
Sinar mentari pagi menyinari kamar yang ditempati Rendra, sehingga pria itu terbangun.
Rendra melihat kesampingnya, tidak tampak Dita dan pandangannya menyusuri seluruh runagan di kamar, namun Dita tidak terlihat juga.
Rendra mencari ke kamar mandi, keberadaan Dita juga tidak terlihat. Ketika Rendra akan melangkah keluar kamar, dia melihat Dita yang berjalan dari balkon sambil memegang pinggangnya. Wajahnya terlihat menahan sakit.
"Aku pikir kamu kemana. Apa pinggangnya sakit, Sayang? Kamu tampak seperti sedang menahan sakit?" tanya Rendra kuatir.
"Ya ,Mas. Dari subuh tadi pinggangku sudah terasa sakit. Tapi kadang hilang, kadang terasa sakit lagi," ujar Dita.
"Apa mungkin kamu akan melahirkan, Sayang?" tanya Rendra lagi.
"Nggak tahu Mas, mungkin juga iya. Menurut Zahra tanda akan melahirkan emang gitu."
"Aku panggil Zahra dulu buat periksa kamu sebelum kita ke rumah sakit."
"Iya, Mas," jawab Dita lemah. Dia masih terus memegang pinggangnya menahan rasa sakit yang terkadang terasa.
Rendra menghubungi Zahra memintanya ke lantai atas langsung menuju kekamarnya. Rendra mengatakan jika Dita merasakan pinggangnya sakit.
Zahra berlari keatas setelah menutup sambungan telepon. Sampai di depan kamar Rendra dan Dita, perawat itu mengetuk pintunya.
"Selamat pagi, Pak. Ini saya Zahra. Apa boleh saya masuk?" tanya Zahra.
"Silakan, masuk saja. Pintu nggak dikunci."
__ADS_1
Zahra membuka pintu dan berjalan masuk dengan tergesa. Sampai dihadapkan Dita, Zahra meminta atasannya itu berbaring.
"Bu Dita berbaringlah,biar saya periksa dulu tensinya, Ibu," ucap Zahra mulai memeriksa kesehatan Dita.
Zahra memeriksa tensi Dita, dan setelah itu dia bertanya frekuensi sakit pinggang yang saat ini Dita rasakan. Setelah memdapatlan jawaban, Zahra juga memeriksa jalan rahim untuk memeriks sudah ada bukaan berapa Dita saat ini.
"Bu Dita sepertinya akan melahirkan ini, Pak. Sudah bukaan dua, sebaiknya kita langsung membawa ke rumah sakit. Ternyata ini lebih cepat seminggu dari HPL," ujar Zahra.
"Baiklah, Saya akan meminta supir siapkan mobil terlebih dulu. Kamu temani Dita di sini."
"Sebaiknya Pak Rendra juga menghubungi dokter kandungan Ibu Dita, agar mempersiapkan ruang persalinan buat Bu Dita. Nanti sampai di rumah sakit kita bisa langsung ke ruang persalinan!" ucap Zahra.
"Baiklah, Zahra. Saya segera hubungi dokter kandungan Dita dulu."
Rendra berjalan tergesa bahkan sedikit berlari ke luar dari kamar. Setelah itu Zahra duduk di tepi ranjang menemani Dita.
Zahra berjalan keluar menuju ke samping, kamar bayi yang telah dipersiapkan Rendra. Setelah bayi lahir, Zahra akan pindah ke kamar bayi, buat lebih mudah menjaganya.
Setelah mengambil pakaian buat Dita dan bayinya. Zahra kembali ke kamar utama tempat Dita dan Rendra beristirahat.
"Pak Rendra bisa tolong bantu Bu Dita menuju mobil. Sepertinya sakit yang Ibu Dita rasakan makin terasa."
Rendra yang cemas dan ketakutan langsung saja menggendong Dita, membawanya turun menuju lantai bawah dan segera masuk mobil yang telah terparkir. Dia meminta supir segera melajukan kendaraannya.
"Mas, kenapa ada air mengalir. Aku pipis ya. Kok nggak sadar tadi,"ucap Dita malu
__ADS_1
Zahra yang duduk di jok depan mendengar itu langsung memandang kebelakang. Dia melihat air yang keruh di kaki Dita.
"Itu air ketuban Bu Dita. Pak bisa nggak dipercepat sedikit jalan mobilnya," ucap Zahra pada supir.
"Apa ini berbahaya, Zahra?" tanya Rendra cemas.
"Nggak apa, Pak. Jangan terlalu kuatir. Bu Dita juga harap tetap tenang. Jika Ibu panik, Ibu akan stres dan itu tidak baik," ujar Zahra.
Setelah sampai dirumah sakit, Zahra mengambil kursi roda dan meminta Rendra menggendong Dita. Zahra mendorong kursi menuju ruang persalinan.
Dita dibaringkan di ranjang pasien menunggu dokter memeriksa keadaannya. Dokter yang akan menangani Dita sahabat Rendra saat sekolah dulu. Namanya Merlin.
"Sayang, kamu harus kuat. Aku percaya kamu bisa menjalani semuanya. Aku sayang banget denganmu,kamu harus berjuang demi bayi kita."
"Ya, Mas. Aku pasti kuat," jawab Dita.
"Aku akan menemani kamu terus disini hingga lahiran, jadi jangan takut," ucap Rendra sambil mengecup dahi dan pipi istrinya itu.
Dokter Merlin masuk dan menyapa Rendra. Setelah itu langsung memeriksa keadaan Dita.
Setelah memeriksa keadaan Dita, dokter Merlin mengatakan pada Rendra jika Dita harus menjalankan operasi karena air ketubannya telah kering sedangkan baru buka dua. Dokter takut akan memengaruhi pada bayinya. Karena dari awal kehamilan air ketuban Dita memang sedikit volumenya.
Dokter meminta Rendra mengurus administrasi dan dia akan mempersiapkan ruangan terlebih dahulu.
...****************...
__ADS_1
Selamat sore semuanya. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.