
Mataku terasa bengkak. Seharian aku menangis, menangisi hal yang sudah menjadi bubur. Kalau saja semua bisa kembali, mungkin sore ini aku bisa tertawa, tersenyum bersama ibu dan ayah. Kak dafha, jarang ada di rumah. Ia kakak yang gigih bekerja. Apapun perkerjaannya, ia akan serius menggelutinya. Tapi, akhir-akhir ini. Keuangan di rumah mengalami krisis. Ibu mulai mengurangi pengeluaran dengan menyetok mie dan telor. Tiap hari, Cuma itu yang ada di dapur.
“ Kau sudah bangun.”
Suara Hiro terdengar muncul dari balik pintu. Aku menatapnya. Ia kemudian duduk di sisiku dan menyenderkan punggungnya di sisi bantalku. Tangannya berlahan membelai dan memainkan rambutku.
“ Mau pulang.” Katanya lagi.
Aku hanya menggeleng.
“ Kita keluar cari makan, dan terus shoping, e,,, melakukan sesuatu yang kamu suka.”
“ Boleh aku meminta sesuatu.” Kataku dengan suara sedikit serak.
“ Kamu mau minta apa?”
“ Bisakah kamu mempekerjakan aku di Pabrik.”
Hiro tiba-tiba tertawa. Aku bingung dan akhirnya aku duduk dan memukulnya berkali-kali dengan bantal.
“ Cukup. Aku minta maaf.” Katanya sembari menangkap bantalku dan melempar bantal tersebut ke lantai.
“ Keluargaku lagi mengalami krisis keuangan. Aku berpikir, jika aku bekerja. Mungkin bisa membantu biaya kuliahku dan kuliah kak dafha. “
“ Maksudmu, kau butuh uang.”
“ Iya.”
__ADS_1
“ Kemarilah.”
Lagi-lagi Hiro mengulurkan tangannya. Ia memintaku menyambut tangan tersebut. Entah kenapa, rasa gugup yang biasa aku rasakan. Seolah tidak terasa lagi. Aku menggapai tangannya. Lalu, ia langsung menarik tanganku, tubuhku pun jatuh di pelukannya.
“ Kau tertangkap.” Ujarnya dengan memelukku dengan erat.
“ Aku serius ingin bekerja. Jadi bantulah aku.” Ucapku di sela keheningan kami sejenak.
Ia melepas pelukanku. Berdiri, dan membuka lemari. Mengambil sesuatu yang berbentuk amplop kecil berwarna putih. Kemudian ia kembali duduk dan memelukku dari belakang.
“ Ambil ini, dan pergunakan sesukamu.”
Aku membuka amplop kecil berwarna putih, di dalamnya ada banyak uang kertas ratusan ribu. Jumlahnya kurang lebih sepuluh juta.
“ Aku tidak bisa menerima ini.” Amplopnya aku kembalikan. Tapi, Hiro tidak mau menerimanya. Ia malah tiba-tiba menciumku. Aku sempat terkejut. Mataku masih terbuka, memandang matanya yang berlahan terpejam. Bibirnya mulai bermain, melumat bibirku. Aku bingung, tanganku gemetar. Ia menarik bibirnya dan memandangku sejenak.
“ Pejamkan matamu. “
Ah.,,,!
Desahanku terdengar lirih. Aku terbuai akan gigitan lembutnya. Tubuhku semakin melayang ke udara. Ketika jemarinya menyentuh dadaku, meremasnya dengan kelembutan. Aku semakin mendesah dan pasrah.
“ Sudah cukup.”
Suara Hiro membuatku membuka mata. Aku menggigit bibirku, seolah ada rasa kecewa ketika ia menghentikan permainannya.
“ Setiap bulan. Aku akan memberikan uang untuk keperluanmu kuliah dan juga keperluan lainnya. Jadi kau tak perlu bekerja. Cukup menemani aku saja.”
__ADS_1
Semudah inikah aku mendapatkan uang. Tidak pernah terpikir jika pria ini akan memberikan aku uang. Aku pikir ia pria mesum yang Cuma ingin memanfaatkanku. Kenyataanya ia sangat bertanggung jawab. Seperti seorang suami yang berkewajiban menafkahi istrinya.
***
Kesalahanku yang pertama adalah berbohong kepada ibu tentang pekerjaanku. Selain itu, kebohongan terus berlanjut. Kebohongan kali ini adalah tentang beasiswa. Ibu senang mendengarnya. Tapi, aku tidak begitu senang. Uang yang Hiro berikan, aku pergunakan untuk biaya kuliah dan sisanya aku tabung. Ini tetap menjadi rahasia. Aku harus bermain dalam kebohongan yang sewaktu-waktu bisa menjadi bumerang buatku. Untungnya ibu percaya dengan kebohonganku. Dari segi aku bekerja di luar, ibu tidak menanyakan atau mencurigainya. Dengan begitu, aku lebih mudah berbohong lagi. Memberikan uang gaji dari kerjaku di cafe. Ku pikir, uang tersebut bisa di pergunakan ibu untuk keperluan dapur dan lainnya.
Hari-hari berlalu. Tidak terasa pernikahanku sudah memasuki bulan ke 3. Kebersamaan ku mulai terjalin, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Shopping, liburan ketempat yang aku suka, dan bersantai di rumah. Aku menyukainya. Dia banyak mengajarkan banyak hal, itu terlihat dari cara ia membelikan aku pakaian yang bagus dan bermerk. Perhiasan yang cantik, dan segalanya yang ku inginkan. Kehidupanku terasa mulai berubah. Tapi, itu hanya sebatas aku sebagai istrinya. Jika waktunya aku pulang kerumah orangtuaku, aku menjadi diriku. Berpakaian sederhana dan tidak terlihat lebih seperti seorang istri dari Hiro. Ini semua aku lakukan agar ibu tidak curiga.
Contohnya seperti di kampus. Aku masih seperti diriku di rumah. Berpenampilan biasa, mengenakan bedak tipis, dan sedikit memakai lip gloss. Berbeda dengan Anita, ia selalu mengenakan bedak terlalu tebal. Meski sikapnya centil dan lebay, tidak sedikit pria yang menyukainya.
“ kenapa senyum-senyum.” Kataku ketika Anita terlihat melamun di kursi taman.
“ Emang aku melamun.”
“Jelas terlihat dari mukamu yang sudah setengah error’.”
“ Huh, sirik Lo” kata Anita dengan menggerakkan mulutnya menjadi monyong. Aku tertawa dan duduk di sebelahnya.
“ Kenapa Wildan jarang ke kampus ya. Aku enggak pernah lihat dia lagi.” Tanyaku.
“ Diakan sekarang lagi magang. Katanya sih dia magang di Perusahaan Jepang.”
“ Oh, gitu.”
“ Kamu kangen ya ma dia. Kenapa enggak di WhatsApp aja. Pasti di balas. “
“ Enggak ah. Ntar whashapp ku malah mengganggunya.”
__ADS_1
Sudah lama, aku tidak bertemu dengan Wildan. Terakhir kali aku bertemu, ia lagi ngumpul dengan teman-temanya diparkiran. Aku hanya tersenyum dan ia pun membalasnya. Rasanya aku masih teringat dengan pengakuannya. Suka! Suka seperti apa, aku tidak mengerti. Tapi, jika ditanyakan lagi, mungkin agak canggung. Dan itu akan mengganggu hubungan yang sudah kami jalin. Jadi aku putuskan untuk melupakannya.