(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bab Lima Puluh (Bukan) Rahim Pengganti


__ADS_3

Dita saat ini telah dipindahkan ke ruang rawat. Dicky telah kembali bekerja menjalankan perusahaan Rendra. Pria itu memang mempercayakan semuanya dengan Dicky.


"Sayang, apa yang kamu rasakan saat tidak sadarkan diri kemarin? Aku merasa dunia ini berhenti berputar!" ucap Rendra.


"Aku nggak merasakan apa-apa, Mas. Aku seperti tidur yang sangat nyenyak."


"Kamu harus janji tidak akan pernah koma lagi! Aku nggak kuat."


Dita tersenyum mendengar pengakuan suaminya itu. Seorang Rendra yang terkenal kejam, bisa kuatir dan bersedih sebegitu besarnya karena melihat dirinya koma.


****


Keadaan Dita sudah semakin membaik setelah dua hari sadar dari komanya. Rendra dibantu Zahra membersihkan tubuh Dita pagi ini. Hanya Zahra yang diizinkan melihat tubuh istrinya. Rendra memang terlalu posesif.


"Sayang, sekarang giliran aku mandi. Setelah mandi, aku suapin kamu sarapan," ujar Rendra.


"Aku bisa makan sendiri,Mas. Nggak perlu di suapin!" ucap Dita.


"Jangan membantah. Aku nggak mau kamu kembali sakit. Aku mandi sebentar." Rendra masuk ke kamar mandi yang ada di rumah sakit. Kamar yang Dita tempati saat ini fasilitasnya sangat lengkap, sehingga Rendra bisa melakukan semua di kamar.


Rendra yang telah rapi dan wangi, membantu Dita duduk dan menyuapi istrinya. Dita hanya menurut. Jika membantah, suaminya itu akan mengoceh panjang kali lebar.


"Zahra, apa putraku telah tidur? Jika dia tidur, kamu bisa mandi dan setelah itu sarapan," ucap Rendra.


"Baik, Pak. Putra Bapak sudah tidur. Saya mau permisi dulu, mau mandi. Setelah itu saya mungkin langsung ke kantin buat sarapan."


"Ya, Zahra. Terima kasih," jawab Dita.


"Apa Bu Dita mau dibelikan sesuatu dari kantin? Nanti bisa saya belikan sekalian," ucap Zahra.


"Nggak ada, Zahra. Terima kasih. Jika aku menginginkan sesuatu ada Mas Rendra yang bisa belikan."


"Kalau begitu saya pamit dulu."


Zahra memang tidak mau mandi di kamar rawat Dita. Walau Rendra dan Dita meminta. Dia segan menggunakan kamar mandi yang sama dengan atasannya. Zahra pasti pergi ke kamar mandi umum yang ada di rumah sakit.


"Sayang, setelah kamu keluar dari rumah sakit,kita akan adakan pesta syukuran atas kesembuhanmu dan menyambut kehadiran putra kita."

__ADS_1


"Mas,rencananya mau diadakan dimana?" tanya Dita.


"Bagaimana jika kita adakan di hotel atau aula perusahaan?" tanya Rendra.


"Tapi Mas, kalau kita adakan di hotel berarti si kecil akan dibawa kesana. Kalau menurutku bagusnya diadakan di rumah saja. Nggak usah terlalu mewah. Cukup mengundang teman terdekat Mas saja."


"Kalau menurutmu lebih baik diadakan di rumah, ya sudah begitu aja. Aku ngikut mana yang terbaik saja. Namun mungkin bukan di rumah yang kita tempati saat ini."


"Di rumah siapa?" tanya Dita heran.


"Kamu lihat saja besok. Kejutan dariku! Biar nanti aku minta Dicky mengurus semuanya."


"Mas, bagaimana jika pagi hari khusus buat anakn yatim, siang hari baru para tamu yang lain. Tapi jangan terlalu banyak sebar undangan, hanya untuk orang terdekat saja."


"Aku rasa begitu memang lebih baik. Karena putra kita nggak mungkin berlama lama dikerumunan para tamu undangan!"


"Mas, sepertinya Dicky cocok deh dengan Zahra," ucap Dita pelan.


