(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bab Dua Puluh Tiga. (Bukan) Rahim Pengganti


__ADS_3

Dita memegang dadanya. Detak jantungnya terasa lebih cepat karena ketakutan. Dita takut Anggun mencelakai dirinya yang akan berakibat buruk pada kandungan.


Rendra memeluk pinggang wanita itu dan mengecup dahinya. "Jangan takut, aku akan melindungi kamu dan anak kita. Aku tidak akan membiarkan orang mencelakai kamu. Besok, aku akan membawa Raffa suamimu ke sini. Aku akan bertanya, maunya apa?"


"Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan bayi ini!" ucap Dita masih dengan wajah ketakutan.


"Anggun tidak akan menyentuhmu lagi! ucap Rendra dengan mengecup pucuk kepala Dita. Pria itu mengajak Dita naik ke tempat tidur dan memintanya berbaring.


"Jika perceraian aku dan Anggun selesai, aku akan bantu kamu untuk bercerai dengan suamimu itu."


"Terima kasih, Mas. Aku tidak akan pernah lupa dengan kebaikan Mas. Aku tidak mau lagi berurusan dengan pria itu."


Dita berkata dengan sedikit ketus. Dia masih teringat saat Raffa menjualnya dengan Rendra. Beruntung jika saat ini Rendra telah berubah dan memperlakukan dirinya lebih baik.


"Kamu pasti juga benci dengan aku'kan ketika awal bertemu?" tanya Rendra. Pria itu ingat pertemuan pertamanya dengan Dita. Wanita itu sampai berteriak dan mencoba kabur. Selalu menangis dan ketakutan jika berhadapan dengannya.


"Benci dengan Mas? Aku nggak bisa jawab." Dita tidak berani mengatakan apa. yang dia rasakan saat pertama bertemu Rendra. Perasaan benci itu memang dirasakan.


"Aku tahu, kamu sangat membenciku. Itulah makanya kamu berusaha kabur."


"Apa Mas tidak akan marah jika aku berkata jujur?" tanya Dita. Dia takut Rendra akan marah dan kembali kasar dengannya seperti awal dia tinggal di sini.

__ADS_1


Saat ini perubahan sikap Rendra dengannya jauh lebih baik. Rendra tidak pernah membentak atau memarahi dirinya lagi. Rendra juga sangat perhatian dengan semua kebutuhan dirinya.


"Aku nggak akan marah jika yang kamu katakan itu emang benar adanya!"


"Nggak mau. Yang penting saat ini, Mas sangat baik dan perhatian. Buat apa aku mengenang sesuatu yang telah berlalu. Hidup itu terus berjalan maju, jangan memandang kebelakang."


"Bijak banget sih!" ucap Rendra mengecup bibir Dita. Wanita itu memandangi wajah Rendra dengan penuh keheranan. Apakah telah menjadi hobi bagi Rendra saat ini, selalu mengecup dan menciumnya.


Satu jam kemudian, Rendra mengajak Dita turun ke lantai bawah untuk makan siang. Saat sampai di meja makan, ternyata ada Dicky yang sedang serius dengan laptopnya. Mungkin sedang mengecek pekerjaan kantor.


"Kau masih di sini?" tanya Rendra. Dicky kaget dan langsung menengadahkan kepalanya memandangi Rendra.


"Aku sedang membalas email yang masuk. Sepertinya Bapak lusa harus berangkat ke Singapura. Ada masalah sedikit."


"Besok aku berangkat. Kira-kira satu minggu. Akan aku tuntaskan. Jika bisa cepat aku usahakan sebelum satu minggu. Selama aku di Singapura, Dita kamu bawa ke rumahmu. Biar dia tinggal dengan ibu."


Rendra memanggil Ibu juga dengan orang tua Dicky. Ibu Dicky juga sangat menghormati dan menyayangi Rendra. Walau pria itu kelihatan sedikit kejam, tapi dengan orang yang lebih tua Rendra sangat menyayangi dan menghormatinya.


"Baik, Pak," jawab Rendra.


"Besok aku ke Singapura. Paling lama satu minggu.Setelah itu baru Dicky membawa suamimu ke sini. Kamu jangan takut, aku pasti akan membantu perceraian kamu. Aku selesaikan dulu masalah perusahaan ini." Rendra menatap Dita dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Aku mau selama aku berada di sana, kamu tinggal bareng orang tua Dicky. Aku nggak mau Anggun datang ke sini dan mencelakai kamu," ujar Rendra selanjutnya.


Rumah kediaman orang tua Dicky tidak diketahui Anggun. Karena Rendra tidak pernah mengajak istrinya itu ke sana.


Dicky pamit karena tidak ingin mengganggu makan siang atasannya itu. "Kalau begitu aku pamit dulu, Pak. Besok aku kembali lagi untuk mengantar Bapak ke bandara."


"Kenapa pamit? Makan dulu. Nggak baik menolak rezeki. Hidangan telah tersedia kok dianggurin," ujar Dita.


"Aku makan di luar aja, Bu."


"Jangan makan di luar. Lebih enak makan masakan rumahan. Betul'kan Mas?" tanya Dita.


"Dita benar. Sebaiknya kamu makan dulu sebelum pergi. Duduklah!" ujar Rendra.


Dicky kembali duduk. Jika Rendra yang udah bicara, pria itu tidak berani membantah. Rendra yang tumben manjanya minta Dita menyuapi dirinya. Dicky hanya melirik melihat kemesraan Dita dan Rendra.


Dicky heran, kenapa Rendra bisa begitu manja dengan Dita.Jika dengan Anggun, makan satu meja saja jarang mereka lakukan. Apa lagi makan dari satu piring yang sama.


...****************...


Selamat pagi. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.

__ADS_1



__ADS_2