(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bab Lima Puluh Tiga.


__ADS_3

Hari ini suasana rumah baru Dita tampak ramai dengan para tamu undangan. Pesta syukuran atas rumah baru dan kelahiran putranya Rendra sedang berlangsung.


Berbagai tamu dari semua kalangan berbaur jadi satu. Tampak juga Dicky dan Zahra yang tampak serasi dengan balutan gaun putihnya.


Setelah acara pesta menyambut kelahiran putranya ini, Rendra dan Dita berencana mengadakan acara lamaran buat Dicky.


Zahra yang dibesarkan di panti, dan menganggap jika ibu panti sebagai ibunya sendiri ingin Dicky melamar dirinya di panti saja.


Hingga sore hari barulah acara syukuran dan pesta penyambutan lahirnya generasi dari Rendra selesai. Acara memang sengaja diadakan cuma hingga sore hari.


Rendra tidak ingin Dita dan putra nya kecapean jika acara diadakan hingga malam hari.


Bonus visual


Rendra



Dita



Kavi



Usia Kavi saat ini telah memasuki bulan ketiga. Putra dari Rendra dan Dita itu tampak sangat lucu dan makin terlihat ketampanannya.


Pagi hari, setelah semua sarapan, Dicky mendatangi Rendra dan Dita yang duduk di sofa ruang keluarga. Dicky ingin bertukar pendapat dengan kedua atasannya itu. Sedangkan Zahra sedang menidurkan Kavi dikamarnya.


"Selamat Pagi, Pak. Apa aku boleh meminta pendapat Bapak dan Ibu Dita?"


"Tentu saja, Dicky. Kamu seperti dengan orang lain saja," ucap Dita.


"Begini Pak, Bu, aku nggak ngerti apa biasanya yang dibawakan buat lamaran?" tanya Dicky.


"Aku nggak tahu. Aku nggak ada acara lamaran. Langsung menikah saja dengan Dita. Kamu tahu itu'kan?" ucap Rendra.


"Saya nggak mengerti bawa apa buat lamaran nanti," gumam. Dicky dengan dirinya sendiri.


"Setahu aku sih bawa saja segala keperluan dan kebutuhan,Zahra. Seperti tas, sepatu dan juga pakaian. Makanan juga biasanya dibawa untuk lamaran. Tapi aku nggak tahu pasti juga karena aku belum pernah di lamar!" ucap Dita.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu mau aku melamarmu? Akan aku bawa semua kebutuhan kamu sekaligus dengan toko-nya," ucap Rendra dan mengecup pipi istrinya itu.


Dicky memandangi apa yang Rendra lakukan pada Dita. Dalam hati pria itu berkata, aku nanti akan lebih mesra lagi dari Bapak.


"Pak, apa aku boleh minta tolong Ibu Dita buat menemani ibu saya untuk membeli semua yang dibutuhkan untuk lamaran?" tanya Dicky dengan hati -hati.


Rendra menatap Dicky intens, membuat Dicky salah tingkah dan menunduk. Dita tersenyum melihat Dicky yang gugup.


"Maaf Pak, saya lancang. Tidak seharusnya minta tolong Ibu Dita," ucap Dicky.


Dita mencubit lengan suaminya, karena telah membuat Dicky ketakutan.


"Jangan takut, Dicky. Aku akan menemani Ibu membeli semua kebutuhan buat melamar. Kamu jangan gugup dan jangan pikirkan. Semua itu menjadi tanggung jawab aku dan Mas Rendra."


Dicky tersenyum semringah mendengar ucapan Dita. Tidak pernah pria itu berhenti bersyukur karena memiliki atasan yang sangat baik seperti Rendra dan Dita.


***


Di kediaman baru Dicky, rumah pemberian dari Rendra, tampak kesibukan dari keluarga inti Dicky dan para tetangga terdekat.


Hari ini lamaran Dicky untuk Zahra akan dilakukan. Semua telah siap. Hantaran yang akan dibawa sangat lengkap. Semuanya di beli dengan uang Dita. Ibu Dicky telah berusaha mengembalikan uangnya tapi Dita tidak menerima bahkan mengancam tidak akan mau ke rumah ini jika Ibu Dicky masih memaksa membayarnya


Yang menjadi juru bicara saat lamaran adalah Rendra. Dicky merasa segan, tapi Rendra sendiri yang meninginkan itu. Dia sebagai perwakilan dari keluarga Dicky.



