(Bukan) RAHIM PENGGANTI

(Bukan) RAHIM PENGGANTI
Bab Empat Puluh Empat.


__ADS_3

Tidak terasa kandungan Dita sudah memasuki bulan kesembilan. Selama kandungannya mulai membesar, Rendra mempekerjakan seorang perawat menemani Dita setiap hari.


Perawat itu masih gadis, bernama Zahra. Dita sangat senang, sejak ada perawat itu dia tidak kesepian. Zahra selalu menemaninya.


Rendra juga sangat menyukai cara kerja Zahra. Dia bisa membuat Dita selalu bahagia. Ada saja yang Zahra ceritakan, yang membuat Dita tertawa. Pernah Rendra dan Dita berencana menjodohkan Zahra dengan Dicky.


Zahra juga dibebaskan masuk ke kamar mereka. Dia menemani Dita menonton drama korea.


Mereka berdua juga sering menghabiskan waktu di ruang keluarga menonton dan kadang karaoke berdua. Namun saat Rendra pulang pasti Zahra langsung pamit masuk kekamarnya. Pernah Dita bertanya mengapa dia bersikap begitu.


"Zahra, kenapa setiap Mas Rendra dirumah kamu selalu di kamar, tidak mau gabung menonton dengan kami?" tanya Dita.


"Karena jika Pak Rendra pulang, berarti itu waktunya Ibu bersama Bapak. Saya tidak boleh mengganggu," ucap Zahra dengan senyuman.


Rendra dan Dicky saat ini sedang sibuk sekali. Suaminya itu baru membuka cabang perusahaan yang akan dipimpin langsung oleh Dicky. Rendra memang sangat percaya dengan pria itu.


"Tapi kamu juga nggak mau ikut makan malam dengan kami."


"Pak Rendra pasti lebih senang jika makan malam berdua dengan Ibu saja tanpa ada yang mengganggu."


"Aku pernah tanya dengan Mas Rendra, nggak apa-apa kok kalau kamu ikut makan malam bersama kami. Dia senang denganmu karena bisa menemaniku dirumah, aku jadi nggak kesepian lagi.Mas Rendra juga senang dengan kerjamu, semoga nanti setelah aku melahirkan kamu bisa membantu merawat anakku sampai dia besar," ucap Dita tulus.


"Saya juga senang bekerja dengan Ibu dan Pak Rendra. Bapak juga sangat baik, memberi gaji saya selalu saja di tambah dengan bonus," ucap Zahra. Rendra memang sering menambahkan gaji Zahra karena dia tahu Dita sangat menyukai gadis itu.


"Itu sudah menjadi rezekimu, Zahra."


"Saya selalu mendoakan Ibu Dita dan Bapak Rendra sehat dan dimurahkan rezeki. Ibu dan Bapak sama sama orang baik."


"Terima kasih Zahra atas doanya. Aku juga mendoakan kamu mendapat jodoh yang baik. Kamu sudah punya pacar Zahra?" tanya Dita.


"Nggak ada,Bu.Mana ada waktu saya buat mikirin pacaran Bu," jawab Zahra malu.


"Bagaimana jika kamu dan Dicky lebih mengakrabkan diri. Dicky itu orangnya baik. Walau jarang senyum," ucap Dita teetawa, mengingat Dicky yang selalu bertampang serius.


"Ibu, mana mungkin saya mendekatkan diri dengan Pak Dicky. Nggak pantas, Bu."


"Siapa bilang tak pantas. Dicky itu baik, cocok dengan kamu yang baik juga. Jika kalian berjodoh bisa tinggal bareng di sini!"


"Ibu, jangan bicarakan Pak Dicky lagi. Saya takut Pak Dicky dengar dan marah." Zahra pernah melihat Dicky memarahi pekerja dan dia jadi takut.


"Saya kan hanya ingin mendekatkan. Aku yakin Dicky nggak akan marah.Lagi pula kamu'kan bekerja denganku,jadi apa salahnya kalian lebih saling kenal."

__ADS_1


Dita dan Zahra asyik bercerita tanpa menyadari Rendra yang telah pulang dan berada dibelakang mereka, mendengar semua pembicaraan mereka.


"Sayang, nggak boleh membicarakan orang dibelakangnya," ucap Rendra sambil memeluk pundak istrinya dari belakang dan mengecup pipi Dita.


"Mas Rendra, sudah pulang? Sejak kapan Mas berdiri di sini?"


"Sejak kamu dan Zahra menggosipkan Dicky!" ucap Rendra.


"Jadi Mas Rendra dari tadi menguping kami cerita ya?"


Rendra duduk disamping istrinya itu dan memeluk pinggang Dita. Zahra berdiri, ingin pergi melihat Rendra. yang sudah pulang.


"Mau kemana kamu? Kamu kalau melihat saya seperti melihat hantu, langsung kabur!"


"Maaf Pak Rendra, bukan maksud saya begitu. Saya hanya pamit karena Bu Dita sudah ada yang menemani."


