
Tokyo!
Dalam Translate Indonesia.
“ Kau pria sombong yang mengambil ojekku.”
Kenangan itu teringat kembali. Mata Hiro berkaca-kaca. Suaranya, senyumnya dan kejutekannya adalah hal yang paling indah untuk dikenang. Jika kata bisa mengukirkan segala tentangnya, ia akan mengukir dengan beberapa kalimat.
Kau tidak perlu menjanjikanku bulan dan bintang-bintang!!
Berjanjilah padaku bahwa kau akan berdiri di sisiku, bersamaku untuk selamanya .
Berjanjilah padaku, kau tidak akan pernah meninggalkanku sendirian di dunia ini yang lebih buruk tanpa dirimu.
Berjanjilah padaku bahwa lenganmu akan selalu ada bagiku untuk memelukku erat, ketika aku pergi ke tempat yang aman dan jauh.
Berjanjilah padaku, hatimu selalu milikku selamanya untuk mencintaiku.
Itu saja yang aku butuhkan. Aku mencintaimu, sayangku Mysha.
Oh Tuhan !
Mengapa Perasaan ini begitu menyakitkan. Bahkan untuk bernafas pun ia hampir tak sanggup. Segelas shochu pun tak mampu melenyapkan penderitaannya. Ia mengambil bir, mencampur minuman tersebut dengan mudahnya. Meminumnya dan membayangan wajah Mysha yang seolah makin nyata.
“ Mey, Kemarilah.” Suara Hiro terdengar pelan. Tangannya meraih sesuatu yang kosong. Tapi, di matanya ia melihat Mysha yang berdiri sangat jauh sambil tersenyum. “ Kumohon Kemarilah, istriku yang cantik.”
Tiba-tiba bayangan Mysha menghilang. “ Tidak jangan tinggalkan aku.” Ia berteriak, menangis, dan berusaha berdiri. “ Jangan pergi, jangan tinggalkana aku.” Teriaknya lagi. Langkahnya sempoyongan ketika berjalan menggapai bayangan kosong, dan kemudian ia terjatuh tepat di depan seorang pria setengah baya. Pria itu menatapnya dengan penuh kesedihan.
“ Inikah putraku. Kau terpuruk dalam keadaanmu sendiri. Mabuk-mabukan setiap akhir pekan. Berkata yang tidak jelas.”
“ Ayah, jangan marah dulu. Hiro mungkin dalam masa sulit. Tolong mengertilah.”
“ Kau selalu membela putramu ini. Jika Yui tidak memberitahuku tentang kelakuannya. Mungkin aku tidak mengetahui jika ia kembali seperti dulu. Untung Cuma mabuk, bukan balapan liar. Jika hal itu terjadi, aku akan terus berurusan dengan polisi.”
“ Apa sebaiknya ayah menelpon Aki. Bulan lalu, Yui bertemu Aki. Menurut Yui, Aki akan menikah dengan Yumi. Mungkin karena itu, Hiro seperti ini.”
__ADS_1
“ Bukan masalah Yumi.” Potong anak sulung dari keluarga Takayama. “ Ada beberapa kali. Aku melihat foto di dalam memory ponselnya. Foto seorang gadis. Aku berpikir jika itu pacar barunya. Tapi, setelah aku menyuruh orang mengikutinya. Gadis itu tidak ada di sekitar Hiro. Sepulang dari kantor, Hiro menghabiskan waktu di club atau tempat minum-minum.” Jelas Yui.
“ Kalian berisik, pergi. Dia akan datang jika kalian pergi. “ Hiro mendorong ayahnya. Kondisinya mabuk berat. “ Mey, jangan takut. Kemarilah.”
“ Mey! “ kata ayah ketika mendengar nama seseorang dari mulut putranya yang mabuk.
“Sepertinya nama gadis itu.” Tebak Yui.
“ Kalau begitu, sebaiknya. Kamu mencari tahu tentang gadis itu. Selagi dia mabuk. Kamu bisa mengambil ponselnya, dan mencari tahu tentang gadis itu.” Ujar ibu sambil membantu Hiro naik keatas kasur.
“ Apa itu akan membantunya?” tanya ayah. Ia tidak begitu yakin dengan pemikiran istrinya.
“ Aku ibunya. Aku tahu apa yang di rasakan putraku. “
Ayah diam. Ia kemudian duduk di sebelah putranya. Mengusap rambutnya yang berantakan dan berkata,” Jika memang gadis itu adalah hidup putraku. Meski pun dia bukan berasal dari keluarga yang baik, atau dari kalangan atas. Aku akan tetap merestuinya. Kali ini, biarkan aku membantumu.”