"Nggak boleh jodohin orang. Biar saja mereka jalani semua apa adanya.Jika memang mereka berjodoh pasti nanti akan didekatkan Tuhan!"


"Iya sih, Mas. Cuma aku berpikir jika mereka berjodoh, pasti akan tetap bekerja dengan kita."


"Baguslah, Mas. Susah cari orang jujur seperti Dicky di zaman sekarang. Kebanyakan pengkhianat!"


"Aku tahu, Sayang. Aku telah sering menguji Dicky, dan terbukti memang dia sangat jujur."


"Syukurlah, Mas."


"Sekarang kamu istirahat lah. Mas mau jagain sri kecil." Dicky mengecup pipi Dita.


***


Seminggu telah berlalu, akhirnya Dita diizinkan kembali ke rumah. Dita tampak sangat senang bisa kembali ke kamarnya.


"Mas, aku senang banget, akhirnya dapat kembali ke kamar ini. Aku merindukan suasana kamar ini," ucap Dita bahagia.


"Aku juga sangat merindukan suasana kamar kita ini," ucap Rendra dan langsung merebahkan diri di kasur empuknya.Rendra tidur tengkurap dengan memeluk bantal menghadap Dita.

__ADS_1


"Sayang, aku nggak mau kamu hamil lagi. Cukup satu putra yang menjadi keturunan kita. Aku nggak mau melihatmu terbaring koma dan lemah lagi. Aku takut menghadapi itu," ujar Rendra.


"Mas serius? Kemarin Mas pengin anak yang banyak, biar rumah ramai."


"Besok juga akan ramai jika putra kita telah besar dan membawa teman-temannya bermain ke rumah."


"Semua terserah Mas. Aku ngikut saja apa yang Mas inginkan."


Rendra bangun dari tidurnya dan mendekati Dita yang duduk bersandar di kepala ranjang. Rendra mengecup seluruh bagian di wajah Dita istrinya itu.


"Terima kasih karena telah mau mengandung buah hati kita dan berjuang ketika melahirkan mereka. Kamu adalah istri terbaik dan mommy terhebat buat putra kita. Aku sudah janji tidak akan melakukan sesuatu yang jelek lagi jika kamu sadar. Aku akan mengulang janji yang aku ucapkan ketika kamu tak sadar kemarin," ucap Rendra.


"Janji apa, Mas?" tanya Dita.


"Aku akan meninggalkan kebiasaan merokok, minuman keras dan ke klub untuk selamanya. Aku ingin memberikan contoh yang baik buat putra kita. Dan aku juga ingin menjadi suami yang selalu dapat kamu banggakan," ucap Rendra dan mengecup bibir tipis Dita.


"Mas adalah suami terbaik bagiku, dan juga Daddy terhebat untuk putra kita. Aku yakin si kecil sangat beruntung dilahirkan dari darah Daddy seperti kamu, Mas!"


"Terima kasih, Sayang. Apa kamu sudah mempersiapkan nama untuk putra kita, Sayang?" tanya Rendra.


"Aku ingin memberi nama putra kita, Kavindra Aydin Rafeyfa Zhafran yang memiliki arti seorang pelopor yang cerdas menguasai kata-kata dan selalu beruntung menyakini orang lain. Yang di ambil dari Kavindra (Sansekerta): Penguasa dari puisi-puisi.Aydin (Turki): Cerdas, pinta. Rafeyfa (Islami): Pelopor.Zhafran (Islami): Yang menang, beruntung."


"Nama yang bagus, Sayang. Panggilannya apa, Sayang?" tanya Rendra.


"Panggil aja Kavi, Mas." Rendra mengangguk tanda setuju. Dia memang menyerahkan pada Dita untuk pemberian nama.


Pintu kamar mereka diketuk dari luar. Dita mempersilakan masuk, karena dia tahu pasti Zahra yang membawa putra mereka yang telah mandi.


"Ibu mau menyusui putra, Ibu?" tanya Zahra.


"Iya, Zahra. Sini aku gendong!"


Zahra memberikan putra Rendra dan Dita kepangkuan ibunya. Zahra juga membantu Dita untuk menyusui putranya itu.


...****************...


Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2