
“ Aishiteru” ( Aku cinta kamu )
Hiro tersenyum setelah mengatakan itu kepada gadis yang ia sukai. Lalu, ia memeluk dan mendekapnya dengan lembut. Di taman Ueno, Hiro mengukir sebuah kenangan manis untuk gadis yang ia sayangi. Bunga-bunga sakura yang bermekaran seolah menjadi sebuah saksi tentang pernyataan cintanya.
Hmm!
Hiro menghela napas. Mimpi yang tiba-tiba saja teringat kembali, membuat beban di pikirannya. Hiro kembali menghirup segelas Nescafe yang baru saja di sajikan oleh pelayan.
“ Setelah ini kau mau pergi kemana?”
Pertanyaan Hiro membuat Dina menghentikan percakapannya di dalam ponsel. Sebenarnya Dina begitu malu ketika hiro menatapnya. Mungkin Dina merasa ia telah jatuh cinta dengan pria ini. Ia tidak menyangka jika Tante syara akan memperkenalkan pria yang masih muda dan memiliki wajah tampan. Dan untuk menghilangkan perasaan itu, ia berpura-pura membuka ponsel dan menulis satu pesan ke nomor whatshapp sahabatnya.
“ kau suka shopping, Dina. Jika suka lebih baik kita jalan-jalan melihat beberapa pakaian atau sesuatu yang kau suka. Siapa tau ada yang cocok untukmu.”
“ Sebenarnya aku mau mencari kado untuk sahabatku. Bulan depan Mysha akan berulang tahun. Aku khawatir tidak sempat membeli hadiah untuknya.”
“ kalau begitu sekarang saja. Kebetulan hatiku lagi baik. “
Dina mengangguk.
Mereka naik ke lantai atas. Melihat-lihat sebentar ke beberapa toko souvenolir, aksesoris dan butik.
“ Tunggu dulu.”
Cegah Dina ketika Hiro mengajaknya masuk kedalam butik.
“Ada apa?”
__ADS_1
“ Gimana kalau kita ketoko buku itu. Aku merasa melihat seseorang yang aku kenal.”
Dina berkata seolah ragu-ragu ingin ke toko buku. Dalam pikirannya saat itu, jika benar gadis yang baru saja masuk kedalam toko buku itu adalah Mysha. Mungkin ia tidak dapat menjadikan hal ini menjadi situasi yang lebih baik. Dina khawatir, jika Hiro akan bertengkar lagi dengan sahabatnya. “ Tunggu dulu, Hiro.” Cegah Dina lagi. Ia menarik lengan Hiro. Menahannya agar tidak masuk ke dalam toko tersebut.
“ Kita pulang saja.”
Hiro bingung. Tak mengerti apa maunya Dina. Tidak ingin bertanya, Hiro menyetujui dan menuruti kemauan Dina. Mereka kemudian berbalik arah. Tapi, ketika mereka ingin pergi. Dina menghentikan langkahnya ketika seorang wanita berkerudung biru, berpakaian muslim, dan berusia paruh baya menyapanya. Wanita itu adalah ibu sahabatnya.
“ Dina!”
Dina tertegun, bibirnya sedikit bergetar.
“ Siapa? “ tanya Hiro.
“ Tan...te Lily.” Kata Dina sedikit gagap.
“ Ini calon suami Dina ya.”
“ Maaf, nama saya Hiro Takayama .”
Hiro memperkenalkan dirinya kepada Tante Lily, ia menyadari jika situasi saat itu sedikit menekan dan memojokkan Dina.
“ Bu, ko lama banget, sih” Gerutuku ketika aku melihat ibu masih di luar toko buku.
“ Meymey, cepat kesini.”
“ Ada apa sih, Bu.”
__ADS_1
Ibuku menunjuk Dina dengan menggerakkan sedikit kepalanya.
“ Kau pria sombong, mesum, numpang lagi.”
Teriakanku membuat ibuku menutup mulutku.
“ Kamu enggak sopan. “ ucap ibu marah.
“ Tuh cowok, orang asing yang kelewatan batas. Jadi enggak perlu sopan sama dia.”
Dina menggigit bibirnya. Ia sudah menduga pertemuan ini bakal seperti ini.
“ Maaf Nak Hiro. Putriku memang kurang sopan. Jadi aku permisi dulu. “
Mama menarikku, mengajakku pergi meninggalkan mereka. Tapi, Dina . Ia diam dan tak bisa berbicara sepatah kata pun.
“ Tunggu.” Hiro mencegah kepergian kami. Ia tersenyum, senyum yang manis sekali. Hatiku terasa berdebar melihat pria yang sangat ku benci itu menunjukkan senyumnya kepada ibuku.
“ Bolehkan saya mengundang Tante untuk minum. Mungkin kita bisa mengobrol tentang kesalah pahaman yang terjadi antara saya dan putri tante.”ujarnya dengan lembut.
Entah Hiro Takayama ini orang Jepang asli atau bukan. Bahasa Indonesianya sungguh faseh. Ia bisa menggunakan bahasa formal atau non formal. Ini terbukti dari sikapnya yang ramah kepada ibuku.
Ibu menerima baik tawaran Hiro. Aku dan Dina tak bisa berbuat apa-apa. Kami mengikuti Hiro yang berjalan lebih dulu bersama ibuku. Sikap Hiro terlihat begitu sopan, itu terbukti dari tawa ibuku yang membuatku menjadi kesal.
“ Bagaimana jika kita ke Pizza hut. Kan sudah jam makan siang.” Kataku setelah kami turun ke lantai satu.
“ Ide bagus.” Jawab Hiro, menyetujui usulanku.
__ADS_1
Ibu Cuma tersenyum. Entah apa yang dipikirkan ibu. Tapi, aku menduga ibu merasa mencurigai sesuatu. Dari tatapannya seolah membuat aku khawatir jika ibu menduga yang tidak baik dengan sikap yang di luar dari pengawasannya.