~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )

~ Kimi Wo Omou Kimochi ~( Aku Selalu Merasakan Yang Sama Sepertimu )
episode 13


__ADS_3

Konon nenek moyang pernah berkata, “ Ciuman itu adalah sebuah mantra dari Cinta.” Apakah kau percaya itu?


Hanya satu ciuman. Pikiranku menjadi kacau. Mungkin ini karena, aku tidak pernah mencoba berpacaran dan malah sering menolak jika ada cowok yang menyatakan cintanya padaku. Kali ini, aku baru merasakan bagaimana memikirkan seseorang. Di penuhi dengan dirinya, seolah membuatku tak mampu menahan untuk ingin bertemu.


Perumahan cluster indah. Di sini tempat aku dan Hiro menikah. Rumah yang memiliki dua lantai dan ber-desain cukup mewah. Tamannya yang di buat minimalis, berkonsep homecoid garden, terlihat indah dan tertata rapi. Aku menyukai taman ini. Rumah yang aku anggap mewah, tidak sebanding dengan rumahku yang minimalis dan sederhana. Wajar saja jika Hiro harus tinggal di tempat semewah ini. Ia memiliki segalanya di bandingkan diriku. Aku berpikir, jika kehidupanku berbeda jauh dengan kehidupannya.


Mobil berwarna silver terparkir di depan garasi. Rupanya Hiro sudah pulang. Aku merogoh kunci rumah di dalam jaketku dan membukanya. Sunyi dan sepi suasana didalam rumah. Aku masuk kedalam, keruang tengah yang ada televisinya. Tetap saja aku tidak menemukan siapapun di sana. Aku menaiki tangga, dan naik kelantai dua. Di sana ada dua kamar. Satu kamar masih tertutup rapat. Dan kamar satunya lagi, terbuka sedikit. Aku mendorong pelan pintu kamar. Kudapati Hiro terlelap tidur diatas kasur.


Ingin sekali aku membangunkannya. Tapi, aku malah duduk dan kemudian memandang wajahnya. Bibirnya yang begitu menggoda terasa mengganggu pikiranku. Aku tersipu seolah menyadari jika aku seperti orang mesum yang memikirkan hal itu. Semakin lama aku memandangnya, rasa kantukku mulai membalut mataku. Tak ku sadari, aku merebahkan tubuhku disisi Hiro yang masih tertidur. Rasa kantukku pun menghilangkan kesadaran ku. Aku ikut tertidur hingga waktu Hiro terbangun, aku tak menyadarinya.


Hiro membuka matanya. Lengannya terasa keram. Ada sesuatu yang menindih lengannya. Dengan setengah sadar, ia menoleh ke samping.


“ Mysha.” Gumamnya terkejut.


Berlahan ia menarik lengannya, dan menaruh kepalaku di atas bantal.


“ Sudah jam berapa?” tanya Hiro kepada dirinya sendiri. Ia kemudian mengambil ponselnya, dan melihat jam menunjukkan pukul 10 malam. Menyadari itu, ia membangunkanku. Aku menolak bangun. Dan malah, berbalik membelakanginya.


“ Mysha, bangunlah. Kau akan dapat masalah jika tidak pulang.”


Aku tak menyahut dan membiarkan Hiro menarik tubuhku.

__ADS_1


“ Bangunlah gadis bodoh. Aku akan mengantarmu pulang.”


Tetap saja aku tak mau bangun.


“ Jika kau tidak bangun. Aku akan menyerangmu. Dan jangan salahkan aku, jika malam ini aku akan membuatmu menangis.”


Mendengar hal itu, aku membuka mata, dan ku dapati wajah Hiro yang begitu dekat.


“ Apa maksudmu? Apakah tidak cukup kau buat aku menangis. “


Hiro tertawa kecil. Ia mengusap poniku hingga berantakan.


“ Jam berapa kamu datang?” tanyanya.


“ Sebelum terlalu malam, sebaiknya kamu kuantar pulang.”


Hiro beranjak dari kasur. Entah mengapa, aku merasa kecewa. Mengapa ia malah memikirkan aku pulang, bukan sebaliknya. Apa sih yang aku harapkan? Apa aku berharap ia menciumku dan menghabiskan waktu semalaman denganku. Berat sekali untuk di mengerti. Jika memang aku menginginkan hal itu. Sebaiknya aku tidak memberi tahunya. Aku seperti wanita murahan yang mesum.


“ Mengapa malah melamun. Ayo pulang.”


Hiro keluar kamar. Tapi, aku malah masih duduk diatas kasur. Aku tidak ingin pulang, tidak ingin meninggalkannya. Aku ingin bersamanya. Mengapa bisa begini. Sepertinya ciuman itu adalah sebuah mantra dari cinta. Sekarang aku mengerti artinya.

__ADS_1


“ Sampai kapan kau tetap di tempat tidur. Sudah jam 10 lebih. Orang tuamu pasti khawatir.”


Mengapa Hiro bersikap baik seperti itu. Padahal ia memaksa aku menikah. Ada apa dengan pria ini. Mengapa sekarang hidupku seolah diatur dengan jadwal darinya. Pulang kuliah, aku harus menjadi istrinya. Dan jam 10 malam, aku akan kembali kerumah ibu. Menjadi putri ibu yang selalu berbakti kepada orang tua. Ini terdengar menyedihkan. Tapi, aku rasa tidak terlalu buruk juga.


“ Hiro.” Panggilku ketika ia menghidupkan mobilnya.


“ Apa ada yang tertinggal?”


Aku menggeleng.


“ Lalu apa?” tanyanya lagi.


“ Maaf.” Ujarku.


“ Maaf untuk apa.”


“ Tadi siang aku berbohong.” Ujarku sedih.


“ Berbohong soal apa?”


“ Sebenarnya aku tidak bersama ibu. Temanku mengajakku nonton. Awalnya aku enggak mau ikut. Mereka memaksaku. Tapi, aku tidak jadi menonton filmnya. Aku memutuskan pulang dan menemuimu. “

__ADS_1


Hiro diam saja. Tidak menanggapi apa yang barusan aku katakan. Rasa bersalah membuatku ikut diam.



__ADS_2