
“ Bagaimana interviewnya ?”
Pertanyaan ibuku membuat aku mematung. Apa yang akan aku katakan, jika sesuatu telah terjadi. Ini sungguh memalukan untuk di ceritakan. Aku sepertinya tidak mampu untuk berbohong. Dengan kepahitan dan rasa sesal, akhirnya aku menceritakan kejadian yang terjadi ketika aku interview.
Semua mata memandangku, aku menundukkan kepalaku seolah ini memalukan. Rasanya aku ingin kabur. Tapi, jika kabur sekarang itu sama saja aku melarikan diri. Dengan bermuka tebal, aku putuskan tetap bertahan walau hanya sebentar saja.
“ Duduklah!” kata pria itu. Ia seolah menghentikan ketegangan di dalam ruangan.
Dalam kondisi bingung dan malu. Aku terpaksa duduk. Wajahku memerah karena malu, rasanya aku tak sanggup untuk menunjukkan wajahku kepada mereka yang berada di dalam ruangan itu.
“ Baru lulus sekolah tahun ini ya. Belum ada pengalaman. “ kata wanita yang berpenampilan cantik dan elegan itu. “ Sekarang, saya persilahkan anda untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.” Sambungnya lagi.
“ Nama saya Mysha Ramadhani. Umur 18 tahun. Saya anak kedua dari dua saudara. “
“ Cukup.” kata wanita itu lagi.
“ Menurutmu, bagaimana cara bersikap menghormati orang lain?”
__ADS_1
Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut pria itu. Aku mengangkat kepalaku, menatap pria itu dengan wajah yang benar-benar kesal. Dibalik pertanyaannya itu, terlihat jelas jika ia ingin membalas perkataan ku yang tidak sopan. Ini Situasi yang ia manfaatkan dengan sebaik mungkin.
“ Pak Hiro , itukan tidak ada di dalam pertanyaan interview.” Kata wanita yang sedari tadi berbicara denganku.
“ Bu Yanti. Mengapa kau memprotes pertanyaan pak Hiro. Kau mau dipecat. Bagaimana pun ia manager kita.” Bisik pria di sebelah Bu Yanti.
“ Tidak bolehkah aku memberikan pertanyaan tambahan. Apa Bu Yanti keberatan?” ujar pria yang bernama Hiro.
“ Tidak, pak. Saya tidak keberatan.” Jawab Bu Yanti. Wajahnya yang cantik terlihat sedikit memucat. Sebenarnya siapa pak Hiro ini. Apa mungkin ia asli orang Jepang. Tapi, anehnya bahasa Indonesianya sangat lancar. Hanya wajahnya yang berbeda dengan pria pada umumnya. Ia tampan, bermata sedikit sipit, berkulit putih cerah, model rambut diagonal fringe, dan gayanya seperti pria K-Pop.
“ Apa jawabanmu? “ tanya pria bernama Hiro itu kepadaku.
“ Maaf, pak. Saya tidak bisa menjawabnya. Sekali pun saya menjawabnya. Itu sama saja saya mengkritik diri saya sendiri. Jadi, saya mohon pamit. Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang telah anda berikan kepada saya. “
Setelah mengatakan hal itu. Aku keluar dari ruangan dan berlari secepatnya.
“ Meymey benar-benar putri ibu yang polos.”
__ADS_1
Kakakku yang tiba-tiba saja keluar dari kamar, ikut tertawa mendengar ceritaku.
“ Adikku memang bodoh.”
“ Mana mungkin aku bodoh. Jika aku bodoh, aku enggak akan lulus dari ujian tes di pakultas unsika.” Protes ku.
“ Putri ayah tidak bodoh. Cuma lain kali jangan seperti itu. Melarikan diri bukan menyelesaikan masalah. Seharusnya yang meymey lakukan adalah meminta maaf kepadanya.” Tutur ayah yang penuh nasehat dan bijak.
“ Ayah seolah membelanya. Padahal Mysha adalah Putri ayah, seharusnya ayah membela Mysha dong.”
“ Bukan ayah membelanya. Ayah hanya memberimu nasehat agar putri ayah bisa sopan dalam bersikap.”
“ Bagaimana pun kita semua akan merasa kalah jika harus melawan omongan Meymey.” Timpal ibu sembari menyiapkan makan malam.
Mendengar perkataan ibu. Kami semua tertawa. Inilah keluargaku. Keluarga yang hangat. Keluarga yang mengajarkanku tentang arti cinta kasih, teman, sahabat dan cara menghormati sebuah ikatan keluarga.
__ADS_1