Yui dan ibunya terkejut mendengar perkataan dari pria yang begitu tegas akan pendiriannya. Tidak biasanya ia akan melakukan hal itu. Mengapa sekarang ia akan berkorban demi putranya. Yui yang menikah karena di jodohkan. Tidak menyangka ayahnya bisa sebaik itu. Hiro memang adik yang pendiam dan tertutup. Meski selalu berbuat ulah dengan sikap semaunya. Tapi, di depan ayah. Hiro tetap tidak berani melawan perintahnya.
“ Kalian mengapa Cuma diam. Cepat ganti pakaiannya. Lalu, biarkan dia beristirahat.” Kata ayah, ia tersipu malu ketika istri dan anaknya menatapnya bingung.
Telphon berdering. Aki melihat kearah telphon. Nomor yang tertera, bertuliskan nama tuan Takayama. “ Ayah Hiro. Ada apa ya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Ketika telphon diangkat, telphon pun tersambung dengan si penelpon. Suara pun mulai terdengar dari seberang telphon.
“ Apa Khabar, aki? Maaf jika mengganggumu sebentar.” Suara tuan Takayama terdengar jelas. Aki pun menyapa sopan.
“ Kau pasti bingung. Mengapa aku menelphonmu.”
“ Tidak juga, paman. Kebetulan sudah lama juga kita tidak mengobrol.” Ujar Aki.
“ Mungkin aku akan langsung pada inti permasalahannya. Ku harap kau bisa menjawabnya dengan jujur. Siapa gadis bernama mey? Hiro sering memanggil nama itu. Kau tahu tentang gadis itu?”
Pertanyaan yang bertubi-tubi ini membuat Aki diam. Mey artinya Mysha. Hiro sering memanggil Mysha dengan kata Mey. Menurut Hiro, keluarga Mysha selalu memanggilnya dengan nama meymey.
“ Aku sudah menduga, kalau kau tahu keberadaan gadis itu. Jangan diam saja. Katakanlah, aku tidak mau membuat putraku semakin tidak waras.”
__ADS_1
Berat sekali Aki harus berkata jujur dan menjawab semua pertanyaan pamannya.
“ Iya, paman. Aku tahu dimana gadis itu.”
“ Dimana gadis itu tinggal. Aku akan segera menemuinya.”
“ Paman, sepertinya itu tidak mungkin.”
“ Apa yang tidak mungkin?”
“ ceritanya rumit.”
“ Rumit katamu. Coba ceritakan. Aku mau mendengarnya.”
“ Ini di mulai dari kesalahanku. Aku yang sengaja menggodanya untuk menikah kontrak dengan seorang gadis pilihanku. Tapi, sepertinya takdir berkata lain. Ia bertemu lagi dengan gadis itu, gadis yang meributkan masalah tukang ojek.”
Aki mulai menceritakan segalanya. Dari pertemuannya, keributan dengan gadis itu, penjebakan kontrak, dan ulah Aki sendiri yang berhasil memisahkan Hiro dan istri kontraknya.
“ Sebenarnya mereka berdua saling menyukai. Karena, Mysha tidak mau mengakui perasaannya. Akhirnya aku memanfaatkan kondisi itu untuk memisahkannya. Aku ingin Yumi dan Hiro menikah, dan aku tidak menyangka jika semuanya akan seperti ini.”
“ Kau memang tidak berubah, Aki. Selalu ceroboh.”
“ Maafkan aku , paman.” Sesal Aki.
“ Bagaimana kehidupan gadis itu? Apa dia baik-baik saja?”
“ Kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Mysha. Ia masih kuliah sambil kerja. Meski ia bilang tidak ingin membahas Hiro. Tapi, aku melihat dari ekspresinya. Ia masih mengingatnya. Bahkan sifatnya yang suka blak-blakan jika berbicara. Kini berubah. Ia banyak diam. Tawanya pun terlalu di paksakan. Aku mengerti, ia juga merasakan hal yang sama dengan Hiro.”
“ Minggu ini, kau siapkan kedatanganku ke Indonesia. Aku ingin bertemu dengan gadis itu dan juga keluarganya.”
“ Paman mau apa? Jika Hiro tahu, ia akan marah kepadaku.”
“ Jangan berpikir negatif, aku pergi menemuinya hanya untuk membuat putraku bisa tersenyum kembali. Aku bukan ayah yang mau menambah beban bagi putranya. Sudah cukup bagiku, ia menuruti apa mauku selama ini. Setidaknya, hanya ini yang bisa aku. Lakukan untuknya.”
Benarkah yang di dengarnya. Aki mengenal sifat ayah Hiro yang mengutamakan keuntungan bukan rugi. Baru kali ini, ia mendengar pamannya yang keras kepala itu. Bersikap bijak dan dewasa. Aki berpikir, mungkin ini adalah takdir dari gadis itu. Ia memang di ciptakan untuknya. Seberapa besar usaha Aki memisahkannya, tetap saja Tuhan melindunginya.
__ADS_1