~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )

~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )
episode 9


__ADS_3

Tentang pernikahan ini. Aku berniat akan menceritakannya kepada ibu. Siapa tahu, aku akan mendapat solusinya. Tapi, aku khawatir. Tentang masalah denda itu, pastinya akan menambah beban ibu dan ayah. 1 milyar, bukanlah jumlah uang yang sedikit. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Aku takut. Bila aku menikah dengan Hiro, apakah aku bisa melakukan hal yang Hiro inginkan. Bercinta dengan orang yang tidak aku suka. Hal kotor semacam ini pun sempat aku pikirkan. Sekarang tinggal memutuskan. Menyetujui kawin kontrak atau membayar denda.


Semalam aku sempat bertanya kepada ibu.“ Jika salah satu anak ibu memiliki hutang sebanyak 1 milyar. Apa yang akan ibu lakukan?”


Ibu tertawa kecil dan berkata, “ Kamu aneh-aneh saja meymey. “


“ Bu, aku serius.” Ucapku manja.


“ 1 milyar! Bukan uang yang berjumlah sedikit. Ibu tidak punya uang sebanyak itu. Jika salah satu dari kalian memiliki hutang sebanyak itu, mungkin semua yang ibu miliki tidak akan cukup untuk melunasi hutang tersebut. Dan pada intinya, kita semua bisa jadi gelandangan. “


“ Mengapa ibu sampai berkata sedramatis seperti itu sih. Menjadi gelandangan, itukan menakutkan.”


Ibu hanya tersenyum. Andai saja aku bisa mengatakannya. Mungkin senyumnya itu akan seketika menghilang. Jadi ku putuskan untuk berpikir lagi. Aku meninggalkan ibu. Masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselku. Beberapa hari ini aku mencoba menghubungi Dina. Tapi, ponselnya selalu saja tidak aktif. Ia benar-benar menipuku. Tanda tangan untuk saksi nikah itu hanya tipuan untukku. Sedari awal Aku tidak pernah mencuriganya. Ia sahabatku, tidak mungkin ia akan bersikap jahat kepadaku. Jika saja, aku membaca surat itu terlebih dahulu, mungkin aku tidak akan masuk kedalam jebakannya.



***



Meeting selesai sekitar jam 3. Hiro bergegas kembali ke ruangannya. Menutup daun pintu dan melepaskan tubuhnya jatuh diatas sofa. Lelah sekali. Ia memejamkan matanya sebentar. Kemudian melepaskan dirinya dari beban pekerjaan dan ketegangan ketika meeting.


“ Jangan bermain api kecil, kalau kau sendiri sudah tahu akibatnya. Karena, dari api sekecil itu bisa menjadi api yang lebih besar.”

__ADS_1


Suara Aki membuat kedua mata Hiro terbuka. Ia memandang sahabatnya berdiri tepat di depannya.


“ Sejak kapan seorang Aki Todai, bermain filsafat kuno.”


Aki menyunggingkan senyumannya, sebenarnya ia ingin tertawa dengan perkataan konyolnya barusan. Tapi, kali ini seorang Aki ingin berbicara serius dengan sahabatnya, bukan dengan atasannya.


“ Menikah Syah dengan perempuan Indonesia, apa tidak menjadi masalah untukmu dan juga keluargamu. Terutama ayahmu, jika ini di ketahuinya. Akulah yang pertama kali, menjadi sasaran empuk untuk mempertanggung jawabkan hal ini.”


“ Bukankah itu bagus.”


Mendengar jawaban Hiro, Aki menarik tubuh Hiro dan mencekeram bajunya.


“ Semenarik apa gadis itu, hingga kau menginginkanya. “


“ Ini urusanku. Jadi kau tak perlu ikut campur.”


“ Bukan aku ingin ikut campur. Masalahnya, mengapa harus menikah resmi. Bukankah menikah kontrak hanya cukup dengan selembar kertas. “


“ Itu di luar rencana ku. Sebenarnya menikah diatas kertas seolah tidak nyaman. Aku hanya ingin memiliki dia seutuhnya. “


Hiro menghela napas seolah ada sebuah beban mengganggu pikirannya.


“ Itu artinya, kau menyukainya.”

__ADS_1


“ Entahlah, aku masih ragu. “


“ Jika kau ragu, sebaiknya dibatalkan saja. Kasian gadis itu. Kau lihatkan kemarin. Ia mencarimu. Wajahnya terlihat jelas pucat, takut dan merasa tertekan.”


“ Aku tahu itu. Hanya saja aku ingin melindunginya. Kau tidak mengerti, jika pertama kali aku melihatnya, aku merasa tertarik. Dia gadis yang manis. Aku melihatnya lebih dulu, sebelum dia melihatku. “


Hiro mengenang kembali awal pertemuan mereka. Ketika itu, Hiro mendapat pesan dari Aki.


“ Simpangan menuju kawasan macet. Lebih baik kau balik arah. Aku mungkin akan telat. Tapi, pagi ini kau ada meeting kan. Sebaiknya naik ojek online aja.”


Setelah membaca pesan Itu, Hiro meminta supirnya menurunkannya di depan Indomaret. Sudah jam 7 ojek online pasti sudah pada sibuk dengan orderan yang menumpuk. Hiro mengutak-atik ponselnya. Menunggu sebentar orderan ojeknya di terima oleh driver.


“ Eh, coba lihat. Cewek yang memakai baju hitam putih itu cantik banget ya. Wajahnya imut kaya berby.” Suara seorang pria tak sengaja terdengar. Hiro membalikan wajahnya ke pria tersebut.


“ Coba minta no telp nya. Kan lumayan punya cewek cantik, enggak malu-maluin buat kondangan.” Ujar pria itu lagi. Hiro mengerutkan keningnya, ia menjadi ikut penasaran akan cerita pria itu. Matanya yang semula hanya melihat ke satu arah. Kini mencari sosok cewek yang dimaksud pria itu.


Cantik adalah kata yang paling lumrah. Tapi, jika cewek ini memiliki 99% kesempurnaan. Apakah ia masih bisa di sebut tercantik. Matanya yang bulat, rambutnyanya yang panjang, bibirnya yang mungil, kulitnya yang putih, bentuk tubuhnya yang menarik. Membuat mata Hiro tak mampu untuk melepasnkannya dari pandangan. Dia sangat cantik. Inilah awal dimulainya cerita ini.


“ Jodoh. Kau percaya jodoh, Hiro.”


Cerita Hiro di putus Aki, ia mengerti apa yang terjadi. Meski Hiro belum menyadarinya. Tetapi Aki sudah menyadari, jika sahabatnya itu telah jatuh cinta kepada gadis yang akan di nikahinya besok.


__ADS_1


__ADS_2