
Dita masih tampak bengong. Masih belum percaya atas ucapan cinta dari Rendra. Pria itu berdiri dan meminta Dita juga berdiri.
"Jangan bengong, jelek tahu!" ucap Rendra mencairkan suasana.
"Apa yang Mas katakan tadi itu benar?" tanya Dita.
Rendra menunduk dan mengecup perut Dita yang telah membuncit karena kehamilannya yang telah memasuki bulan ke lima.
"Aku mencintaimu, Sayang," ucap Rendra mengecup perut Dita.
"Jadi maksudnya Mas tadi, mencintai anak ini. Bukan untuk aku kata-kata tadi. Aku pikir Mas mengatakan cinta buatku!" ucap Dita dengan polosnya.
Rendra langsung mengacak rambut Dita mendengar ucapan wanita itu. "Dasar, kamu sinyalnya lelet banget sih! Apa kamu pikir ungkapan cinta itu hanya untuk anak kita?" tanya Rendra. Dita hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan pria itu.
"Sekarang kamu dengar baik-baik. Kamu cari jaringan 4G kalau perlu 5G, biar bisa menangkap sinyal dariku. Aku mencintai kamu, Dita. Maukah kamu tetap berada di sampingku sampai kita menua?" tanya Rendra.
"Jadi benar ucapan cinta Mas itu untuk aku?" tanya Dita.
Rendra yang geram langsung menggendong Dita. "Mas, turunkan aku!" ucap Dita.
__ADS_1
Rendra menggendong Dita dan menidurkan di kasur dengan pelan. Rendra naik ke atas tubuh Dita dan mengecup seluruh bagian di wajah wanita itu.
Ciuman Rendra turun ke leher. Dia mengecup dan menggigit kecil leher Dita, meninggalkan banyak jejak kepemilikan.
Rendra mulai membuka kancing baju Dita. Baru sebagian terbuka, pintu kamarnya di ketuk. Rendra mengacuhkan dan terus membuka kancing baju Dita.
Ketukan di pintu makin kuat terdengar. Rendra mengumpat dan turun dari tubuh Dita. "Kamu tunggu di sini aja! Aku lihat siapa yang mengetuk pintu dengan tidak sopan. Jangan bangun!" perintah Rendra.
Rendra berjalan menuju pintu dan membukanya. Tampak Dicky berdiri dengan wajah gugup. Jika tidak penting, pria itu tidak akan berani mengganggu Rendra.
"Ada apa!?" tanya Rendra dengan suara ketus dan tidak bersahabat.
"Tunggu setengah jam. Aku akan ke lantai bawah," ucap Rendra.
"Baiklah, Pak." Dicky langsung meninggalkan kamar itu.
Rendra menutup pintu segera dan melecuti bajunya hingga polos. Pria itu kembali naik ke atas tubuh Dita dan melanjutkan membuka seluruh kancing baju dan melecuti helai demi helai kain yang menutupi tubuh Dita.
"Kita main cepat aja. Ada tamu menunggu kita berdua. Aku hanya ingin melepaskan semua ini dulu."
__ADS_1
Perlahan Rendra memasuki tubuh Dita, dan memacu anak kecilnya di Goa milik Dita. Lima belas menit, Rendra dan Dita sama-sama mencapai puncaknya. Pria itu kembali menggendong Dita menuju kamar mandi buat membersihkan tubuh mereka.
Rendra dan Dita turun ke lantai bawah setelah bepakaian rapi. Hampir satu jam Raffa dan Dicky menunggu.
"Selamat sore!" ucap Rendra tegas.Dita spontan memeluk lengan Rendra melihat siapa tanya yang hadir. Tampak wanita itu ketakutan.
"Selamat sore Pak Rendra. Selamat sore Dita, istriku yang cantik. Apa kabarmu? Semakin cantik saja," ucap Raffa dengan tersenyum licik.
Rendra tampak geram mendengar ucapan Raffa yang memanggil Dita dengan panggilan istriku. Bagi Rendra, Dita adalah miliknya.
Rendra berusaha menyembunyikan perasaan marahnya dengan tersenyum. Pria itu mengajak Dita duduk di sebelah dirinya.
"Tampaknya kau mulai betah di sini. Apa Bos Rendra memanjakan kamu saat ini? Dulu aku ingat kamu tidak bisa menerima ketika aku menjualnya. Namun saat ini kamu tampak menikmatinya," ucap Raffa.
Sebenarnya Rendra sudah ingin menghajar pria dihadapannya saat ini. Namun Rendra takut, Raffa akan mempersulit proses perceraiannya dengan Dita. Sedangkan saat ini Rendra telah begitu nyaman dengan Dita.
__ADS_1
...****************...