(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bab Tiga Puluh Tiga. (Bukan) Rahim Pengganti.


__ADS_3

Rendra mengajak Dita untuk berbaring. Pria itu ikut berbaring di sampingnya. Rendra mengusap perut Dita. Lalu mengecupnya.


"Jangan pernah marah-marah lagi. Aku tidak mau kamu dan bayi kita sakit. Yakinlah semua pasti akan selesai. Kamu dan Raffa pasti akan berpisah!" ucap Rendra masih dengan tangan yang mengelus perut Dita.


"Mas, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Dita dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.


"Mau tanya apa?" Rendra balik bertanya.


"Apakah maksud kamu ingin membantu proses perceraian aku hanya demi anak ini. Atau memang kamu memiliki perasaan denganku?" Dita bertanya karena dia masih ragu dengan perasaan Rendra. Walaupun pria itu telah menyatakan cintanya. Dita takut itu hanya perasaan sesaat Rendra karena dia sedang hamil anaknya.


"Aku sudah pernah menyatakan rasa cintaku. Apakah kamu masih tidak percaya dengan ungkapan aku itu?"


"Aku takut itu hanya perasaan sementara karena aku yang sedang mengandung benih kamu. Setelah anak ini lahir perasaan itu perlahan memudar."


"Perasaan seseorang itu emang mudah berubah, untuk itu aku harap kamu dapat memupuk rasa ini agar setiap hari makin tumbuh. Jangan pernah berubah. Tetaplah seperti saat ini. Aku mencintaimu dengan semua sikap kesederhanaan kamu."


Dita memeluk Rendra dan menangis di dada bidang pria itu. "Apakah suatu saat kamu akan menikahi aku? Aku juga mengharapkan kepastian!"


"Ya, setelah proses perceraian kamu dan juga aku beres. Kita menikah!" ucap Rendra.


Dita makin mempererat pelukannya. Tidak pernah Dita berpikir jika dirinya akan menikah dengan Rendra. Dita pikir dirinya idak akan pernah melihat anaknya lagi jika telah pergi.


Setelah memastikan Dita terlelap, Rendra turun dari ranjang. Mengganti pakaiannya dan keluar menuju ruang kerja.Di ruang kerja telah menunggu Dicky. Pria itu ingin melapor semua yang terjadi.

__ADS_1


Rendra membuka pintu dan langsung bertanya, "Bagaimana?" tanyanya singkat. Rendra berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di kursi kebangsaan. Pria itu tampak sangat gagah.


"Sudah beres, Pak. Hanya tinggal daftarkan ke kantor urusan agama," jawab Dicky.


"Kamu urus semuanya. Bagaimana dengan proses perceraianku dengan Anggun?" tanya pria itu lagi


"Bu Anggun menuntut harta gono-goni! Tidak bisa menerima gugatan dari Bapak."


Rendra menarik napas panjang. Ini adalah keputusan terbesar dan terberat yang harus dia putuskan. Dalam Hatinya tidak pernah menginginkan perpisahan. Jika ditanya apakah Rendra masih mencintai Anggun?


Rendra sendiri tidak mengerti. Sebelum kehadiran Dita, Rendra selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Tidak peduli jika Anggun istrinya jarang di rumah.


Namun, kehadiran Dita membuat semua berubah. Perhatian kecil wanita itu menyadari Rendra jika dia juga membutuhkan perhatian dan kehangatan. Apa lagi Dita yang manja, membuat Rendra merasa sangat dibutuhkan.


Satu hal yang paling ditakutkan dalam sebuah hubungan pernikahan adalah perceraian. Tak ada pasangan suami istri yang ingin bercerai. Sebelum melangsungkan pernikahan, keinginan untuk hidup bersama selamanya, menjadi tujuan yang ingin digapai berdua.


Satu hal yang paling ditakutkan dalam sebuah hubungan pernikahan adalah perceraian. Tak ada pasangan suami istri yang ingin bercerai. Sebelum melangsungkan pernikahan, keinginan untuk hidup bersama selamanya, menjadi tujuan yang ingin digapai berdua.


Pernikahan, layaknya hubungan yang lain, seperti pacaran maupun pertemanan, merupakan usaha terus menerus dari dua pihak untuk menjaga kelanggengan hubungan .


Ada berbagai hal yang menjadi pemicu keretakan dalam sebuah hubungan pernikahan, yang berujung pada perceraian. Ketika suami istri sudah tak sejalan dalam hal pandangan hidup, sudah tak lagi saling menghargai, dan yang paling sering kita dengar mungkin adalah muncul ketidakcocokan dalam berumah tangga.


"Apa saja yang Anggun inginkan?" tanya Rendra.

__ADS_1


Rendra ingat saat pertama menikah dengan Anggun bisnisnya belum berkembang seperti saat ini. Anggun banyak menolongnya mengembangkan usaha.


Namun semua berubah sejak perusahaan berkembang dan memiliki banyak cabang. Butik yang Anggun buka juga berkembang dengan pesat, membuat keduanya jarang berkomunikasi. Hubungan makin renggang sejak Anggun keguguran dan kehilangan rahimnya yang harus diangkat.


"Menginginkan rumah dan satu perusahaan cabang di Singapura yang kemarin Bapak urus?" ucap Dicky.


"Jika itu dapat mempercepat proses perceraian, katakan dengan pengacara kota, berikan saja. Dia juga berhak atas hartaku. Anggun banyak membantuku ketika awal berjuang."


"Baik, Pak!"


"Apa Anggun masih berhubungan dengan pria muda itu?" tanya Rendra lagi.


"Masih, Pak," jawab Dicky.


"Aku takutnya pria itu hanya memanfaatkan Anggun. Setelah hartanya habis, pria itu pergi. Bagaimana menurut kamu sebaiknya?" tanya Rendra.


"Kalau begini bagaimana, Pak? Perusahaan itu semua hasilnya memang untuk Bu Anggun. Namun, setiap pengeluaran masih harus persetujuan Bapak. Perusahaan juga masih atas nama Bapak. Jadi semua masih bisa dikendalikan."


"Boleh juga. Aku akan bicarakan semua ini dengan Anggun. Besok ajak dia makan malam."


"Baik, Pak."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2