
Pagi hari Dita mengetuk pintu kamar Zaara. Dia baru tahu subuh ini jika Kavi dititipkan dengan pengantin baru itu. Dita memarahi Rendra mengetahui suaminya mengerjai pengantin baru itu.
Zaara membuka pintu dan tersenyum melihat Dita yang berdiri di depan pintu.
"Maafkan Mas Rendra ya, Zahra. Aku baru tahu Kavi dititipkan denganmu. Aku pikir Kavi ada sama ibu Dicky atau bi Sim," ucap Dita merasa bersalah.
"Nggak apa kok, Bu," ucap Zahra.
"Nggak apa-apa gimana? Pasti malam pertama kamu gagal gara-gara Kavi," ucap Dita tersenyum.
"Ibu bisa aja. Aku juga capek, Bu."
"Kavi nya mana? Biar aku bawa ke kamar. Masih jam 5. Masih ada dua jam menjelang pagi," goda Dita.
Zahra hanya tersenyum dan masuk ke kamar menggendong Kavi yang masih tertidur pulas dan menyerahkan dengan Dita.
Setelah Dita menjauh, barulah pintu ditutup kembali. Dicky yang terbangun, memandangi istrinya itu. Zaara duduk di tepi ranjang, tersenyum dengan suaminya itu. Masih terlihat kecanggungan pada dirinya.
Dicky bangun dari tidurnya dan memeluk pinggang Zahra. Dicky mendorong pelan tubuh istrinya ke ranjang dan menjatuhkannya. Saat ini Dicky telah mengkukung Zahra di bawah kuasa tubuhnya.
Zahra menahan tubuh Dicky dengan kedua tangannya. Wajah mereka begitu dekatnya.
Dicky mengecup dahi Zahra. Ciuman itu turun ke mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir ranum Zahra.
__ADS_1
"Kamu ciptaan terindah dari Tuhan untukku. Tak ada cacat yang ku lihat pada dirimu," bisik Dicky dan mengecup telinga Zahra, membuat rasa aneh dirasakan Zahra. Rasa sedikit nikmat.
Tangan Dicky mulai menyentuh bagian sensitif ditubuh Zahra. Dia membuka baju Zahra hingga hanya tertinggal pakaian dalam saja.
Zahra menutup dad* dengan kedua tangannya. Wanita itu malu saat Dicky menatap tubuhnya. Selama ini tak ada pria yang pernah melihat bagian dalam tubuhnya.
"Kenapa memandangiku seperti itu,Bang? Aku malu," lirih Zahra.
"Kamu sangat cantik dalam keadaan begini. Aku nggak sabar ingin memakanmu!" ucap Dicky dengan suara beratnya. Dicky menarik napasnya menahan hasrat yang dari malam telah dia tahan.
"Kamu mau apa?" tanya Zahra lagi.
"Tentu saja mau kamu."
"Nanti malam aja. Ini sudah mau pagi!" lirih Zahra.
"Maksud Bang Dicky apa?" tanya Zahra lagi.
"Jangan tanya maksud aku apa? Yang pasti aku inginkan kamu saat ini juga!" ujar Dicky.
"Aku takut ...!" cicit Zahra.
"Apa yang kamu takutkan? Nanti juga kamu ketagihan!"
__ADS_1
"Kata temanku dulu saat kuliah, pertama kali melakukannya kita akan merasakan sakit."
"Katanya sih iya, tapi aku akan pelan-pelan. Aku tak akan menyakiti kamu. Jika kamu merasa tak nyaman kita berhenti terlebih dulu. Kita tak perlu terburu-buru."
"Aku tak mau nanti orang tau, jika kita telah melakukannya."
"Maksud kamu?" tanya Dicky kurang mengerti.
"Kata teman aku nanti akan terlihat jika kita telah melakukan hubungan badan pertama kali. Jalan kita akan terlihat beda," gumam Zahra, namun masih dapat di dengar oleh Dicky. Pria itu tersenyum mendengar ucapan Zahra.
"Itukan kata orang-orang. Kita coba buktikan sekarang!"
Dicky membuka seluruh pakaiannya. Zahra yang melihat tubuh polos Dicky langsung teriak.
"Bang Dicky ... kamu nggak malu." Zahra langsung menutup kedua matanya.
Dicky langsung membungkam mulut Zahra dengan me*lum*t bibir gadis itu. Dia takut ada yang mendengar.
Zahra yang awalnya hanya diam, mulai terbawa suasana, ia membalas lu*m*tan bibir Dicky.
Saat ini ciuman Dicky sudah turun keleher jenjang Zahra. Ia mengecup, dan menggigit kecil leher itu meninggalkan jejak kepemilikannya.
Ducky membuka pengait kain penutup dada istrinya itu. Ia melemparnya.
__ADS_1
Sentuhannya mulai turun ke dad*. Dan mengecup puncaknya. Zahra mulai tampak terbawa permainan Dicky, tanpa sadar wanita itu men*des*h.
...****************...