
Pesta pernikahan Dicky dan Zahra akan diadakan di villa milik Rendra. Tamu undangan hanya terdiri dari keluarga inti dan para kerabat terdekat saja.
Dicky dan Zahra bermaksud pergi duluan dari yang lain. Mereka berdua sudah nggak bisa menahan rindu, karena sepuluh hari tidak bertemu. Dicky mwnjemput Zahra di panti.
Dicky dan Zahra berangkat dari panti setelah makan siang. Mereka mampir dulu ke supermarket buat belanja untuk makan malam. Sampai di villa milik Rendra, hari sudah menjelang magrib.
Dicky dan Zahra berangkat bersama Mang Ujang supir yang bekerja dengan Rendra.
"Mang ujang kembali lagi, Pak. Besok Mang Ujang datang lagi dengan Pak Rendra," pamit Mang Ujang.
"Jangan Mang. Mamang tidur saja dulu disini. Sudah hampir malam. Di sini banyak kamar kosong'kan?" ucap Dicky.
"Baiklah, Pak. Biar Mang Ujang yang bawa barang belanjaannya, Neng," ucap Mang Ujang melihat Zahra membawa barang belanjaan mereka disupermarket tadi.
"Biar aku saja Mang. Nggak apa-apa. Nggak berat juga!"
"Bi Sum, sudah tahu kita datang akan datang hari ini, Mang?" tanya Dicky. Bi Sum yang menjaga dan membersihkan Villa.
"Belum, Pak. Mamang lupa menelponnya," ujar Mang Ujang.
"Nggak apa, Mang. Sekalian buat kejutan untuk Bi Sum!"
Dicky mengetuk pintu villa beberapa kali, baru terdengar langkah kaki dari dalam rumah.
"Pak Dicky, apa kabar? Kok nggak beri tahu bi Sum kalau hari ini datangnya. Kata Pak Rendra acara masih minggu depan!" ucap Bi Sum.
"Kabar baik, Bi. Kalau Bibi apa kabarnya? Sehat'kan? Aku sengaja nggak beri tau untuk beri Bi Sum kejutan." Dicky dan Bi Sum memang sangat akrab. Hanya dengan wanita itu Dicky bisa bicara banyak.
"Sehat, Pak. Apakabarnya Pak Rendra dan Bu Dita nya?"
"Alhamdulillah sehat.Apa aku nggak boleh masuk. Dari tadi nggak dipersilakan, hanya diajak ngobrol aja," canda Dicky.
"Pak Dicky bisa saja! Masuklah, Pak. Eh ini siapa Pak. Apakah ini calon istri Pak Dicky?" tanya Bi Sum melihat Zahra.
"Ya, Bi. Kenalkan ini Zahra, Bi."
"Selamat datang non Zahra!"
"Selamat sore, Bi. Terima kasih."
"Zahra, beri saja belanjaan itu sama Bi Sum. Biar Bi Sum saja yang masak," ucap Dicky.
"Biar aku saja, Bang. Abang istirahatlah dulu. Pasti masih capek'kan?"
"Baiklah,aku ke kamar dulu. Mau istirahat. Kamu masak berdua Bi Sum saja. Kalau sudah masak, cepat bangunkan aku ya." Dicky melangkah menuju kamar tamu yang biasa dia tempati.
"Non Zahra cantik banget. Seperti Bu Dita."
"Bi Sum bisa saja. Lebih cantik bu Dita, dong Bi."
"Betul non, sama-sama cantik dan ramah lagi. Bi Sum jadi rindu dengan Bu Dita."
__ADS_1
"Bu Dita sering ke suni, Bi?" tanya Zahra.
"Nggak juga, Non. Hanya sesekali. Non Zahra sepertinya dekat dengan Bu Dita."
"Saya kan bekerja dengan bu Dita dan Pak Rendra. Saya pengasuh anak mereka,Bi!"
"Jadi non Zahra berkenalan dengan Pak Dicky karena bekerja dengan Bu Dita."
"Iya, Bi. Apakah Bibi telah lama bekerja di sini?"
"Sudah cukup lama. Pak Rendra orangnya baik banget. Jika orang yang tak mengenalnya pasti dikira sombong," ucap Bi Sum.
"Pak Rendra dan Bu Dita memang orang baik, saya beruntung bekerja dengan mereka," ujar Zahra.
"Pak Dicky juga orang baik, Non. Non Zahra juga beruntung bisa dekat dengan Pak Dicky."
"Jangan panggil Non, Bi. Panggil nama saja!"
Bi Sum dan Zahra masak bersama.Mereka membuat gurami bakar, cumi goreng tepung, sayur cap cai dan sambal.
Setelah semua masak dan tersedia di meja makan, Zahra masuk ke kamar Dicky untuk membangunkannya.
"Bang Dicky bangun! Makan dulu. Baru nanti lanjut tidurnya!" Zahra mengguncang badan Dicky, tapi Dicky tak juga bereaksi. Zahra lalu duduk ditepi ranjang, memukul pelan pipi Dicky.
Dicky menangkap tangan Zahra dan menariknya, membuat Zahra jatuh menimpa tubuhnya. Dicky langsung memeluk erat Zahra.
"Bang, lepasin! Sesak, nih," ucap Zahra yang merasa sesak karena pelukan Dicky yang sangat erat.Dicky melonggarkan pelukannya,tapi bukan melepaskan.
"Biar begini dulu, sebentar saja!"
