(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bab Empat Puluh Dua


__ADS_3

Setelah rapat selesai, Dicky menemui Rendra dan mengatakan semua yang Anggun katakan. Dicky juga mengatakan tentang Dita yang menjadi sedih dan kepikiran mengenai ucapan Dita.


"Kamu cari tahu, di mana wanita itu menginap? Katakan aku mengajak bertemu," ucap Rendra.


"Baik, Pak," jawab Dicky.


"Sekarang Dita nya di mana?"


"Sudah saya antar lagi ke kamar, Pak."


"Baiklah. Saya akan kembali ke kamar. Sepertinya perusahaan kita yang akan memenangkan kerja sama kali ini. Seperti janjiku, kamu akan aku belikan rumah yang jauh lebih besar dari rumahmu sekerang. Dan juga carikan rumah untuk Dita."


"Rumah yang dulu di beli buat Ibu Dita bagaimana, Pak?" tanya Dicky.


Rendra pernah meminta Dicky untuk membeli sebuah rumah sederhana namun sangat asri di pinggir kota untuk Dita jika pergi setelah melahirkan.


Walaupun Rendra tampak kejam dengan Dita, namun dari awal, sebelum rasa cinta itu datang pria itu telah membelikan rumah buat Dita tinggal jika telah melahirkan dan harus pergi dari rumahnya.


"Biarkan saja rumah itu. Atau kamu berikan saja buat adikmu. Biar itu buat dia jika suatu saat telah menikah. Ganti nama pemiliknya menjadi nama Tasya."


"Terima kasih, Pak. Semoga rezeki Bapak lancar terus," ucap Dicky terharu.

__ADS_1


Rendra telah banyak memberi buat keluarganya. Rumah yang ditempati orang tua Dicky saat ini juga pemberian dari Rendra. Itulah alasannya mengapa Dicky selalu saja mengikuti apa maunya Rendra.


"Jangan lupa cari Anggun dan minta dia menemui aku segera." Setelah mengucapkan itu, Rendra beranjak pergi meninggalkan Dicky.


Rendra membuka pintu kamar hotel tempat dia menginap dengan Dita secara perlahan. Tampak Dita yang sedang tidur miring membelakangi pintu.


Rendra naik ke tempat tidur dan mengecup pipi wanita yang sangat dia cintai itu. Rendra melihat sisa air mata masih membasahi pipi Dita.


Dihapusnya air mata itu dan dikecupnya mata Dita. Wanita itu akhirnya membuka mata. Melihat Rendra, Dita langsung bangun dan memeluk pria itu. Tangisnya kembali pecah.


Rendra memeluk sambil mengusap punggung ibu dari calon bayinya itu. Rendra tidak tahu, kenapa sejak dia jatuh cinta dengan Dita, sifatnya juga ikutan berubah. Dulu dia keras namun sekarang perlahan sifatnya menjadi lemah lembut dan penyayang seperti Dita.


"Jangan sedih, percayakan semua denganku. Anak kita tidak akan dirawat orang lain. Dia akan dibesarkan dari tangan lembutmu ini."


"Mas janji?" tanya Dita dengan terbata.


"Iya, Sayang. Apa kamu lupa jika ayah dari anak kamu itu aku. Tidak akan aku biarkan siapapun mengambilnya. Mereka harus melangkahi mayatku jika ingin mengambilnya!"


Dita kembali memeluk suaminya itu. Hatinya mulai tenang karena Rendra telah berjanji. Dita percaya jika pria itu tidak akan pernah berbohong.


"Kamu sudah makan?" tanya Rendra. Dita menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin dia makan dalam keadaan pikiran kalut begini. Melihat jawaban Dita, tampak Rendra mengeram.

__ADS_1


"Dengar Dita. Saat ini aku suamimu. Aku bisa melakukan apa saja dengan uangku. Jadi kamu tidak usah kuatir ancaman dari manapun itu. Aku tidak akan tinggal diam jika ada yang mengusik keluargaku. Jadi jangan pernah kamu takut! Jika siapa pun itu, baik Raffa atau Anggun mengancammu, kau harus mengancam mereka kembali!" ucap Rendra


Rendra ingin istrinya tidak lemah dan mudah di tindas. Karena sebagai pengusaha dirinya sadar banyak saingan. Rendra harus membuat Dita menjadi wanita kuat.


"Ingat Dita. Saat ini kamu telah menjadi istri seorang pengusaha. Sebagai seorang pengusaha, pasti aku banyak saingan. Dan itu pasti akan menjadi musuhku. Kamu harus menjadi wanita kuat agar bisa dampingi aku terus. Jangan mau diinjak. Kamu harus menunjukan siapa dirimu!"


Dita mengangguk lemah. Dia mengerti apa yang dimaksud Rendra. Tapi untuk menjadi seorang yang kuat, dia harus belajar banyak. Kehidupannya selama ini membuat dia menjadi wanita yang kurang percaya diri.


Sementara itu, Dicky baru saja menemukan di mana Anggun menginap. Ternyata masih di hotel yang sama. Saat ini mantan istri atasanya itu sedang makan malam dengan selingkuhannya. Dicky berjalan mendekati mereka berdua.


"Selamat malam Ibu Anggun," ucap Dicky dengan penuh penekanan. Anggun memandangi kedatangan Dicky dengan tatapan kurang suka. Wanita itu tahu, jika Dicky tidak akan menemui dirinya jika tidak ada perlu.


Pasti saat Ini Dicky ingin mengatakan sesuatu mengenai dirinya. "Ada apa? Kau mengganggu makan malamku!" ucap Anggun sinis.


"Maaf, jika aku mengganggu. Pak Rendra meminta anda menemui dirinya!" ucap Dicky.


"Jika aku tidak mau, bagaimana?" tanya Anggun.


"Ibu Anggun pasti telah mengenal siapa Pak Rendra. Jadi pasti tahu apa akibatnya jika tidak mau. Segera hubungi aku setelah ibu selesai makan. Apa ibu masih menyimpan nomor saya?" tanya Dicky.


"Masih!" jawab Anggun ketus. Pria yang ada dihadapkannya saat ini hanya diam. Dia tahu siapa Dicky dari cerita Anggun. Dia tidak ingin berurusan dengan pria itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2