
Rendra menggandeng tangan Dita memasuki ruangan VIP sebuah restoran mewah. Dari tampilannya Dita tahu, pastilah yang mampir ke sini bukan orang sembarangan.
Anggun yang terlebih dahulu sampai, melihat suaminya itu berjalan dengan wanita lain menjadi sedikit emosi. Dia meremas tangannya meredakan perasaan marah.
Dengan terpaksa wanita itu tersenyum dengan Rendra dan Dita. Dicky yang mengekori kedua orang itu hanya diam tanpa membalas senyum Anggun.
Anggun berdiri dan memeluk Rendra serta mengecup kedua pipinya dan terakhir bibir itu mendarat di bibir suaminya.
"Aku kangen banget, Ren!" ucap Anggun memeluk tubuh pria itu. Rendra membalas dengan mengecup kedua pipi wanita yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya.
Dita yang merasa jika kehadirannya akan mengganggu melepaskan genggaman tangannya dan memilih duduk di dekat Dicky. Setelah melepas kangen Anggun mengajak Rendra duduk bersebelahan dengannya.
__ADS_1
Anggun memeluk lengan Rendra seolah takut lepas. Dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Dicky mengambil menu dan memesan makanan untuk mereka bertiga.
"Sayang, kita masih sah suami istri. Namun, kenapa kamu nggak pulang-pulang? Apa ada yang melarang atau menahanmu?" tanya Anggun sambil melirik ke arah Dita. Wanita itu hanya menunduk.
Dita tidak ingin memandangi kemesraan kedua orang itu. Dia sadar posisinya saat ini. Anggun masih istri sah Rendra. Jadi wanita itu berhak atas diri pria itu.
Anggun makan sambil menyuapi Rendra. Setelah makan, barulah Dicky buka bicara. Dita yang merasa kehadirannya tidak dibutuhkan pamit. Dia tadi melihat taman di samping restoran sangat indah.
"Mas? Kamu panggil Rendra dengan sebutan Mas sekarang. Udah mau naik kedudukan nih. Dari gundik pengin jadi nyonya. Kalaupun akhirnya kami bercerai aku yakin Rendra tidak akan memilih kamu jadi istrinya. Paling hanya simpanan untuk memuaskan napsu.
Dita hanya tersenyum menanggapi ucapan Anggun, tanpa menunggu jawaban dari Rendra, wanita itu pergi. Dia tidak ingin sakit hati jika ternyata Rendra membenarkan ucapan istrinya itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu bicara begitu? Siapapun pilihanku nantinya bukan urusan kamu lagi, Anggun. Dita juga pantas menjadi pendampingku. Apa salahnya wanita itu? Dia wanita baik. Selama bersamanya aku merasa nyaman dan bahagia. Kemungkinan memang dialah istriku pengganti dirimu. Jadi aku harap kamu menjaga sikap dan perkataanmu. Apa lagi setelah kita bercerai. Jangan pernah kamu dekati Dita apalagi menyakitinya!"
"Jadi kamu ingin mengganti posisi aku dengan wanita seperti Dita? Wanita yang rela menyewa rahimnya demi uang? Apa bedanya Dita dengan pe*la*cur? Tidak ada. Karena sama-sama berhubungan badan demi uang!"
"Cukup Anggun! Jika kita telah berpisah, berarti di antara kita tidak ada hubungan apa pun. Aku berhak memilih siapa yang akan menjadi istriku. Dan aku tahu siapa yang terbaik untukku. Terkadang yang terlihat baik belum tentu baik, dan yang terlihat jelek belum tentu jelek!" ucap Rendra penuh penekanan.
Anggun terdiam mendengar ucapan ketus dari suaminya itu. Dia tahu jika Rendra telah berkata begitu berarti tidak perlu kita bicara lagi. Rendra akan marah jika diteruskan.
"Aku mengundang kamu makan malam bukan untuk bicarakan pribadiku. Dan jika aku masih baik denganmu, karena aku tahu di antara kita pernah ada rasa dan pernah merasakan kebahagiaan. Namun, sejak aku tahu kamu mengkhianati aku. Cinta ini telah pergi. Rasa dihati ini telah hilang. Sekarang di antara kita sudah tidak ada ikatan lagi. Kamu dengarkan apa saja yang dijelaskan Dicky."
Rendra berdiri dari duduknya dan menganggukan kepala ke Dicky, meminta pria itu yang menghadapi Anggun.
__ADS_1
...****************...