
Apakah dia marah jika aku berbohong? Pasti dia marah. Perjalanan pulang tadi malam, Hiro tidak berbicara sepatah kata pun. Ketika aku keluar dari mobil, dia langsung pergi.
“ Apa kau marah? “
Pesan yang ku kirim pagi ini, tidak ada balasan. Hari Sabtu, seharusnya aku berada di rumah Hiro. Tapi, aku takut dia masih marah.
“ Hari ini kau tidak kemana-mana kan. “ kata ibu ketika aku ingin masuk ke kamar mandi.
“ Aku mau pergi ke rumah anita. Menurut informasinya, pamannya baru membuka cafe. Dan kebetulan sedang membutuhkan tenaga kerja sebagai pelayan .” Jawabku sambil menaruh handuk ke dalam kamar mandi. Lalu, aku kembali keluar dan menemui ibu lagi.
“ Beberapa hari ini, kau selalu pulang telat. Kemana saja? “
“ Cari kerja sambilan.” Jawabku pelan.
“ Apa kerja sambil kuliah, tidak menggangu pelajaranmu. Ibu khawatir jika kamu kelelahan, nantinya kamu bakal sakit.”
“ Terima kasih ibu sudah mengkhawatirkan aku. Aku pasti akan jaga diri dengan baik. “ ujarku sedikit merasa sedih. “ Menurut Anita, pamannya akan mengatur jadwal kerja bagi yang masih kuliah. Jika hari Senin sampai Jumat, mungkin sepulang kuliah. Dan hari sabtu, Minggu. Akan di potong dengan hari biasa. Dan jam kerja hari Sabtu Minggu, akan di mulai lebih awal. Dari pagi sampai malam.” Jelasku dengan kebohongan. Aku sebenarnya tidak tega berbohong seperti ini. Karena ini mendesak, mau tak mau aku harus melakukannya.
“ Ya , ibu Cuma bisa berdoa. Semoga kamu bisa di terima. Tapi, jika kau tidak sanggup melakukannya. Berhentilah. Dan pokuslah pada kuliahmu.”
__ADS_1
“ wah, ada apaan nih. Serius banget ngobrolnya.” Timpal dafha yang kebetulan baru pulang dari joging.
“ Main masuk aja. Memberi salam pun tidak.” Protes ibu.
Dafha Cuma bisa cengengesan sambil minum air es yang di ambilnya dari kulkas.
“ Ohya Mey, kemarin aku bertemu dina. “
“ Dimana? “ potongku cepat.
“ Di puri. “
“ Bukannya Dina tinggal di TJ. “ tambah ibu.
“ Kemarin aku dapat orderan food ke arah Puri. Awalnya sih Cuma nanya alamat. Ya, enggak di sangka. Aku melihat Dina masuk ke rumah no.17.”
“ Kak dafha sekarang ngojek.”
“ Iya, Mey. Ya,,, lumayan untuk tambahan biaya kuliah. “
__ADS_1
“ Aku juga ingin seperti kakak. Kuliah sambil kerja.”
“ Jangan di paksakan. Kerja sambil kuliah tidak semudah yang kau bayangkan. “ Kata ibu sembari menyuruhku pergi mandi.
Di dalam kamar mandi, aku tak sengaja mendengar percakapan ibu dan kak dafha.
“ Praktek Minggu depan. Bisa membutuhkan uang, kurang lebih tiga juta. Apa ibu punya uang segitu?”
Ibu menghela napas. Berat sekali rasanya mendengar biaya yang akan di keluarkan bulan ini.
“ Uangnya ada. Tapi, uang itu untuk kekurangan pendaftaran kuliah meymey dan kebutuhan kita sehari-hari.”
“ Kemarin, gajih yang ku terima di club’ hanya bisa membayar uang bulanan. Ya, , paling aku akan cari pinjaman dulu.”
“ Jika meminjam uang. Kita akan membayar uang itu dari mana. Mungkin lebih baik, pakei uang meymey saja dulu. Biar nanti urusan meymey ibu saja yang memikirkannya.”
Mendengar kesusahan keluargaku. Hati ini terasa sakit, sedih dan bercampur aduk. Pasti beban yang di pikul ayah dan ibu, pasti begitu berat. Bagaimana aku bisa membantu mereka. Sedangkan aku saja sudah terlibat masalah dengan pernikahan kontrak.
__ADS_1