
Selamat Siang. Mama mau promosikan novel adik mama. Bisa mampir sambil menunggu bab ini update.
Waktu berlalu, Senja seolah menemukan dunianya. Dia begitu antusias menulis cerita itu, merangkai setiap kata sehingga membentuk sebuah cerita jemarinya yang lentik dengan lincah menari-nari di atas keyboard laptopnya
Kepalanya penuh dengan ide, ketika buntu dia akan memanggil Dinda, menyuruh gadis itu untuk duduk di hadapannya dan membayangkan bagaimana kalau Dinda berada di dunia novel.
Begitulah penulis, ketika ide itu bermunculan maka waktu tidak terasa. Ide akan mengalir begitu saja dituangkan melalui jemari yang lincah bergerak merangkai kata di atas toots laptop.
Dua minggu berlalu perjanjian untuk menyerahkan 30 bab pertama bahkan kini sudah rampung 45 bab. Dia sendiri merasa kaget bahwa dia mempunyai kemampuan luar biasa seperti itu.
"Dindaaaaa, lama banget sih lo! Buruan, kita terlambat nanti," pekik Senja yang berdiri dengan tidak sabar di depan pintu. Sudah lima menit dia menunggu Dinda, gadis itu belum juga keluar dari dapur.
Mereka akan berangkat menemui Edward untuk memberikan naskah 30 bab pertama, tapi ketika hendak berangkat, Senja malah meminta Dinda untuk membuatkannya lemon tea yang ingin dia minum di mobil.
Dinda berjalan buru-buru tanpa sengaja cake yang dia bawa untuk menemani lemon tea Senja nantinya, jatuh dan mendarat mulus di sepatu Senja.
Dinda menatap potongan kue itu dengan raut wajah ketakutan. Habislah dia saat ini!
"Dasar brengsek! nggak berguna banget sih, lo?!" maki Senja dengan penuh emosi. Sepatu itu adalah sepatu kesayangannya, sepatu yang paling disukai di antara semua koleksi sepatu mahal miliknya.
"Sorry, Ja, gue nggak sengaja, sumpah. Gue buru-buru, pas nutup wadahnya, cake nya malah jatuh. Gue minta maaf banget ya," jawab Dinda memohon. Dia segera berlalu ke meja mengambil beberapa helai tisu di tempatnya dan berniat untuk membersihkan sepatu Senja, tapi gadis itu mendorong kakinya ke belakang.
"Lo ambil pakai mulut lo, bersihkan pakai mulut lo!" ucapnya dengan nada tinggi.
Dinda yang mendengar menatap kaget ke arah Senja. Gadis itu memang sering melakukan hal-hal gila tapi dengan menyuruhnya membersihkan sepatu memakai mulutnya, tentu saja itu di luar nalar.
Dia terlalu tidak punya hati memerintahkan hal seperti itu kepada asistennya. Dinda bukan pelayan, dia asisten sekaligus manager Senja, seharusnya dia diperlakukan dengan baik.
__ADS_1
"Ja...." ratap Dinda berharap gadis itu mau mengubah keputusannya. Juminten yang berdiri di tempatnya ikut merasa marah atas perlakuan Senja yang semena-mena kepada Dinda.
"Non Senja sungguh keterlaluan! kasihan non Dinda diperlakukan seperti itu, tidak punya hati!"" umpatnya dibalik gorden.
"Lo lakukan sekarang juga atau lo gue pecat!" ancam Senja mengepal tinju. Kali ini dia benar-benar marah, dia menatap sepatu kesayangannya yang dianggap lebih berharga daripada harga diri Dinda.
Dinda tidak punya pilihan lain, dia putus asa. Tidak mungkin dia memilih untuk berhenti saat ini, dia memerlukan uang untuk keluarganya.
Dinda menunduk dan dengan mulutnya mengangkat kue itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Dengan tisu di tangannya Dinda membersihkan sepatu Senja, air mata yang menetes tepat mengenai sepatu itu.
Senja melihat hal itu semua, tapi moralnya tidak bergeming. Dia tidak merasa kasihan ataupun menyesal, justru puas telah menghukum Dinda.
Setelah sepatu itu bersih, dia beranjak dari sana dan masuk ke dalam mobil. Dinda tergopoh-gopoh mengikutinya dan duduk di samping Senja.
