~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )

~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )
episode 25


__ADS_3

9 bulan berlalu begitu cepat. Tidak terasa kuliahku menginjak tahun ke dua. Kak dafha akhirnya lulus sebagai dokter muda yang memiliki prestasi. Ia di tempatkan,di sebuah rumah sakit di Jakarta. Lalu aku, melanjutkan kehidupanku seperti biasanya. Kuliah dan kerja paruh waktu. Kali ini aku tidak berbohong lagi. Aku benar-benar bekerja di cafe yang tak begitu jauh dari kampusku.


Biasanya sepulang dari cafe, kak dafha selalu menjemputku. Kali ini, ia tidak bisa lagi menjemputku. Perkerjaannya menuntutnya untuk menetap di Jakarta. Hari-hariku, kulalui dengan semangat dan seperti remaja lainya. Kehidupan ini belum berakhir, ketika cinta pertamaku pergi. Sebenarnya untuk melupakannya, aku tidak bisa. Tapi, aku menganggapnya hanya sebuah cerita di masa lalu. Masa lalu yang bisa aku kenang, tapi tidak boleh aku ulang. Biarlah menjadi cerita yang indah di hatiku.


Hujan turun lebat, hari terasa gelap. Padahal masih jam 4 Sore. Malah suasananya menjadi suram. Ada beberapa orang yang berteduh di luar. Dan berapanya lagi, masuk ke dalam cafe dan memesan sesuatu yang hangat.


“ Ini untuk meja no.3, Mey. “ kata Mbak ana. Mbak ana adalah penanggung jawab cafe tersebut. Ia di percaya untuk mengelola cafe. “ Hati-hati sama pelanggan satu ini. Ia sedikit bawel. “


Aku mengangguk. Lalu, pergi membawa pesanan. Ketika aku ingin menyajikan, menaruh pesanannya di atas meja, tiba-tiba seseorang tanpa aku ketahui menyenggol lenganku. Pesanan pelanggan meja no.3, jatuh, tumpah di meja. Sontak pelanggan tersebut berdiri dan memarahiku.


“ Maafkan saya.” Ujarku gemetar.


“ Kamu enggak punya mata.” Ketusnya.” Setahuku kau adalah pelayan lama di sini, aku sering melihatmu. Mengapa Cuma bawa sepiring nasi, kau ceroboh. Mata mu kamu taruh dimana.” Ketusnya lagi.


“ Maafkan kami Bu.” Tambah mbak ana yang buru-buru ikut membantuku membersihkan meja.


“ Seharusnya aku yang meminta maaf. Jika aku tidak buru-buru masuk. Mungkin tidak akan terjadi insiden seperti ini.” Ujar seseorang dari belakangku.


Suara itu, seolah tidak asing terdengar. aku merasa pernah mengenal suara tersebut. Aku berbalik kebelakang. Memandang pria yang sangat aku kenali.


“ Aki.”


Aki tersenyum.


“ Kebetulan yang tidak terduga. Apa khabarmu, Mey? Lama tidak bertemu.”


“ Tunggu.” Kata pelanggan yang masih kesal dengan pesanan yang barusan tumpah. “ Aku tidak peduli kalian kenal atau tidak. Bagaimana dengan pesanan ku.”


“ Jika boleh, saya mau mentraktir ibu makan. Anggap ini sebagai permintaan maaf saya. Bagaimana?”


Tampang Aki yang terlihat playboy mampu melunakan wanita yang berusia sekitar 40 tahun itu. Ia langsung tersipu malu-malu.

__ADS_1


“Huh, akhirnya kita selamat.” Bisik mbak ana. “ Aku tidak percaya kau punya teman orang Jepang. Ternyata kau hebat juga. “ sambung mbak ana lagi.


Aku hanya menyunggingkan senyum. Mbak ana tidak mengetahui mengapa aku bisa mengenalnya. Jika ia tahu, mungkin ini tidak bisa di sebut dengan sebuah lelucon. Dari sini, aku berdiri. Menunggu jika ada yang ingin memesan lagi. Tidak terpikir, jika aku bakal bertemu lagi dengan Aki. Melihat Aki seolah aku mengenang kehadiran Hiro. Mataku mulai berkaca-kaca. Mengapa melihatnya seolah aku melihat Hiro. Seharusnya takdir tidak boleh mempermainkan Aku. Sampai sekarang pun, aku tak mampu melupakannya. Senyumnya, tawanya, dan sambutan tangannya. Semua itu masih menghantui ku. Aku berusaha melupakannya. Cara yang pertama yang aku lakukan adalah mencari cinta yang baru. Tetapi ketika Wildan menyatakan perasaannya lagi. Aku malah menolaknya.


