(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bab Tiga Puluh Enam (Bukan) Rahim Pengganti


__ADS_3

Rendra mencari keberadaan Dita ke seluruh restoran namun wanita itu tiada tampak batang hidungnya. Rendra tampak mulai kuatir. Setelah hampir putus asa, Rendra melihat ke taman. Tampak Dita duduk sambil memandang bintang.


Rendra mendekati Dita dan memeluk bahu wanita itu dari belakang dan mengecupnya. Rendra merasa lega karena dapat 9menemukan wanita itu.


"Sayang, kenapa duduk di sini? Banyak nyamuk!" ucap Rendra sambil mengecup pipi Dita.


Dita tersenyum mengetahui Rendra mencari dirinya. Pria itu duduk di sebelah Dita.


"Kenapa pergi? Dan kenapa menangis?" tanya Rendra dan menghapus air mata Dita yang membasahi pipinya. Bukannya berhenti, air mata Dita makin banjir membasahi wajahnya.


Rendra membawa Dita kedalam pelukan dadanya dan mengecup rambut wanita itu. "Aku akan menikahi kamu seminggu lagi. Mulai hari itu aku tidak akan lagi dekat dengan wanita manapun selain kamu."


Dita memeluk pinggang Rendra, tangisnya makin pecah. Entah apa yang membuat dirinya menangis. Apa karena melihat pelukan Anggun dan Rendra atau karena dia menangis bahagia karena akan menikah dengan pria itu.


"Jangan menangis. Nanti anak kita juga sedih." Dengan terisak Dita menghentikan tangisnya.


"Dicky telah mengurus perceraian kamu dan juga pernikahan kita. Proses perceraian kamu akan cepat dikabulkan. Yang agak sulit itu aku. Tapi Dicky dan pengacara akan mengusahakan secepatnya."

__ADS_1


"Aku nggak tahu harus berkata apa, Mas. Aku bahagia karena bisa terus bersama anakku."


"Apa kamu tak bahagia terus bersamaku?" tanya Rendra menggoda wanita itu.


"Aku bahagia juga, Mas."


"Kamu cemburu melihat aku dan Anggun berpelukan dan berciuman?" tanya Rendra.


Dita hanya diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Rendra yang mungkin saja menjebak dirinya. Sejujurnya Dita memang sedikit cemburu. Namun wanita itu sadar jika dia tidak pantas cemburu. Anggun saat ini masih sah sebagai istri Rendra.


"Apa aku berhak cemburu? Jika pun aku cemburu, aku sadar jika itu tidak boleh. Saat ini Bu Anggun masih istri sah-nya Mas hingga ketuk palu. Jadi aku harus membuang rasa itu."


Rendra mencubit kedua pipi Dita dan mengecup bibir wanita itu. "Aku lebih senang kamu cemburu. Seminggu lagi kita menikah jika kamu nggak cemburu aku dengan wanita lain, maka aku akan mencari wanita pendamping lain."


"Aku akan menjambak rambut wanita yang berani menggoda Mas," ucap Dita. Rendra tertawa mendengar ucapan Dita yang lucu.


Sementara itu di dalam ruangan restoran, tampak Dicky dan Anggun berdebat. Wanita itu tidak setuju jika perusahaan yang dia minta masih atas nama Rendra dan semua pengeluaran harus izin Rendra.

__ADS_1


"Jika masih atas nama Rendra, itu sama saja. Aku juga tidak berhak atas keuangan. Sama saja bohong. Aku akan menuntut dan tidak akan mengabulkan perceraian."


"Apa ibu lupa jika talak diberikan pria. Setuju atau tidak proses perceraian akan tetap berjalan."


"Secara agama mungkin gitu. Tapi menurut negara, perceraian sah jika kedua belah pihak setuju."


"Apa ibu lupa jika kami memiliki banyak bukti perselingkuhan ibu. Itu bisa mempercepat perceraian. Bahkan mungkin bisa jadi bukti jika ibu tidak berhak atas harta gono-gini. Ibu tidak akan dapat apa-apa!"


"Kamu mengancam aku!"


"Bukan mengancam, tapi mengingatkan ibu. Apa kurangnya Pak Rendra hingga ibu khianati?" tanya Dicky dengan suara datar.


"Itu bukan urusanmu!" ucap Dita berang.


Dicky tersenyum melihat Anggun yang kesal. Dia tidak habis pikir, kenapa wanita itu sampai bisa mengkhianati Rendra. Padahal pria itu memiliki segalanya dan akan mengabulkan semua yang Anggun inginkan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2