"Lo duduk di samping pak Naryo, gue ogah duduk di samping lo! gue lagi kesel sama lo tau, nggak?" makinya.
Kali ini mereka bertemu di lobi hotel tempat Edwar menginap. Senja tidak mengerti melihat pria itu, kenapa harus menginap di hotel? Memangnya dia tidak punya rumah? tapi Senja tidak peduli. Dia tidak mungkin menanyakan hal yang tidak penting baginya, dia datang menemui pria itu untuk membicarakan mengenai setengah dari honor yang harus diberikan kepada Senja.
Tidak lama Eko muncul. Dia juga di-calling oleh Edward untuk membicarakan masalah naskahnya.
"Tidak seperti pertemuan pertama, kali ini Edward lebih banyak bicara. Bahkan dia yang pertama kali meminta naskah mentah Senja. Dia membaca beberapa lembar lalu menutupnya.
Senja yang sejak tadi mengamati hanya bisa mengurutkan kening, setidaknya naskah itu terdiri dari 100 lembar tapi Edward hanya memilih membaca lima lembar saja. Apa gunanya dia meminta 30 bab, kalau dia hanya membutuhkan lima lembar untuk membaca ceritanya?
Senja berpendapat, kalau pria itu memang sengaja ingin membuatnya marah. Pria itu berusaha untuk mencoba menguji kesabarannya tapi Senja yang sudah merasa menang tidak terpancing, dia dengan tenang menanggapi dan menunggu tanggapan pria itu.
"Cerita ini lumayan, walaupun tidak luar biasa, tapi bolehlah. Saya setuju dengan cerita ini," ucapnya melempar naskah itu ke depan Senja. "Tom segera kirim dana setengah dari perjanjian ke rekening gadis ini, begitupun kepada Eko agar dia bisa menyiapkan bahan produksi dan merekrut pemain," perintahnya kepada asistennya yang juga memiliki wajah dingin sepertinya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi Edward berdiri dari duduknya. Tidak mengucapkan salam perpisahan, pergi meninggalkan mereka bertiga.
Setelah Tommy sang asisten ikut menyusul langkah Edward, Senja mulai mengeluarkan amunisi amarahnya.
"Gue bener-bener nggak ngerti lagi sama itu orang, pengen gue cekik tahu nggak!" umpatnya kesel. Amarahnya kali ini disalurkannya kepada Eko, dengan memaki pria itu tidak becus memilih sponsor.
"Jangan marah sama gue dong, Ja. Lo tahu kan, masa pandemi kayak sekarang ini susah untuk mencari donatur, ini aja syukur-syukur kita dapat, malah lebih dari ekspektasi kita. Lo sabar aja yang penting lo kerjakan apa yang dia mau," ujar Eko mencoba mendinginkan kepala Senja.
Setelah pertemuan itu Senja ingin merilekskan pikirannya. Dia meminta Naryo membawa mereka ke salah satu mall terbesar yang ada di kota itu, apalagi yang akan dilakukan Senja kalau bukan shopping.
Hanya menghambur-hamburkan duit lah salah satu cara yang bisa menyenangkan hati wanita itu.
"Din, segera lo hubungi Satria, suruh dia segera datang ke sini, cepat! Setengah jam dari sekarang dia harus sudah tiba di sini!" perintah Senja.
Tanpa berlama-lama Dinda pun melakukan apa yang diperintahkan Senja. Dia tidak ingin dimaki, terlebih ini di hadapan umum. Senja tidak pernah memilih tempat kalau untuk memakai orang, jadi lebih baik dia melaksanakan apa yang diminta oleh gadis itu.
Seperti yang diperintahkan, setengah jam kemudian Satria sudah datang dan berdiri di hadapan Senja. Dia menemani gadis itu keluar masuk toko. Begitupun dengan Dinda, ketiganya sudah biasa jalan bertiga.
Dinda akan kebagian menjadi tim pembawa barang, sementara Satria menenteng tas Senja.
"Sayang, boleh nggak kalau aku minta jam baru?" tanya Satria mulai mengeluarkan rayuannya.
"Ambil saja apa yang kamu inginkan. Lo juga, Din, ambil yang lo mau," ucapnya.
Terima kasih
__ADS_1