(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bab Empat Puluh Satu


__ADS_3

Dita tidak percaya dengan apa yang Anggun katakan. Bukankah saat ini dia telah menjadi istri sah-nya Rendra sehingga anak ini pasti akan tetap menjadi miliknya.


"Kenapa? Kamu kaget mendengarnya. Katakan pada suamimu Rendra, jika Anggun tetap menginginkan bayi itu. Oh, sepertinya kamu tidak perlu bertanya dengan Rendra. Kacungnya ini pasti bisa menjelaskan," ucap Anggun menunjuk Dicky.


"Apa maksud ibu Anggun?" tanya Dicky. Dia benar-benar belum paham maksud dan tujuan dari omongan Anggun.


"Apa kamu lupa jika di surat perjanjian, anak yang akan dilahirkan Dita itu akan menjadi milikku. Di sana tidak tertulis anak itu menjadi milik Rendra. Ingat itu telah di tanda tangani Rendra, aku dan ada tanda tangan Dita."


Anggun bicara dengan senyum licik. Dia juga baru membaca ulang surat perjanjian itu kemarin. Anggun ingin menggunakan itu buat menekan Rendra dan Dita. Akan wanita itu gunakan untuk menekan Rendra dan Dita.


Pasti sebagai orang tua mereka tidak ingin dipisahkan dari anak mereka. Jadi pasti Rendra akan memberikan dan menurut apa saja yang dia inginkan.


Dicky baru tersadar. Pria itu ingat di surat perjanjian tertulis jika anak yang Dita lahir akan menjadi milik Bu Anggun. Anak itu akan di rawat dan dibesarkan Anggun. Tanpa Dita boleh dekati. Anak yang lahir itu juga akan menggunakan nama Anggun sebagai ibunya.

__ADS_1


Dicky menjadi gugup dan gelisah mengingat surat perjanjian itu. Dia mana pernah menduga jika Bu Anggun dan Pak Rendra akan berpisah. Rumah tangga yang mereka jalani tampak harmonis.


"Itu jika anda masih berstatus istri Pak Rendra!" ucap Dicky geregetan.


"Apa di sana ada tertulis jika aku telah berpisah, hak atas anak hilang? Tidak ada'kan. Aku menginginkan anak itu. Katakan dengan Rendra mengenai keinginanku ini. Aku harap kamu bisa menjaga anakku," ucap Anggun dengan suara mengejek.


"Jangan senang dulu Bu Anggun. Apa ibu lupa siapa Pak Rendra. Jangan mencoba mengancam bahkan menantang Pak Rendra. Nanti Ibu sendiri yang akan rugi!" ucap Dicky.


Pria itu menarik tangan Dita untuk meninggalkan tempat itu. Dita tidak bisa bicara apa-apa. Wanita itu takut jika apa yang dikatakan Anggun benar adanya. Dia tidak mungkin menyerahkan anaknya pada Anggun.


Dicky yang tahu apa yang sedang Dita pikirkan mencoba menenangkan wanita itu.


"Jangan kuatir, Bu Dita! Pak Rendra tidak akan membiarkan anaknya di ambil Bu Anggun. Percayakan saja semuanya denganku dan Pak Rendra," ucap Dicky saat mereka berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Dicky masih saja memegang pergelangan tangan Dita. Saat akan masuk lift, Dicky baru tersadar dan melepaskan pegangannya. Dicky melihat Dita yang hanya terdiam.


"Bu Dita, jangan Ibu pikirkan itu. Ingat anak dalam kandungan Ibu. Bukankah Dokter sering berpesan jika ibu hamil tidak boleh banyak pikiran!" ucap Dicky berusaha menenangkan Dita kembali.


"Aku nggak mau pisah dengan bayi ini, Pak Dicky." Dita mendekati Dicky dan tiba-tiba menggenggam tangan Dicky.


"Pak Dicky, saya mohon. Jangan biarkan akan ini diambil Bu Anggun. Aku akan sangat berterima kasih jika Pak Dicky bisa membantu!" ucap Dita.


Dicky yang merasa gugup karena tangannya di genggam berusaha melepaskan dengan pelan karena takut Dita tersinggung.


"Bu Dita, dari tadi saya telah mengatakan pada Ibu. Jika saya dan Pak Rendra tidak akan membiarkan Bu Anggun mengambil bayi Ibu."


"Baiklah, saya akan percaya. Terima kasih," ucap Dita.

__ADS_1


Setelah mengantar Dita sampai di kamarnya, Dicky kembali ke tempat Rendra rapat. Dia harus mengatakan semua ini pada atasannya itu.


...****************...


__ADS_2