
Rendra akhirnya mengajak Dita ikut serta. Kehamilannya yang mulai memasuki bulan ketujuh masih diizinkan dokter buat ikut terbang dengan pesawat.
Hal pertama yang wajib Bumil lakukan sebelum bepergian dengan pesawat adalah berkonsultasi dengan dokter kandungan. Hal ini sebaiknya tetap dilakukan meski Bumil menjalani kehamilan normal.
Waktu yang tepat untuk naik pesawat saat hamil adalah ketika usia kehamilan 13–28 minggu atau trimester kedua. Pada usia kehamilan ini, ibu hamil sudah mulai nyaman dengan kondisi kehamilannya dan risiko keguguran pun terbilang rendah.
Selama kondisi Bumil sehat dan tidak ada komplikasi dalam kehamilan, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan bahaya ibu hamil naik pesawat. Namun, Bumil juga sebaiknya memastikan dulu ke dokter bahwa kondisi Bumil tidak berbahaya untuk bepergian dengan pesawat, ya, apalagi bila jarak tempuhnya jauh.
Sampai di tempat tujuan setelah menempuh perjalanan selama 2 jam di udara, Rendra membawa Dita buat beristirahat.
"Sayang, kamu di kamar aja. Aku dan Dicky akan rapat. Jika lapar tinggal pesan. Jangan seperti dulu. Lapar di tahan!" ucap Rendra mengingatkan kejadian saat mereka liburan dulu.
"Apa rapatnya lama, Mas?" tanya Dita kuatir. Dia takut ditinggal karena tidak pernah menginap sendiri begini.
"Sekitar 4 atau 5 jam kami rapat. Karena banyak yang harus aku bicarakan. Kenapa? Aku nggak bisa bawa kamu karena takut kamu bosan dan juga pasti capek duduk selama 4 hingga 5 jam dan mungkin lebih. Jika kamu bosan bisa keluar ke kamar, tapi ingat jangan kemana-mana. Cukup di hotel saja."
Dita menganggukan kepalanya tanda setuju. Sebelum pergi dari kamar, Rendra sempatkan diri menghubungi Dicky meminta pria itu pesankan cemilan dan buahan buat Dita.
"Aku harus pergi. Rapat akan dimulai. Dicky telah memesan banyak camilan dan buah untuk kamu. Jika ada yang memanggil, buka pintu kamar sedikit saja dan ambil pesanan. Jangan lama. Tutup kembali."
Rendra mengingatkan untuk Dita jangan sembarangan membuka pintu. Intip dulu siapa yang datang sebelum buka pintu. Rendra mengecup dahi Dita sebelum meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
Setengah jam kemudian pesanan camilan dan buah buat Dita datang. Sambil menonton televisi Dita menyantap camilan. Dua jam kemudian perut Dita merasa lapar. Dia pesan makanan dari telepon.
Setelah makan siang, setengah jam kemudian Dita tidur. Sore jam lima, Dita terbangun tapi tidak melihat ada Rendra. Dita masuk ke kamar mandi dan menggenti pakaiannya.
Dita mengirim pesan ke Rendra jika dia keluar dari kamar dan duduk di lobi hotel. Dita duduk sambil memainkan ponselnya. Teguran seseorang membuat Dita kaget.
"Enak banget hidupmu saat ini. Dari seorang perempuan penghibur menjadi majikan. Puas kamu telah menyingkirkan aku?" tanya Anggun.
Mengetahui Anggun yang menghampiri dirinya, Dita menjadi sedikit gugup. Dia takut Anggun berbuat sesuatu. Diam-diam Dita menghubungi Rendra.
"Maaf, Bu. Aku tidak pernah ingin menyingkirkan ibu. Semua ini keputusan dari Mas Rendra." Dita berkata dengan suara pelan. Sambungan ponsel itu telah diangkat Rendra. Pria itu mendengar suara Dita yang sedang bicara dengan seseorang yang Rendra yakin itu adalah Anggun.
Dicky langsung mencari keberadaan Dita. Dari kejauhan Dicky melihat Anggun yang sedang berdiri dihadapan Dita.
"Hhhmmmm ...," dehem Dicky .
Anggun dan Dita kaget mendengar deheman Dicky. Serempak keduanya memandang ke arah asal suara.
"Ternyata seorang penjilat dan pengawal Rendra datang untuk melindungi majikan barunya!" ucap Anggun dengan sinis.
Dicky memegang pergelangan tangan Dita mengajaknya berdiri untuk meninggalkan tempat itu. Namun, Anggun menahan tangan Dita satu lagi.
__ADS_1
"Jangan pergi dulu. Aku hanya ingin mengingatkan kamu jika anak yang ada dalam kandunganmu itu adalah milikku. Setelah lahir, aku akan bawa dia pergi!" ucap Anggun.
Dita kaget mendengar ucapan Anggun. Dita tidak percaya apa yang Anggun katakan. Tidak mungkin dia harus menyerahkan anaknya dengan wanita seperti Anggun. Rendra harus menjelaskan semua ini.
...****************...
Selamat Siang semuanya. Semoga kita semua dalam lindungan Tuhan.
Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.
Blurb:
Tersasar di hutan, membuat Tresi bertemu dengan pria yang menjadi impiannya. Pria itu bahkan menolongnya dari kumpulan serigala liar. Tresi pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa basa basi, Tresi menyatakan cinta pada pria yang baru dikenalnya tadi.
Sayang, pria itu menolaknya. Tak pantang menyerah, Tresi memilih mencium pria itu. Saat itu, mutiara kehidupan milik Bima, pria yang Tresi cium, berpindah padanya. Mau tidak mau, Bima harus mengambilnya lagi. Jika tidak, hidupnya akan berakhir dalam satu tahun.
Bagaimana cara Bima mengambil kembali mutiara kehidupannya? Apakah Tresi akan tetap mencintai Bima, jika ia tahu Bima adalah manusia serigala? Akankah takdir mempersatukan mereka?
Terima kasih.
__ADS_1