Visual Zahra.



Rendra menarik napasnya sebelum bicara,"Bunda, Saya mewakili keluarga dari Dicky, datang ke sini buat melamar Zahra, untuk dijadikan pendamping hidup buat saudara saya Dicky. Apakah Bunda bersedia memberikan izin dan restunya bagi Zahra buat dijadikan istri sama Dicky," ujar Rendra.


"Bunda mengucapkan banyak terima kasih buat Nak Rendra dan keluarga. Karena telah sudi dan mau menerima Zahra untuk dijadikan bagian dari keluarga Bunda pada dasarnya memberikan izin serta restu, tapi Bunda juga harus mendengar pendapat Zahra juag. Apakah dia bersedia menerima lamaran Nak Dicky?"


"Bagaimana Zahra, Apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidup Dicky?" tanya Rendra.


"Ya, Pak. Saya siap dan bersedia menjadi Istri Bang Dicky," jawab Zahra.


Lamaran ini dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya keluarga inti dsn beberapa tetangga yang ikut serta.


Dicky menyematkan cincin dijari manis Zahra, sebagai tanda kalau wanita itu telah dilamar. Tanggal pernikahan ditetapkan dua minggu mendatang. Mulai hari ini Zahra kembali tinggal dipanti sampai hari pernikahan.

__ADS_1


Dicky dan keluarga intinya kembali kerumah. Mereka akan memulai persiapan untuk acara pesta pernikahan Dicky dan Zahra yang akan diadakan dihotel milik Rendra


Rendra dan Dicky, tidak mencari pengganti Zahra buat membantu menjaga anaknya. Karena Rendra tidak menginginkannya. Lagi pula Zahra telah berjanji akan tetap membantu Dita untuk menjaga Kavi.


Zahra untuk sementara tinggal bersama bunda dipanti sampai hari pernikahan.Zahra sebenarnya ingin tetap mengasuh Kavi, tapi Dita melarangnya. Biar Zahra bisa mempersiapkan diri menjelang hari pernikahan


Seminggu telah berlalu, Zahra merasa kangen dengan Kavi. Dia mencoba menghubungi Dita.


"Selamat Pagi Bu Dita. Apa kabar Kavi? Aku kangen banget." Zahra memang sangat sayang dengan Kavi.


"Alhamdulillah sehat, kamu apa kabarnya? Jangan terlalu stres ya menunggu hari pernikahan. Dicky tidak akan kabur," ucap Dita bercanda.


"Ibu Dita bisa saja. Aku kangen banget sama Kavi. Apa boleh aku kesana,Bu?" tanya Zahra.


"Kangen ama Kavi, atau dengan Om Dicky?" tanya Dita sambil tertawa.


"Dua-duanya, Bu!" ujar Zahra membalas candaan Dita.


"Yee, sudah bisa jujur sekarang, tapi kamu harus tahan rindunya buat Om Dicky. Saat ini kamu masih masa pingitan."


"Aku jauh lebih rindu dengan Kavi, Bu."


"Tenang nanti setelah pesta prenikahan, kamu masih bisa bertemu. Bahkan nanti akan aku buat Kavi mengganggu malam pertama kalian," ucap Dita dengan tertawa


"Bu Dita bisa aja. Mana bisa Kavi mengganggu, masih kecil."


"Bisa dong! Aku akan tidurkan Kavi di kamar pengantin kalian!"


"Nggak apa, Bu. Palingan Kavi-nya hanya tidur saja."


Tiba-tiba terdengar suara tangisan Kavi, Dita harus menutup sambungan ponselnya.


"Zahra, Maaf ya, aku harus tutupnya. Kavi menangis. Kamu dengar'kan!"


"Baik, Bu. Salam buat Kavi,Bu!"


Sambungan ponselpun terputus. Dita masuk kekamar. Dilihatnya Rendra yang sedang menggendong putranya Kavi.


...***************...


Selamat malam. Selamat beristirahat. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.

__ADS_1



__ADS_2