(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bab Lima Puluh Satu


__ADS_3

Dita menyusui putranya Kavi. Sementara Rendra berbaring disamping Dita. Rendra mengusap kaki putranya mungil. Dia bahagia karena akhirnya dapat memiliki keturunan.


Dita meletakkan Kavi di samping Rendra saat putranya itu telah terlelap. Wajah Rendra perpaduan antara wajah Daddy dan Mommy-nya. Sangat tampan.



Rendra tidur dengan tubuh miirng disamping Kavi sambil memegang pipi gembul putranya itu.


"Mas, jangan diganggu! Kavi-nya baru aja tidur, nanti kebangun lagi," ucap Dita melarang suaminya itu yang mencubit kecil pipi gembul Kavi.


"Sayang, sampai usia berapa Kavi putra kita menyusui dengan Mommy-nya?" tanya Rendra.


"Kalau bisa sih sampai usia dua tahun, Mas. Tapi jika ASI-nya nggak ada lagi ya terpaksa dengan susu formula sepenuhnya," jawab Dita.


Putra Rendra dan Dita, memang diberi ASI siang hari hingga sore. Hanya pada malam hari ia diberi susu formula agar Dita bisa istirahat penuh, itu keputusan yang dibuat Rendra ketika Dita bersikeras memberi ASI. Rendra maunya Kavi di beri susu formula sepenuhnya tapi istrinya Dita tidak setuju. Makanya selama di rawat kemarin dia berusaha memberi ASI sampai putranya bisa.


"Berarti giliran Daddy nya lama lagi? Dua tahun lagi baru bisa nyusu dengan Mommy-nya?" tanya Rendra dengan mimik lucu.


"Mas Rendra, pikirannya masih mesum saja saat saat begini. Masa mau saingan ama Kavi!" ucap Dita cemberut.


"Sayang, aku juga ingin sehat. Bukan Kavi aja."


"Mas ... kenapa sih mesum gitu! Apa jangan-jangan Mas nggak mau aku hamil takut saingan dengan anakmu?" tanya Khayra curiga.


Belum sempat Rendra menjawab,terdengar suara pintu kamar mereka diketuk. Rendra tahu itu pasti Dicky. Dia akan mengetuk pintu sebanyak delapan kali jika ada hal penting yang ingin disampaikan.

__ADS_1


"Aku keluar dulu. Kamu istirahat aja." Rendra mengusap rambut Dita.


"Mas mau kemana?" tanya Dita heran. Bukankah Rendra janji tidak akan ke kantor hingga anak mereka berusia satu bulan dan Dita telah pulih benar kesehatannya.


"Itu pasti Dicky yang mengetuk. Ada hal penting yang ingin dia katakan. Aku hanya ke ruang kerja. Jangan takut!"


"Baik, Mas."


Rendra berjalan meninggalkan Dita dan putranya. Pria itu langsung menuju ruang kerja. Dicky telah menunggu di sana. Rendra langsung duduk di kursi kebesarannya.


"Ada berita apa? Sepertinya penting?" tanya Rendra.


"Anggun baru menghubungi saya, Pak!"


"Apa lagi yang wanita itu inginkan?" tanya Rendra malas.


"Kenapa dengan Doni?"


"Dia menipu Anggun. Uangnya habis di bawa kabur. Emas dan perhiasan juga. Doni juga menggadaikan sertifikat rumah yang Bapak berikan, yang saat ini ditempati Anggun!"


"Bukankah meminjam uang dengan sertifikat membutuhkan tanda tangan Anggun sebagai pemilik? Berarti wanita itu yang telah mengizinkan sertifikat untuk dijadikan agunan."


"Betul, Pak. Doni meminjam uang dan sertifikat itu atas jaminan dari Anggun. Pria itu mengatakan akan mendirikan satu perusahaan, dan Anggun percaya. Setelah satu bulan berlalu, sampai hari ini Doni tidak ada kabar. Nomor ponselnya sudah tidak aktif."


"Itu kesalahan Anggun. Kenapa begitu bodohnya! Mau di tipu anak ingusan. Cinta membuat dia bodoh, dungu dan idiot!" ucap Rendra.

__ADS_1


Padahal Rendra ingat jika Anggun termasuk wanita yang pintar. Di sekolah selalu juara. Memang betul kata-kata pepatah, jika cinta bisa mematahkan logika.


"Terus apa yang wanita itu inginkan?"


"Bu Anggun meminta bantuan kita untuk mencari keberadaan Doni."


"Jika pria itu kita dapatkan, mau dibuat apa? Yang izinkan menggunakan agunan juga Anggun. Yang memberikan perhiasan secara sadar juga dia."


"Bapak betul. Pangacara Anggun juga tidak bisa berbuat banyak jika pria itu ketangkap. Ada surat perjanjian yang Anggun tanda tangani, jika dia dengan sadar dan tanpa paksaan memberikan semua pinjaman itu dan waktu pengembalian tidak teebatas."


Rendra tertawa mendengar ucapan Dicky. Dia telah menduganya dari awal. Jika Anggun suatu hari pasti akan di tipu pria itu. Itulah salah satu alasan Rendra tidak memberikan perusahaan atas nama Anggun.


"Biarkan saja dia mengurus sendiri! Itu kesalahan dan kebodohannya. Biar dia terima konsekuensi atas apa yang telah dia lakukan. Jika dia telah menyerah. Baru kamu bantu!"


"Baiklah, Pak."


"Besok kamu bawa Tasya adikmu ke sini. Kejutan buat Dita. Dia sering mengatakan rindu dengan adikmu itu!" ucap Rendra.


"Baiklah, Pak," ucap Dicky.


"Bawa saja ibu sekalian. Aku mau ke kamar lagi. Aku pikir berita penting apa!" Rendra mengomel sepanjang langkah kakinya menuju kamar.


...****************...


Selamat sore. Happy weekend. Semoga semua sehat dan dalam lindungan Tuhan. Aamiin.

__ADS_1


Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.



__ADS_2