“ Mey, nih. “ kata mbak Yanti dengan memberikan secarik kertas ke tanganku.


“ Apa ini?” tanyaku bingung.


“ Pria Jepang itu yang meminta aku untuk memberikannya kepadamu.”


Secarik kertas, aku kemudian membukanya. Ada pesan yang tertulis di dalamnya. “ Jika punya waktu, sekarang aku menunggumu di parkiran depan mini market. “ aku melihat kearah luar. Hujan sudah reda. Orang yang berteduh di teras cafe, satu persatu pergi.


“ jika mau istirahat lebih awal, aku izinkan.” Kata mbak ana. Ia sepertinya sempat membaca surat itu. Aku mengangguk dan pamit keluar.


Di depan cafe, ada sebuah mini market. Di sana aku lihat, Aki menungguku, ia duduk di dalam mobil dengan pintu yang sengaja di buka.


“ Maaf, membuatmu repot. “ ujarnya ketika aku menghampirinya.


“ Bagaiman khabarmu? “ tanya Aki lagi.


“ Seperti yang kau lihat, aku baik, sehat dan selalu bersemangat.”


“ Kau pernah menghubungi Hiro atau dihubunginya.”


Aku tertawa, seolah perkataan Aki begitu lucu.” Hubunganku sudah berakhir. Seharusnya kau tidak bertanya itu, aku sudah melupakannya.”


Melupakannya! Kata itu seolah membuat aku menjadi gadis yang munafik. Aku tidak pernah melupakannya. Bahkan setiap nafasku, aku selalu memanggilnya.


“ Bulan lalu, aku pulang ke Jepang. Aku bertemu dengannya.” Cerita Aki seketika membuat mataku menatapnya. “ Dia banyak berubah. Aku hampir tidak mengenalinya.”


“ Maksudmu, Hiro berubah karena operasi plastik atau berubah jadi Power rangers.”

__ADS_1


Aki tertawa dengan melempar bantal kursi mobilnya kearahku. “ Kau pikir aku sedang bercanda.”


“ Lebih baik tak membahas Hiro, aku tidak ingin mengingatnya. Kepergiannya adalah awal baru kehidupanku. Aku tak ingin kembali ke masa lalu, apalagi mengulang masa lalu itu. Semua hanya sebatas kenangan. Aku mengubur semua itu di sini.” Aku menunjuk dadaku. Mengisyaratkan jika kenanganku bersama Hiro, telah aku simpan ke dalam hati yang paling dalam.


“ Maaf, Aki. Aku telat, salonnya lama sekali. Aku enggak akan ke salon itu lagi.”


Perempuan yang datang dan menghampiri Aki, mengubah suasana menjadi hening.


“ Yumi!”


Yumi tersenyum manis.


“ Kau heran, jika Yumi bisa berbahasa Indonesia.” Aku mengangguk membenarkan perkataannya.” Aku yang mengajarinya. Sekarang kami pacaran, rencananya tahun depan kami akan menikah.”


“ Tapi, Yumi kan tunangan Hiro.” Kataku bingung.


“ Itu dulu. Sekarang ia milikku.” Aki memeluk Yumi dari belakang. Mereka menunjukkan bukti kemesraannya di depanku.


“ Lalu Hiro, bagaimana dengannya.”


“ Katamu, kau tak ingin membahasnya. Tapi, mengapa kau sekarang peduli.”


Doeng!


Perkataan Aki membuat aku malu. Ia tertawa sambil berkata kembali, “ Rupanya kau masih begitu menyukainya. “


“ Bukan begitu. Aku hanya sekedar kepo. Jadi jangan mengira, kalau aku masih memikirkannya.”


“ Meski kau mengatakan, tidak ingin memikirkannya. Tapi, muka bodoh dan polos mu itu seolah mengatakan ' I Miss him'.”


Ini bukan tebakkan, atau ramalan. Meski beribu kali aku bilang ingin melupakannya. Tetap saja, bayangannya mengikutiku. Ia seperti hantu, bergentayangan di setiap nafasku. Jika aku mengingatnya,memikirkannya, mataku akan mulai berkaca-kaca. Perasaan ini terlihat jelas oleh Aki.

__ADS_1



__ADS_2