
Tamu undangan yang hadir makin banyak memenuhi pesta. Rendra yang duduk di samping Dita tak mau lepas menggenggam tangan istrinya itu.
"Sayang, kita malam ini sudah bisa malam pertama jugakan?" bisik Rendra.
Usia Kavi saat ini telah memasuki tiga bulan. Rendra belum pernah melakukan hubungan badan sejak Dita melahirkan. Pernah Rendra ingin melakukan itu, namun saat mengingat Dita yang koma dia mengurungkan niatnya.
"Apa maksud Mas Rendra?" tanya Dita.
"Tadi aku sudah menghubungi Dokter Merlin dan bertanya apakah kita sudah bisa berhubungan badan. Dokter Merlin jawab, bisa."
"Mas Rendra, maluin aja. Masa tanya sama Dokter Merlin, sih?"
"Aku sudah hampir tiga bulan puasa, udah pengin banget. Masa main solo terus, Sayang! Kita harus malam pertama juga, aku nggak mau tau!" ucap Rendra.
"Nanti Kavi sama siapa tidurnya?" Dita tahu bagaimana suaminya jika berhubungan. Dia takut nanti Kavi kebangun dan menangis.
"Tenang, Sayang. Nanti pasti ada yang jagain Kavi. Kita juga akan malam pertama setelah Kavi lahir!"
"Pikirannya Mas mesum aja!"
"Mesum sama istri kan tak apa'kan?" bisik Rendra.
Malam semakin larut, tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan tempat pesta. Keluarga juga begitu. Kembali ke Villa masing-masing di mana mereka akan menginap.
Setelah keluarga dan tamu undangan kembali ke Villa, Rendra juga meminta Dita masuk ke kamar mereka.
"Kavi bagaimana, Mas? Sama siapa nanti tidurnya?" tanya Dita.
"Tenang saja.Kavi akan aman. Itu menjadi urusanku, yang jelas dan pasti Kavi tak akan terlantar. Kamu masuklah dulu ke kamar nanti aku menyusul!"
Sebelum masuk ke kamar Dita mengecup pipi putranya yang di gendong Bi Sum. Dita sebenarnya keberatan, tapi Rendra memaksa dan memastikan Kavi aman.
Rendra kembali meyakinkan Dita, agar jangan memikirkan Kavi malam ini. Dia dan Dita akan melewati malam ini berdua saja.
Dicky dan Zahra juga telah meninggalkan pelaminan. Mereka menuju kamar pengantin yang telah disiapkan.
Sampai di kamar Zahra langsung mandi. Dicky menyarankan untuk mandi berdua saja.
"Sayang, mandinya berdua saja! Biar cepat," teriak Dicky dari depan pintu kamar mandi.
"Nggak perlu Bang, aku malu kalau berdua. Abang mandinya setelah aku aja. Sebentar kok aku mandinya!" ucap Zahra dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Zahra baru menyadari ia tak membawa pakaian ganti.Dia keluar dengan memakai kimono handuknya
"Bang Dicky, pakaian aku dimana? Apa sudah dibawa kekamar ini?" tanya Zahra, karena sebelumnya tidur di kamar sebelah.
"Aku nggak tahu, Sayang. Lagi pula ngapain pakai baju nanti akan buka juga!" ucap Dicky.
"Abang bicara apa?" Wajah Zahra memerah karena malu mendengar ucapan Dicky.
__ADS_1
"Aku mandi dulu ya? Kamu siap-siap aja untuk kita berolah raga sampai pagi!"
"Itu pakaian tidur buat pengantin baru tapi kamu nggak perlu pakai baju malam ini," ucap Dicky lagi.Pria itu langsung menggendong tubuh Zahra dan menghempaskan pelan keatas tempat tidur. Dicky langsung naik ketempat tidur dan mengukung tubuh Zahra di bawah tubuhnya.Ducky memandang wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat.
"Kamu dilihat dari jarak yang sangat dekat begini, tampak sangat cantik Sayang," ucap Dicky.
Zahra sangat malu melihat wajah Dicky yang sangat dekat dengannya, sehingga dia juga dapat merasakan hembusan nafas Dicky dan menghirup bau maskulin dari tubuh suaminya. Zahra menutup wajahnya dengan kedua tangannya, melihat Dicky yang terus memandangnya dengan intens.
"Mengapa menutup wajahmu, Sayang?"
"Aku malu Bang, kamu kenapa memandangi aku seperti itu?"
"Kamu kalau malu tampak tambah menggemaskan,membuat aku ingin memakanmu segera," ucap Dicky dengan lembut. Dicky mulai mengecupi dahi, mata, hidung, pipi dan bibir Zahra.
"Manis banget sih bibirnya!"ucap Dicky dan mulai mengecup bibir Zahra
"Sayang, buka dong mulutnya. Jangan sampai aku gigit baru dibuka!" ancam Dicky. Zahra membuka mulutnya perlahan, Dicky langsung memasukan lidahnya, ia membelit lidah Zahra, dan Istrinya itu pun mulai membalasnya. Mereka saling menukar saliva, saling membelit,menghisap dan melu*m*t.,
Ketika Dicky merasakan Zahra yang mulai sesak, dia melepaskan pagutan bibir mereka. Perlahan kecupan Dicky turun keleher Zahra, dia menghisap dan menggigit pelan leher Zahra sehingga meninggalkan jejak. Setiap inci dari leher dan dada istrinya dibuatnya tanda..