"Zahra, terima kasih karena sudah selalu menemani Dita istriku setiap harinya," ucap Rendra tulus, dia tahu Dita sangat menyukai gadis itu.


"Saya juga berterima kasih banyak karena Bapqk selalu saja memberi saya bonus dan juga selalu memberi bantuan buat adik adik dipanti," ucap Zahra.


Zahra seorang perawat yatim piatu yang tinggal di panti Asuhan. Rendra sebagai donatur tetap di panti asuhan tempat Zahra dibesarkan.


"Bapak, Ibu saya pamit dulu."


"Ya, silakan," ucap Rendra..


"Sayang, kenapa memandangiku seperti itu? Apakah kamu baru menyadari kalau suami mu ini gantengnya maksimal dan baiknya juga selangit?" tanya Rendra.


"Mas Rendra, narsis banget!"


"Ke kamar yuk! Biar aku pijat kakimu. Lihat makin membengkak aja."


"Bukankah kata Dokter ini biasa, Mas."


"Memang biasa, tapi aku ingin memijat kakimu saja."


Jangan khawatir, kaki bengkak saat memasuki usia kehamilan trimester ketiga merupakan hal yang normal dialami oleh ibu hamil. Bahkan, beberapa ibu hamil sudah mengalami pembengkakan pada kaki saat memasuki usia trimester kedua dan semakin membesar saat trimester ketiga.


"Sayang, mulai hari ini aku sudah ambil cuti. Semua kerjaan sudah aku serahkan dengan Dicky. Aku ingin menemani kamu. Aku takut tiba-tiba kamu melahirkan."


"Kapan Dicky bisa memikirkan berumah tangga,Mas. Jika kerjaan yang Mas berikan selalu menumpuk."

__ADS_1


"Biar saja, Dicky senang mengerjakan semua itu."


"Ya lah, nggak mungkin juga dia membantah perintah,Mas."


"Kamu nih, Sayang. Cocoknya kerja di biro jodoh. Tadi aku dengar jamu mau ngejodohin Dicky dan Zahra!"


"Ih, Mas ini. Aku cuma kasihan lihat mereka hanya memikirkan kerjaan, dan mengabaikan masalah pribadinya."


"Kamu jangan pikirkan itu. Sekarang yang perlu perlu kamu pikirkan putra kita. Dalam beberapa hari lagi akan hadir ditengah kita. Aku nggak sabar ingin mendengar suara tangisnya."


"Aku juga sudah nggak sabar, Mas."


"Sayang, sebentar lagi kamu bisa bertemu daddy dan mommy. Kami sangat menantikan kehadiran kamu!" ucap Rendra didekat perut Dita sambil mengecupnya.


"Mas, nanti jika putra kita sudah lahir nggak boleh mengeluh ya kalau harus ikut begadang menjaga nya," ujar Dita.


"Nggak akan, Sayang. Makanya aku cuti dari kantor. Jika ada kerjaan yang harus aku langsung tanda tangani, aku sudah meminta Dicky membawanya langsung ke rumah.Aku kerja dari rumah saja.Ayo ke kamar! Istirahat menjelang makan malam."


Rendra membantu Dita berdiri dan menggandeng tangannya menaiki tangga menuju kamar. Sampai dikamar Rendra meminta Dita berbaring di kasur empuk mereka. Dia menyingkap baju Dita dan mengelus langsung perut istrinya sambil mengecupnya.


"Sayang, setelah kamu melahirkan putra kita ini. Aku ingin kehamilan kedua setelah putra kita sekolah saja!"


"Mengapa? Bukannya Mas pengin memiliki anak yang banyak?"


"Kasihan lihat kamu hamil. Apa lagi setelah perut makin membesar begini. Aku selalu melihat mu gelisah tidurnya. Pasti kamu kesulitan mencari posisi nyaman untuk tidur."


"Tapi aku senang dan menikmati setiap proses kehamilan aku ini, Mas. Ini akan menjadi sesuatu yang akan aku rindukan nanti setelah melahirkan."


"Kamu memang Mommy yang hebat buat anak-anakku!"


"Mas juga Daddy yang hebat dan hero bagi aku serta anakku kelak!"


"Jika nanti aku telah memiliki anak, aku mau waktuku dihabiskan buat anak-anak. Aku nggak mau melewati perkembangan anakku, makanya dari sekarang aku sudah memberi Dicky kepercayaan mengelola perusahaan karena suatu saat aku juga akan mempercayainya buat memimpin perusahaan."


"Mas, aku merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Mas. Aku sayang banget," ucap Dita mengecup pipi suaminya.


"Aku juga sangat menyayangimu, Dita,"ucap Rendra mengecup bibir istrinya.


Rendra terus mengelus perut istrinya itu sampai Dita tertidur. Setelah dirasakan Dita tertidur barulah Rendra ikut memejamkan matanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2