagi. “


“ Tentu saja aku mau. “ kataku.


“ Ayah.”


Hiro membungkukkan tubuhnya dengan hormat.


“ Maafkan aku.”


“ Maaf untuk apa? “ tanya ayah.


“ Maaf jika tidak jujur. Tapi, terima kasih sudah melakukan hal yang membuatku sangat bahagia.”


“ Menjadi orang tua, terkadang selalu berbuat salah. Tapi, kali ini aku ingin melakukan hal baik buat putraku. Aku memang ingin kau menikah dengan gadis pilihanku. Sayangnya, menaklukkan pendirianmu tidaklah mudah. Pada akhirnya, akulah yang mengalah. Hanya kali ini saja. Selanjutnya bersikaplah lebih terbuka padaku. Agar aku tidak merasa bersalah, menjadi ayahmu. Sekarang, selagi semua sudah berkumpul. Lakukanlah apa menjadi keinginanmu dengan gadis ini. Ayah akan merestuinya.”ujar ayah.


Hiro mengajakku duduk. Lalu, ia membukukan badanya dan memberi kehormatan kepada kedua orang tuaku.


“ Sebalumnya saya minta maaf atas kejadian di masa lalu.. saya akui, saya bersalah. Tapi, jika di ijinkan. Bolehkah saya menikahi putri anda.”


Ibu dan ayah masih tersenyum. Aku tak tahu apa yang di pikirkannya saat itu.


“ Semua sudah terjadi. Anggaplah ini menjadi sebuah pelajaran.” Ujar ayahku.” Sekarang mulailah yang lebih baik lagi. Tapi, bisakah kau menyakinkan ku tentang lamaranmu ini.” Sambung ayahku lagi.


“ Aku berjanji, akan selalu menjaganya, menyayanginya, dan menjaganya sepenuh hatiku. Jadi saya mohon restui kami.”


Ayah dan ibu saling memandang.


“ Bagaimana,Bu? Apa ibu merestuinya? Jika merestuinya, ayah pun juga begitu.”


“ Sebenarnya aku ingin memarahimu Hiro. Kau sudah membuat putriku menangis. Kau tahu, terakhir kau kerumah. Putriku menangis hampir setiap hari. “


“ Ibu jangan di ceritain gitu dong.” Potongku malu. Hiro menahan tawanya sambil melirikku.


“ Itu kenyataan. Kau bilang, kau tak menyukainya. Tapi, mengapa malah menangis. Jadi keputusannya, aku merestui kalian. Dan jagalah putriku baik-baik. Ia anak yang masih polos. Dan masih labil dalam emosi.”


“ Tentu saja Tante. Saya akan menjaganya.”


Kemudian kedua belah pihak dari orang tuaku maupun Hiro, sepakat untuk memboyongku kejepang setelah menikah. Menurut rencana ayahku, kami akan menikah di Indonesia. Dan ayah Hiro setuju. Selain itu, pesta pernikahanku akan di adakan di Jepang. Karena keluarga dan kerabat keluarga Takayama pastinya tidak akan mungkin pergi menghadiri pernikahan kami di Indonesia.

__ADS_1



__ADS_2