Sedang asyik membuat tanda kepemilikan, ponselnya berbunyi,Dicky mengabaikan.
"Bang, ponselnya dari tadi berdering," ujar Zahra
"Biarkan saja, Sayang!"
Dengan terpaksa Dicky bangkit dari tubuh Zahra dan mengambil ponselnya,dia melihat Rendra yang tertera.
"Mau ngapain Pak Rendra menghubungi aku malam ini?" Dicky lalu menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Ada apa, Pak?" tanya Dicky.
"Apa kamu sudah tidur?"
"Kalau saya sudah tidur nggak mungkin bisa jawab telepon Bapak!"
"Ternyata kamu pintar juga!"
"Apa ada yang penting,Pak?"
"Aku ada hadiah buat kamu dan Zahra."
"Hadiah? Hadiah apa, Pak?" tanya Dicky heran. Hadiah pernikahannya telah Dicky terima, berupa rumah yang akan dia tempati setelah menikah.
"Kamu segera buka pintu kamar, hadiahnya aku letakan depan pintu kamar, jangan lupa, cepat ambil!"
"Besok saja Pak, aku ambil hadiahnyal"
"Tapi aku sudah meletakan didepan pintu kamarmu. Awas kalau sampai kamu tak mengambilnya sekarang!" ancam Rendra.
__ADS_1
"Baiklah, Pak!
"Oke, selamat malam pengantin baru"
Dicky lalu mematikan sambungan ponselnya..
"Ada apa, Bang? Apa ada yang penting?" tanya Zahra.
"Katanya Pak Rendra ada hadiah buat kita berdua, diletakan depan pintu dan harus diambil segera," ucap Dicky.
"Hadiah apa ya? Ayolah Bang, kita buka pintunya." Zahra bangun dari tidurnya dan memperbaiki handuk kimononya yang sedikit berantakan karena ulahnya Dicky tadi.
Dicky dan Zahra menuju ke pintu dan membukanya. Mereka terkejut melihat hadiah yang dikatakan Rendra.
"Apaan ini?" ucap Dicky kaget.
Zahra langsung mendorong kereta bayi itu, ternyata hadiah yang dibilang Rendra adalah Kavi putranya Rendra dan Dita.
"Sayang Tante nih, kamu makin ganteng aja," ucap Zahra dan mengecup pipi Kavi
Dicky langsung menghubungi Rendra menanyakan tentang kavi, begitu tersambung Dicky langsung bertanya mengenai Kavi.
"Pak itu Kavi, gimana?" tanya Dicky hati-hati takut Rendra marah.
"Kamu dan Zahra malam ini tidur bareng Kavi. Malam pertama kamu, ditunda saja. Aku yang harus malam pertama, karena sejak kelahiran Kavi puasa!"
"Jadi Kavi tidur bareng saya dan Zahra malam ini?" tanya Dicky lagi.
"Tentu saja. Apa kamu keberatan? Kamu'kan belum pernah ngerasain enaknya berhubungan, jadi aku rasa masih bisa ditahan napsunya, tapi aku yang sudah biasa ini harus puasa tiga bulan dan hari ini baru mau lakukan lagi, kamu harus mengerti jika aku akan berhubungan tak mungkin diganggu Kavi!"
"Baiklah, Pak," ucap Dicky akhirnya dengan terpaksa. Dicky mendekati Zahra yang tampak sedang menidurkan Kavi, dia tidak ada merasa terganggu dengan kehadiran Kavi. Dalam hati Dicky mengumpat, tapi ada daya dia tidak berani menantang maunya Rendra.
***
Setelah menikah Dicky dan Zahra tinggal di rumah pemberian Rendra. Setiap pagi Zahra di antar ke kediaman Rendra untuk menjaga dan menemani Dita.
Sedangkan Anggun harus merelakan semua hartaanya hilang, hanya tersisa perusahaan yang Rendra berikan, yang masih atas namanya. Doni kekasih Anggun, harus masuk bui karena telah menghabiskan semua uang Anggun.
Berbahagialah ketika kamu jatuh cinta. Karena di situlah kamu akan memberikan yang terbaik dalam hidupmu. Dari jatuh cinta, seseorang dapat belajar untuk lebih pengertian dan menekan segala keegoisan. Cinta tak pernah memandang harta atau pun jabatan, jika kita mendasarinya dengan ketulusan dan keikhlasan. Cinta itu penuh pemberian, bukan meminta untuk diberikan. Cinta itu penuh ketulusan, bukan penuh dengan paksaan.
TAMAT.
...****************...
Selamat siang. Akhirnya sampai pada penghubung cerita. Terima kasih untuk semua yang selalu setia menunggu novel ini update.
Bonchap akan mama beri di awal bulan depan. Mama akan fokus dulu di novel ONE NIGHT With Ipar. Jangan lupa mampir juga ya ke novel mama itu.
TERIMA KASIH UNTUK SEMUA DUKUNGAN SELAMA INI. Lope-lope sekebon jeruk 😘😘💓💓💓
__ADS_1