3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Pertemuanku dengan Rania


__ADS_3

    Aku dan Radit sudah sampai di gelanggang olahraga, dengan mengayuh sepeda selama tiga puluh menit. Ternyata teman-teman yang lainnya juga sudah datang duluan. Bukan hanya siswa yang akan main pertandingan basket, tapi para siswa yang mendukung sebagai penonton juga sudah banyak yang datang.


    Aku dan Nino berjalan memasuki gelanggang olahraga paling belakangan. Karena Nino harus membantu Guru olahraga kami, membawakan air minum dan manisan buah lemon. Ternyata kita berdua tersesat saat masuk ke kamar ganti. Kita malah masuk ke kamar ganti sekolah lawan, yang sedang merencanakan strategi yang akan mereka gunakan.


    Semua mata yang ada di dalam ruang ganti itu memandang ke arah kami dengan pandangan terkejut, kemudian berubah menjadi tatapan tajam.


" Eh, maaf. Sepertinya kita salah masuk!" kataku sambil tersenyum kikuk, lalu cepat-cepat keluar dari sana dengan menarik tangan Nino.


Nino tertawa," Tadi kita salah masuk kamar ganti,ya?"


     Nino dengan tampang tanpa dosa, malah tertawa. Jelas-jelas dia yang masuk duluan ke kamar ganti itu. Tapi hanya aku yang meminta maaf kepada mereka.


" Kamu itu sudah tahu salah, kenapa tidak meminta maaf kepada mereka!" balas aku atas pertanyaan dari Nino barusan.


" Hehe… maaf!" 


" Bukan sama aku! Tapi sama mereka!"


    Aku dan Nino kali ini benar masuk ke dalam ruang ganti kami. Dimana semua teman-teman telah menunggu, untuk membicarakan tentang strategi yang akan tim kita gunakan. Aku mengeluarkan sebuah strategi yang bisa dilakukan oleh anak-anak berusia tingkat SMA.


    Aku membuat strategi sederhana, agar teman-teman yang lainnya mudah saat menjalankannya. Dan ide dari strategi ku, disetujui oleh semua orang, baik guru maupun anggota tim basket.


    Karena masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum, acara dimulai. Aku izin dulu ke kamar mandi. Karena merasa ingin buang air kecil, sudah menjadi kebiasaan dari kehidupan dahulu. Aku selalu ingin kencing dahulu, sebelum setiap menjalani pertandingan.


    Saat aku keluar dari kamar mandi, dan berjalan dengan langkah santai. Aku bertabrakan dengan seorang murid perempuan dari sekolah lawan. Karena gadis itu memakai baju olahraga sekolah lawan.


" Maaf!" Katanya sambil menundukkan kepalanya.


" Ya, lain kali berhati-hatilah."


     Aku pun berencana akan berjalan lagi menuju ke area lapangan, tempat berlangsungnya pertandingan.

__ADS_1


" Tunggu!" Gadis tadi meneriaki aku yang baru saja melangkahkan kaki beberapa langkah.


" Ada apa!" Aku sangat kesal,dan membalikan lagi badan ku menghadapnya.


" Ini punya kamu?" Gadis itu memberikan sebuah gantungan berbentuk anak anjing berwarna putih kepadaku.


    Aku pun baru menyadari kalau gantungan tas milikku terlepas. Aku pun mengambilnya dan mengucapkan terima kasih, kepada gadis cantik yang ada di depan aku itu. 


" Boleh kenalan?" ucapnya lagi kepadaku.


" Raja," kenalku kepadanya, sambil mengulurkan tangan milikku.


" Rania," balasnya sambil menyambut uluran tanganku.


    Saat dia menyebutkan namanya, jantungku berdetak sangat kencang. Sampai terasa sangat nyeri, tapi ada rasa bahagia. Aku masih saja menggenggam tangannya, sambil melihat wajah gadis cantik di hadapanku saat ini.


    Rania, namanya sama dengan nama  istriku yang sangat aku cintai. Tapi dia harus meninggal karena rasa depresi, saat kami kehilangan putra kedua kami.


" Senang bisa bertemu denganmu."


