
Mobil berwarna silver terparkir di depan rumahku, mobil itu milik Hiro. Ia berdiri, lalu membukuk dengan adat kebiasaan orang Jepang.
“ Silahkan duduk. “ kata ayah. “ Terima kasih kau sudah mau kemari, aku dan istriku memang merasa kaget dengan sesuatu yang kalian lakukan. Maksudku pernikahanmu dengan putriku.” Ayah terlihat sekali memaksakan diri. Beberapa kali ia menarik napas. Seolah ini berat untuk di pertanyakan.
“ Bisakah kalian berdua meninggalkan tempat ini sebentar.” Ujar ibu yang tiba-tiba keluar kamar. Ia memintaku dan kak dafha untuk segera keluar. Aku menolak, tapi kak dafha menarikku dengan paksa. Kemudian ibu duduk di sebelah ayah. Menahan dadanya yang masih terasa sakit. “ Namamu Hiro, aku masih ingat kita pernah bertemu sekali. “
Hiro mengangguk.
“ Waktu itu, aku pikir kau akan menikah dengan Dina. Tapi, mengapa kau tertarik dengan putriku. Padahal kau sudah mengetahui, jika putriku anak dari keluarga yang baik. Mengapa harus putriku. Kaukan bisa memilih wanita yang lebih cantik, dewasa. Putriku hanya seorang anak yang masih labil. Ia belum mengerti dunia luar. Apa penjelaskanku bisa kau mengerti?”
“ Maaf sebelumnya. Mungkin ini salah saya. Karena saya, Mysha menjadi seperti ini.”
“ Poinnya saja.” Timpal ayah memotong perkataan Hiro. “ Kata putraku. Kau pernah bilang, jika kau tak menyentuhnya. Apa benar seperti itu.”
“ Jujur, itu benar.”
“ Tidak mungkin. Kau bohong kan. Mana ada laki-laki memberikan uang hanya untuk sebuah ciuman. Kau pasti melakukannya.”potong ibu.
“ Saya berani bersumpah. Saya tidak pernah melakukan lebih dari pada itu. Meski saya laki-laki. Jika sudah berjanji, saya pasti akan menepati.”
“ Orang tuamu berada dimana?” kali ini giliran ayah bertanya.
“ Di Tokyo. Mereka semua tinggal di Tokyo. Saya anak kedua dari 3 saudara. “
__ADS_1
“ Kau punya adik atau kakak perempun.”
“ Saya punya kakak perempuan.”
“ Bagaimana jika kakakmu mengalami hal tersebut. Apa kau akan marah?”
Hiro diam. Pertanyaan itu tidak pernah terlintas di kepalanya.
“ Sekali pun kau minta maaf. Putriku tetaplah telah ternoda.”
“ Saya tidak bermaksud seperti itu. Jadi maafkan saya.”
“ Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu untuk biaya kuliah putriku. Tapi, sebisa mungkin aku akan mengembalikan uang tersebut. Jadi kumohon beri kami waktu untuk mengembalikannya.” Tutur ibu di sela pembicaraan Hiro dan ayah.
“ Saya tidak meminta uang itu kembali. Saya kesini, ingin menyerahkan ini.” Hiro memberikan 2 map coklat yang kemudian di letakkannya di atas meja.
“ Ini surat kontrak yang ditandangani Mysha. Saya mengembalikannya agar di kemudian hari tidak ada orang yang menyalah gunakannya.”
Ibu mengambil map tersebut sembari berkata. “ Terima kasih sudah membebaskan putriku.”
“ Dan ini untuk Mysha.” Map terakhir di berikan Hiro kepada ibu. Tapi, ibu menolak. Ia mengembalikan map tersebut.
“ Map ini berisikan sesuatu yang penting untuk Mysha. Aku mohon ibu bisa memberikan kepadanya. Karena setelah ini, saya akan pulang ke Jepang dan tidak akan kembali lagi ke Indonesia. Saya harap ibu bisa memberikan ini kepadanya.”
__ADS_1
“ Mengapa kau tidak memberikannya langsung ke mysha? Bukankah Itu akan menjadi lebih baik.”
“ saya tidak bisa. Karena untuk menatap wajahnya saja, saya tidak sanggup. “
“ Baiklah. Aku akan menerimanya. “ ibu mengambil map yang satunya lagi.
“ Kalau tidak ada lagi yang ditanyakan. Saya mohon pamit. “
Hiro meminta izin untuk pergi. Ia keluar dan sempat bertemu denganku. Ia hanya diam dan melewatiku begitu saja. Tanpa menatapku, menyapaku, dan ia pun pergi. Ya Allah. Memang semua sudah benar-benar berakhir. Ia melupakan segalanya. Melupakan kebersamaan kami. Air mataku menetes lagi, aku menutup dengan kedua tanganku menangis sekeras-kerasnya. Ibu keluar bersama ayah. Mereka memelukku.
“ Lupakan yang pernah terjadi. Mulailah dari awal. “ kata ibu. “ Ini ambil. Ia menitipkan map ini kepada ibu. Kata Hiro, ini untukmu.”
Aku membuka map coklat tersebut. Selembar kertas berukuran tebal. Di dalam surat tersebut, tertulis Sertifikat Rumah. Tentu saja aku terkejut.
“ Mengapa ia memberikan rumah itu kepadaku?”
“ Ibu juga tidak tahu. Tapi, katanya. Ia akan pulang ke Jepang dan tak akan kembali lagi ke Indonesia. Jadi kau pikirkan lagi tentang sertifikat rumah ini. Kau boleh mengembalikannya atau tidak. Tergantung pemikiranmu saja. Ibu tidak ikut campur tentang masalah pemberian pria itu. Yang jelas terlihat, ia sepertinya peduli denganmu.”
Peduli kata ibu. Aku bingung, mengapa ibu bisa berpikir jika Hiro masih peduli. Pasti ada sesuatu.
“ Sepertinya kertas ini jatuh.”
Ayah menemukan selembar kertas yang jatuh dari map. Kertas tersebut bertuliskan,” Jangan menolak pemberian terakhirku. Setelah ini, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Jaga dirimu, jangan mudah mempercayai orang lain. Aku khawatir kau akan terlibat masalah. Belajarlah yang benar. Dan jangan lupa. Kunci mobil dan surat-surat nya, aku taruh di dalam lemari pakaianmu di rumahku. Mobil itu milikmu dan rumah itu juga milikmu. Kau bisa menjualnya, untuk biaya tambahan kuliahmu. Terima kasih, mantan istriku. Sayonara (selamat tinggal).”
__ADS_1
Hatiku tambah terluka. Aku memeluk surat tersebut. Menyakinkan diriku, Kalau aku akan baik-baik saja tanpa dia. Sayonara, Hiro. Selamat tinggal, selamat berpisah mantan suamiku dan cinta pertamaku.