"Tapi aku merasa nggak nyaman ada diatas tubuh Abang!" ucap Zahra dengan polosnya
"Sebentar saja, Ra!" Dicky tidak juga melepaskan pelukannya. Wajah mereka yang begitu dekatnya membuat Zahra jadi malu dan menutup matanya.
Dicky mengecup pipi Zahra dan berkata, "Sudah,bangunlah! Keenakan berada di atas tubuhku, ya?" Dicky sengaja menggoda Zahra.
Zahra langsung bangun dari tubuh Dicky, "Siapa yang keenakan? Bukannya Abang tadi yang minta aku jangan bangun?"
"Mengapa pipimu jadi memerah begitu? Malu, ya?" Dicky masih saja terus menggoda Zahra.
"Bang Dicky sudah ah! Mau makan apa nggak?"
"Aku mau makan kamu saja, gimana?"
"Kok Mau makan aku sih?" tanya Zahra polos.
"Kamu ngerti nggak ucapan aku tadi?" tanya Dicky.
"Nggak. Emang maksud Abang, apa?"
"Ih ... polos banget sih. Kamu nggak pernah pacaran ya?" Zahra menggeleng pelan sambil menundukkan wajahnya karena malu.
__ADS_1
"Beruntung banget dong aku. Berarti aku cinta pertamamu dan harus jadi cinta terakhirmu juga. Yuk, makan lagi sebelum aku khilaf dan benar memakan kamu!"
Zahra berdiri dan berjalan mengiringi langkah Dicky menuju ruang makan.
"Enak banget. Siapa yang masak nih? Bi Sum apa Zahra?" tanya Dicky sambil menyantap makanannya.
"Aku berdua Bi Sum," jawab Zahra
"Bukan Bibi. Tapi Zahra yang masak sendiri, bibi cuma membantu saja. Zahra sama dengan Bu Dita pintar masak. Pak Dicky beruntung menjadikan Zahra istri. Baik dan ramah seperti Bu Dita."
"Kalau nggak baik, mana mungkin aku jatuh cinta,Bi!"
"Iya juga, Pak. Maaf Pak saya pamit dulu!" Bi Sum meninggalkan mereka berdua.
Dicky makan dengan lahapnya. Zahra senang melihat Dicky yang menyantap semua masakannya.
Setelah makan Dicky membawa Zahra ke balkon kamarnya. Mereka tiduran di kasur kecil yang ada di balkon.Dicky membawa Zahra kedalam pelukannya. Zahra tidur beralaskan lengan Dicky sebagai bantalnya.
"Kamu nggak pernah begini ya dengan lelaki lain?"
"Jangankan begini, pegangan tangan saja nggak pernah. Aku'kan nggak pernah pacaran," ucap Zahra malu.
"Kamu tahu Zahra, aku juga hanya pernah jatuh cinta dua kali didalam hidupku. Kamu yang kedua. Aku orangnya juga susah jatuh cinta. Bukannya nggak ada ya yang suka dengan aku, tapi aku nya yang sulit melupakan dan melepaskan seseorang jika sudah jatuh cinta. Makanya kamu nggak usah ragu, apapun itu kekurangan pada dirimu aku akan bisa menerima, karena aku bila sudah jatuh cinta aku akan mencintai dengan tulus. Menerima semua kelebihan dan kekurangan pasanganku!"
"Aku hanya takut, Bang. Aku tak pernah mencintai pria manapun. Kamu orang pertama yang aku cintai. Aku takut kamu meninggalkanku setelah tahu aku ada kekurangan nantinya!"
"Semua manusia didunia ini tak ada yang sempurna. Begitu juga aku, jika suatu saat kamu mendapati kekurangan dari diri ini, aku harap kamu juga bisa memahaminya dan jika aku berbuat kesalahan kamu mau menegurnya."
Zahra hanya menganggukkan kepalanya. Ducky mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra, membuat gadis itu memalingkan wajahnya karena malu.
"Abang mau ngapain?" tanya Zahra polos.
"Mau memakanmu!" jawab Dicky dan menghadapkan wajah Zahra kembali ke wajahnya.
Dicky langsung mencium bibir Zahra, membuat gadis itu kaget hingga melongo, kesempatan itu digunakan Dicky untuk memasukan lidahnya kedalam mulut Zahra.
Zahra tak membalasnya, Ducky kembali membelit lidah Zahra, membuat gadis itu salah tingkah. Dia tak pernah melakukan hal itu, ia mencoba membalasnya, tapi malah menggigit lidah Dicky. Sehingga pagutan mereka, Dicky lepaskan
"Jangan digigit, Sayang," ucap Dicky. Hal itu membuat muka Zahra tampak memerah karena malu.
"Kamu ikuti saja permainan lidahku!"ucap Dicky. Dia ******* bibir Zahra perlahan dan Zahra dengan cepat mempelajarinya. Kini dia sudah bisa mengimbangi permainan lidah Dicky. Lama mereka saling berpagutan,setelah merasa Zahra kesulitan bernafas Dicky melepaskannya.
"Kamu jangan tahan napas, Sayang!"ucap Dicky kembali, membuat wajahnya Zahra makin memerah.
"Gimana? kamu suka permainan ini? Nanti kalau kita sudah nikah aku ajarin yang lebih enak lagi!" ucap Dicky dengan senyum menggoda.
Zahra sangat malu, dia tak berani memandangi wajah Dicky dan menyembunyikan kepalanya didada Ducky.
"Tidurlah, nanti kalau sudah bosan disini baru kita pindah. Aku ingin menikmati malam ini berdua denganmu ditemani bintang bintang." Dicky memeluk erat tubuh Zahra.
...****************...
__ADS_1