   Aku dan dia berkata bersamaan. Kemudian kita tertawa bersama.


Aku senang ini merupakan pertemuan pertama kali dengan Rania di kehidupanku sekarang. Dan ini lebih awal dari pertemuan ku dengan Rania dari kehidupanku sebelumnya.


     Berbeda dengan di kehidupanku yang dahulu. Aku bertemu dengan Rania saat pertandingan bola basket antar fakultas, waktu kita saat kuliah.


*****


    Pertandingan persahabatan basket antar sekolah pun dimulai. Seperti biasa Nino yang paling jago di antara kami. Dia bisa memanfaatkan tubuhnya yang tinggi untuk memblok lemparan bola lawan saat akan masuk kedalam ring. Nino juga sering mendapatkan nilai three point untuk lemparan bolanya ke dalam ring lawan.


    Sorak-sorai suara teman-teman satu sekolah kami, membuat kami semakin bersemangat. Aku juga tidak mau kalah dengan Noni. Beberapa kali aku berhasil mencetak tiga poin untuk lemparan kedalam ring lawan. Setiap aku memegang bola, maka para penonton akan meneriakkan namaku. Begitu juga dengan teman yang lainnya. Nama mereka akan disebut saat memegang bola di tangannya, untuk memberi semangat kepada mereka agar bisa mencetak poin.

__ADS_1


    Tidak terasa babak pertama sudah berakhir, dan kini tim aku beristirahat sejenak begitu juga dengan tim lawan. Aku melihat ke arah Rania yang sedang duduk di tengah-tengah murid sekolah lawan. Pandangan kami saling beradu, dan kulihat dia tersenyum dan tersipu malu kearahku.


    Pertandingan persahabatan antar sekolah di menangkan oleh sekolahan kami, dengan skor menang telak. Kami menyambut gembira kemenangan ini. 


     Saat aku akan pulang, di seberang jalan ada Rania dan teman-temannya sedang duduk di terminal bus. Sepertinya Rania tidak membawa kendaraan. Maka aku pun menghampirinya, dan mengajaknya pulang bersama. Karena sepeda milikku ada jok penumpangnya. Waktunya juga sudah sangat sore, sebentar lagi langit akan gelap.


   Aku dan Rania bersepeda menuju rumah Rania, ternyata rumah lumayan jauh. Rumah dia berbeda dengan rumahnya saat dia berpacaran denganku dulu.


" Raja terima kasih," ucapnya dengan tersenyum manis.


" Sama-sama. Aku pulang dulu, ya!" balasku sambil tersenyum dan menatap wajahnya yang merona.


    Hatiku senang sekali, perasaan ini berbeda dengan perasaanku dahulu. Ada rasa kerinduan yang membuncah di dalam diriku saat aku bersamanya. Perasaanku untuknya kini terasa berkali-kali lipat.


" Hei, kenapa kamu baru pulang!" Terdengar suara teriakan lelaki dengan suaranya yang serak.


" Dasar anak kurang ajar, bukannya mencari uang, kamu malah enak-enakan bermain, hah!" suara bentakannya sangat memekakkan telinga.


    Aku urungkan niatku untuk mengayuh sepeda kembali. Aku lihat Rania sedang dimarahi oleh laki-laki paruh baya. Di depan pintu masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu menunjuk-nunjuk kening Rania sampai kepalanya terdorong ke belakang. Aku rasanya ingin berlari ke rumah Rania saat ini juga. Tapi aku yang sekarang masih belum punya hak untuk ikut campur masalah Rania.


    Aku putuskan tetap disini dahulu untuk memastikan kalau Rania baik-baik saja. Aku duduk di dekat bangku di taman yang dekat dengan rumah Rania. Di sini aku bisa mengawasi rumah Rania dengan leluasa. Sampai jam sembilan malam aku duduk disana. Aku baru pulang, setelah merasa tidak akan ada apa-apa yang terjadi kepada Rania.


    Aku kurang begitu tahu kehidupan Rania sebelum dia menikah denganku dahulu. Bahkan laki-laki paruh baya tadi pun aku tidak mengenalnya. 


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2