(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bonchap lagi.


__ADS_3

Dicky mengkukung tubuh Zahra dibawahnya, saat ini mereka berdua sudah dalam keadaan polos.


Zahra yang baru pertama kali sedekat dan seintim ini dengan seorang pria merasakan gelenjer aneh.


Dicky yang terus saja mencumbu tubuh Naura, membuat wanita itu mulai bergairah. Ia merem*s bahu Dicky menahan gejolak rasa di dadanya.


Zahra merasakan sesuatu yang keras dan besar menyentuh bagian inti tubuhnya. Ia ngeri membayangkan jika benda itu akan memasuki tubuhnya.


"Kamu telah siap untuk melakukannya," bisik Dicky.


"Aku takut," cicit Zahra.


"Aku juga baru pertama melakukannya, aku akan melakukan dengan pelan."


Zahra mengangguk sebagai jawaban atas perkataan Dicky. Pria itu mulai mengarahkan miliknya ke inti tubuh Zahra. Baru menyentuh sedikit, terdengar rintihan kesakitan dari mulut istrinya itu. Ducky menghentikan sejenak.


"Sakit banget ya, padahal belum masuk," gumam Dicky.


"Perih, aku takut ...."


"Kita coba lagi ya, perlahan aja."


Dicky kembali mencoba mengarahkan miliknya memasuki bagian inti tubuh Zahra. Dicky seperti menyentuh suatu pembatas. Dia terus mendorong miliknya agar dapat menembus penghalang itu. Zaara merem*s ujung sprei menahan perih. Air mata mulai menetes dari sudut bibirnya.


"Kita lanjutkan nanti saja," ucap Dicky melihat Zahra menangis.


"Kamu nggak apa-apa jika kita lanjutkan nanti malam," cicit Zahra.


"Nggak apa, aku takut menyakiti kamu."


Dicky bangun dari atas tubuh Zahra a. Dengan tubuh yang masih polos Dicky mengambil pakaian mereka yang berserakan. Zahra melihatnya dengan sedikit heran.


"Kamu pernah melakukan hubungan dengan wanita lain," gumam Zahra namun, bisa masih dapat di dengar Dicky. Pria itu duduk di sisi ranjang dan memasangkan kembali penutup dad* istrinya itu.


"Kenapa kamu tanyakan itu? Kamu nggak percaya aku masih perjaka."


Tangan Dicky cekatan memakaikan kembali baju Zahra. Setelah itu ia memakai kembali pakaiannya.


"Tapi kamu kok nggak malu tanpa pakaian di depan aku."

__ADS_1


"Kenapa malu? Kamu itu sekarang istri aku."


"Seharusnya malu, karena kamu nggak pernah begitu."


"Kamu aja yang malu," ujar Dicky mencubit hidung Zahra.


Baru saja Dicky ingin merebahkan lagi tubuhnya, terdengar suara ketukan di pintu.


Zahra ingin membukanya, tapi di larang Ducky. Dia yang berjalan membuka pintu. Tampak Tasya berdiri dibalik pintu.


"Mau apa?" tanya Dicky. Beruntung mereka berdua telah berpakaian lagi.


Tanpa menjawab pertanyaan Dicky, adiknya itu masuk ke kamar dan langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.


Dicky menutup pintu dan duduk di tepi ranjang bergabung bersama Zahra dan Tasya.


"Kamu mengganggu aja. Nggak ngerti apa abang kamu ini pengantin baru."


"Emang abang mau ngapain? Jangan bilang kalau abang dan Mbak Zahra mau itu tadi?" tanya Tasya tanpa malu.


"Ngomong apa sih," ucap Zahra yang malu.


"Jangan sembarangan bicara," ucap Dicky.


"Aku nggak asal bicara. Leher Mbak Zahra buktinya. Banyak cap nya." Tasya tak bisa menahan tawanya. Ia terbahak.


"Kamu bisa diam nggak, kamu membuat Zahra malu," ujar Dicky melihat wajah Zahra yang memerah.


"Abang nggak sabaran, tunggu hingga malam kenapa?" tanya Tasya masih tersenyum.


"Kamu ternyata tak selugu yang abang pikirkan. Dari mana kamu tau semua ini," ujar Dicky dengan suara tegas.


"Usia aku saat ini udah delapan belas tahun, Bang. Hanya terpaut tiga tahun dari Mbak Zahra. Masa sih masalah itu aku nggak ngerti. Di sekolah menengah pertama aja kita udah diajarkan tentang proses reproduksi. Aku masih ingat semuanya."


"Jangan banyak bicara, sekarang katakan ada perlu apa kamu ke sini."


"Aku hanya ingin mengajak sarapan. Kok sewot gitu sih. Belum dapat jatah ya?" ledek Tasya. Reflek tangan Dicky menjitak kepala adiknya.


"Sakit, Bang!"

__ADS_1


"Makanya mulut jangan ember!" ucap Dicky.


"Idih, gitu aja di bilang ember. Ya udah, ditunggu buat sarapan, jangan lama-lama. Apa lagi harus olah raga dulu," ucap Tasya. Setelah mengucapkan itu Tasya berlari sebelum Dicky marah.


Setelah Tasya menghilang, Zahra mencubit lengan Dicky. "Ini gara-gara kamu, Bang. Aku jadi malu sama Tasya."


"Ngapain malu, biasa jika pengantin baru melakukan itu."


"Malu dong, masih ada waktu malam ini tapi kamu udah nggak sabaran menyentuh aku."


"Itu salah kamu!"


"Kenapa jadi salah aku!"


"Itu semua gara-gara kamu terlalu indah, membuat aku tak sabar ingin menyentuh kamu."


"Gombal, bilang aja memang itu yang ada di pikiran kamu."


.......


Malam harinya, setelah makan malam bersama, Dicky dan Zahra pamit duluan. Rendra meledeknya tapi diacuhkan pria itu.


Sampai di kamar Dicky langsung menggendong tubuh Zahra membuat wanita itu teriak karena kaget.Dicky duduk di sofa dekat jendela kamar dan memangku Zaara.


Dia membuka pengait bra Zaara dan melemparnya. Dicky mengecup puncak dari dad* Zahra.


"Geli, Bang ...," ujar Zahra dan mendorong pelan kepala Dicky yang sedang mengecup.


"Aku akan memberikan kamu kenikmatan."


"Kamu nggak capek,"


"Aku nggak bisa menahannya lagi, Zahra."


Dicky kembali mengecup puncak dari salah satu gunung milik Zahra. Setelah itu ia mulai mengemutnya, membuat tubuh Zaara tersentak karena merasakan suatu rasa yang beda saat mulut serta lidah Dicky bermain di salah satu benda berharganya itu.


Zahra menarik nafasnya. Tampak wajahnya mulai memerah pertanda ia sudah mulai ter*ngs*ng karena permainan lidah Dicky dipuncak miliknya itu. Dicky bergantian mengecup, menghisap dan mengemut bagian itu, ia seperti bayi yang mendapatkan mainan baru.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2