
Anggun memandangi wajah Dicky dengan mata menyala. Dia seperti ingin memakan pria itu hidup-hidup.
"Apa kau pikir dalam rumah tangga itu kita hanya membutuhkan uang. Aku juga perempuan yang butuh perhatian dan kasih sayang," ucap Anggun sendu.
Anggun menunduk, memainkan jemarinya. Teringat awal dia berselingkuh. Saat itu Rendra sibuk mengurus perusahaan yang sedang berkembang.
Dia bertemu dengan pria itu saat melamar di butik miliknya. Anggun mulai dekat sejak pria itu diterima bekerja. Tiga bulan hubungan makin dekat. Semua kebutuhan dan biaya anak muda itu Anggun yang tanggung.
"Itu bukan alasan bagi Ibu untuk mengkhianati pak Rendra. Seharusnya Ibu bicarakan dengan Pak Rendra."
"Bagaimana aku bisa bicara jika Rendra sendiri jarang di rumah. Kamu pasti tahu gimana aku, Dicky. Ssat dulu kita berhubungan, tidak pernah terbersit di hati ini untuk selingkuh. Walau kamu tidak memiliki apa-apa!" ungkap Anggun dengan air mata yang mulai membasahi pipi.
"Aku tidak ingin bicara masa lalu, Bu Anggun. Itu telah lama berlalu," ucap Dicky datar.
"Seandainya aku tidak kuliah ke luar kota, mungkin aku dan kamu menjadi pasangan suami istri hingga saat ini."
Anggun mengangkat wajahnya menatap Dicky dengan mata melotot.
__ADS_1
"Apa benar kamu telah melupakan segalanya. Aku mengajakmu dan menggodamu lagi karena aku yakin masih ada namaku dihatimu. Jika memang kamu telah melupakan segalanya, kenapa sampai detik ini kamu belum menikah."
"Aku belum menemukan wanita yang cocok!" ujar Dicky.
"Aku, aku wanita yang cocok dan pantas hidup denganmu!" ucap Anggun.
Wanita itu terbayang saat masih Sekolah Menengah Atas dulu, dia dan Dicky menjadi pasangan yang serasi. Banyak teman mereka yang iri.
Saat lulus, Anggun melanjutkan kuliah ke luar kota dan hubungan mereka putus karena Anggun mengenal Rendra dan menikah dengan pria itu.
Namun, sejak Rendra sibuk dengan perusahaan dan mulai mengabaikan Anggun, wanita itu teringat kembali kisah cintanya dengan pria itu.
Anggun mencoba menggoda dan merayu Dicky berharap kisah cintanya dapat terulang kembali.
"Sudahlah Bu Anggun, lupakan semua dan anggap kita tidak pernah kenal. Aku tidak akan pernah mengkhianati orang yang telah menolong nyawa kedua wanita yang paling aku cintai!"
"Bagaimana jika Rendra tahu kita pernah berhubungan dan menjadi kekasih?" tanya Anggun, untuk mengancam Dicky.
__ADS_1
"Silakan ibu katakan, jika ingin aku perlihatkan video saat ibu merayuku. Ibu Anggun, sebenarnya sifat pengkhianat itu audsh ada pada diri ibu. Bukan karena Pak Rendra sibuk. Itu hanya alasan ibu saja!"
Dicky mengingat saat Anggun memutuskan hubungan mereka karena alasan tidak bisa berhubungan jarak jauh. Namun Dicky yakin semua karena Anggun telah mendapatkan pengganti dirinya.
"Sekarang lebih baik ibu tanda tangani surat-surat perjanjian ini. Dari pada ibu tidak dapat apa-apa!"
"Aku akan pelajari dulu dengan pengacaraku!" ucap Anggun dengan wajah marah.
Rendra yang telah membujuk Dita masuk kembali.Pria itu memilih duduk didekat Dicky dan mengajak Dita duduk di sebelahnya.
"Ibu Anggun akan membaca dan mempelajari terlebih dahulu semua berkas ini dengan pengacaranya, Pak!" ucap Dicky.
"Hanya dua hari, jika kamu tidak mengembalikan lagi. Aku anggap kamu tidak setuju! Dita telah capek. Aku harus pulang," ucap Rendra dan mengajak Dita pergi.
Dita pamit dengan Anggun dan menyalami wanita itu. Dengan terpaksa Anggun menyambut.
...****************...
__ADS_1